Edited by Chela. Diberdayakan oleh Blogger.

Mie Tek...Tek

agak buram (kamera hape)
Menyusuri malam di kota Purwodadi  kali ini terasa sedikit beda. Nggak biasanya Purwodadi terasa dingin udaranya. Saya dan bapak tadi berkeliling dengan niatan dari rumah untuk membeli makanan kesukaan saya. Bagi orang Purwodadi pasti sudah nggak asing lagi dengan yang namanya Mie Tek..Tek.
 Entah bagaimana sejarahnya dibilang  mie tek..tek.. Setau saya ini juga dari cerita bapak, penjualnya itu menggunakan cara memukul-mukul  penggorengan untuk menarik pembeli. Kalau penggorengan dipukul secara otomatis akan keluar suara tek..tek..tek.. Atau dengan menggunakan bilah bambu tipis yang dipukul dengan gaya si penjual sehingga bisa menghasilkan suara tek..tek.. apapun itu saya tetap mengenal makanan ini adalah mie tek..tek.
Makanan ini cukup terbilang makanan merakyat dan proses pembuatannya masih dengan menggunakan cara sederhana. Keunikan dari hidangan mie tek..tek  yaitu :
  • Tampilan gerobagnya kebanyakan masih memakai gerobag dorong dan biasanya berkeliling di sekitar komplek rumah. Tetapi sekarang banyak juga penjual mie tek..tek yang menetap di suatu sudut  di kota ini. 
  • Ciri yang paling khas adalah suara tek..tek.. dari pukulan penggorengan yang dipakai si penjual atau bilah bamboo tipis.  
  • Perangan yang dipakai penjual juga masih tradisional yaitu dengan menggunakan lampu teplok atau lampu sentir.
  • Memasaknya pun menggunakan tungku arang, jadi membutuhkan sebuah kipas kecil agar arang tetap menyala. Dan kata ibu memasak dengan menggunakan tungku arang akan menghasilkan cita rasa yang khas jika dibandingkan memasak dengan kompor. 
  •  Pembungkusnya masih menggunakan daun pisang, jadi menambah aroma alami dari hidangan mie tek..tek.
  • Nah yang terakhir ada sate sebagai pelengkap mie tek..tek dan kalau ingin hidangan dengan rasa pedas, penjualnya sudah menyiapkan ceplusan cabe rawit di piring kecil.
Sedikit ulasan soal mie tek..tek khas Purwodadi. Apakah di tempat tinggal teman-teman ada makanan unik seperti mie tek..tek? Kalau ada, kirim satu yah buat saya..he..he..he…
Salam 



Rapor

bintang kelas *peringkat 1 sedang absen
Hari ini bagi saya luar biasa. Saya kembali membuktikan perkataan sahabat blogger saya yang kece om NH tentunya. Sama sekali gak ada yang meleset. Apa om NH ini berprofesi sampingan sebagai peramal yah??hihihi


Pagi tadi anak-anak sudah menerima hasil belajaranya dan mereka mulai senin akan menikmati liburan selama 3 minggu. Dengan didampingi orang tua masing-masing mereka menerima hasil keringat dan jerih payah mereka selama semester genap ini. Tidak lupa dari pihak sekolah memberikan sedikit tanda kasih untuk peringkat 1 sampai dengan 3. Alhamdulillah anak-anak naik kelas semua, meskipun ada satu dua anak yang naik dengan nilai pas.


Grogi, takut, deg-degan semuanya campur aduk menjadi satu. Ini kali pertama saya berhadapan dengan orang tua dan dituntut untuk mempertanggungjawabkan hasil setiap anak. Tentu saya mendapat complain dari orang tua murid diantaranya :

  1. Saya menerima masukan dari ibu si Arinta yang kebetulan menjadi juara 1 di kelas. Beliau menyampaikan apa yang dimau si anak “maaf bu, Arinta bilang sama saya kalau nanti kelas 3 maunya gurunya sama ibu. Katanya ibu selalu nemenin anak-anak di kelas, jarang ditinggal pergi, kalau ke kantor juga cuma waktu istirahat. Anak saya seneng bu malahan. Jadi mintanya nanti kelas 3 ibu lagi yang ngajar.” 
  2. Selain itu ada juga complain dari ibu si Galih yang kebetulan jadi juara 2 di kelas “ anak saya kalau dirumah gak mau belajar buk. Katanya belajarnya enak disekolah sama bu guru." 
  3. Masih ada lagi complain dari ibu si Adhit yang kebetulan meraih peringkat 6 “ anak saya hasilnya gimana bu, kalau dikelas nakal atau tidak? Soalnya dirumah kalau saya suruh belajar selalu bilang ah buk gampang pokoknya soal-soal ini. Bu guru sudah sering ngajari di kelas, tapi bu guru kadang galak.”


Ini hal baru bagi saya. Dan sampai saya buat postingan ini saya menerima sms dari orang tua murid les yang isinya mengucapkan terimakasih karena anaknya sudah dibantu belajarnya. Dan si anak berhasil menjadi bintang kelas. Dan siang sepulang dari sekolah saya mendapat telefon dari orang tua murid les juga intinya sama mengucapkan terimakasih meskipun hasil si anak ada sedikit penurunan. Sekalipun hanya ucapan terimakasih namun saya merasa ini adalah hal yang tidak bisa di beli. Bahagianya menjadi seorang guru ya ini nduk, disaat mereka mengucapkan terimakasih sama kamu (bapak:red)


See om Nh. Hari ini aku membuktikan perkataan om, dan ini sama sekali tidak ada yang meleset. Sungguh menjadi seorang guru itu sesuatu yang sangat luar biasa. Apa yang akan terjadi esok hari? Tunggu ceritaku selanjutnya ya om. he..he...he..


Nah, bagaimana dengan teman-teman blogger, apakah kepuasan itu hanya bisa didapat dari hal yang hanya berbau materi? Hari ini saya membuktikan sendiri, ternyata TIDAK!! Saya membuktikan bahwa INI LHO INDAHNYA BERBAGI dan MELAYANI.

Geguritan (Puisi Jawa)

PANGUDARASA SEPALA 

anggitanipun: Kusdijanto, S.Pd


Ya gene kahanan saiki

Akeh wong – wong kang ora peduli

Marang kawujudan sabenere

Ya apa klakon, bangsa kang mandiri iki dadi ringkih?

Ora, aku kudu wani!

Babagan kang tumuju marang kamulyan

Ayo – ayo – ayo kanca!

Gumregah ndepani kemajuan iki

Aku lan sliramu dadi pangarep

Mugo bisa mujudake gegayuhaning bangsa


*********

Ini hasil karya bapak yang rencananya akan saya tampilkan di perpisahan anak-anak kelas 6. Dengan mengangkat kebudayaan daerah (Jawa) semoga generasi muda sadar akan pentingnya melestarikan budaya yang bisa menjadi aset berharga bangsa. Kalau bukan KITA....siapa lagi? 

Yuk mari, kita bersama - sama NGURI URI KABUDAYAN JAWI :)





Salam 

Belajar Secara Nyata

Melihat dan memperhatikan usia dan tahapan perkembangan anak tentunya sangatlah dibutuhkan bagi seorang pengajar. Seperti yang sahabat blogger saya bilang “anak-anak itu memang seperti spons, apalagi anak kelas 2. Mereka akan menyerap sebanyak-banyaknya dari apa yang kita ajarkan”. Secara tidak langsung kita sebagai guru adalah role mode bagi anak-anak.
 
Hal ini saya jumpai sendiri disaat saya mengajarkan konsep operasi bilangan yaitu perkalian dan pembagian. Begitu saya menerangkan anaka-anak terlihat memahami materi perkalian saat itu. Namun ketika saya uji dengan sebuah soal yang ada hasil dari 2 x 1 = 3 bukan 2 x 1 = 2. Saya memaklumi itu karena saya rasa bahasa saya terlalu sulit dipahami mereka. Sayapun teringat pesan dosen saya Pak Yustinus masternya matematika. Beliau pernah berpesan “ anak-anak itu berpemikiran konkret, artinya mereka membutuhkan bendanya langsung atau bantuan berupa gambar. Kalau kalian mengajar hanya dengan tulisan atau omongan saja pasti  akan lebih mudah  lupa”. Akhirnya saya siasati untuk mengajarkan ulang konsep perkalian itu. Saya meminta salah satu anak yang bernama Galih untuk maju ke depan kelas. Teman-teman yang lain saya suruh untuk memperhatikan setiap anggota tubuh Galih. Disini saya menekankan pembelajaran tematik dengan tema anggota tubuhku. Saya meminta anak untuk menyebutkan ada berapa mata Galih, hidung, mulut, telinga, tangan,dan seterusnya. Kemudian saya meminta Arinta untuk menemani Galih maju ke depan kelas. Pertanyaan saya rubah “ada berapa mata mereka?” riuh mereka menjawab “empat, bu guru” dan sayapun kembali menanyakan “darimanakah empat itu, anak-anak?” salah seorang dari mereka menjawab “matanya arinta ada 2 dan matanya Galih ada 2. Jadi semua ada 4”. 
Nah, dari anggota tubuh galih dan Arinta itulah saya menekankan konsep perkalian yaitu penjumlahan bilangan secara berulang. Jadi jika 2 x 1 = 2 maka mereka mengerti karena saat itu Galih sedang berdiri sendiri jadi dengan melihat jumlah mata Galih. Dan jika 2 x 2 = 4 maka anak akan mendapatkan konsep dari jumlah mata Galih ditambah jumlah mata Arinta. Jadi 2 x 2 = 2 + 2 = 4.

 
 Pernah saya menemukan seorang anak yang bernama Tama belajar mengerjakan pembagian. Dia membuat garis-garis yang dia sebut jiting (lidi). Begitu saya tanya “dari mana kamu dapat cara itu nak?” dan dia menjawab “ibu ngajari saya dirumah pake jiting bu, terus kalau di sekolah saya disuruh gambar jiting itu. Biar hitungnya nanti gampang”. Super sekali dan sayapun menularkan ilmu anak itu kebetulan waktu kecil bapak mengajarkan saya juga sama dengan cara ibu Tama. Alhasil sampai kemarin pelaksanaan UKK mapel Matematika anak-anak dikelas menerapkan cara jiting itu. 
cara jiting ala Tama
 Sedikit dari saya bahwa pertama yang harus kita ajarkan kepada anak adalah dengan memberikan gambaran nyata dari konsep yang akan diajarkan. Menerapkan Teori Bruner dalam konsep pembelajaran matematika adalah anak itu memiliki 3 tahapan yaitu Tahap Enaktif dalam tahapan ini anak akan mengotak atik objek dan anak akan mengasah keaktifannya dalam mengenali objek. Tahap Ikonik dimana suatu tahap pembelajaran sesuatu pengetahuan di mana pengetahuan itu direpresentasikan (diwujudkan) dalam bentuk bayangan visual (visual imaginery), gambar, atau diagram, yang menggambarkan kegiatan kongkret atau situasi kongkret yang terdapat pada tahap enaktif dan Tahap Simbolik dimana anak sudah memaipulasi dari objek yang mereka serap dalam dua tahapan sebelumnya.

Semoga artikel tanggapan ini bermanfaat bagi sahabat semuanya.

Artikel  ini untuk menanggapi artikel BlogCamp berjudul "Cara Mengajar dan Melatih Yang Membumi" tanggal 14 Juni 2012

Salam  -Si Guru Kecil-

Mendikte Anak?


Waktu kecil pernah nggak kita mengikuti sebuah lomba mewarnai?
Atau waktu kita sekolah dulu bapak ibu guru pernah ngajari kita mewarnai?
Kalau masih ingat pasti sering didengar dulu bapak ibu guru atau orang tua bilang “kalau daun itu hijau, tanah itu coklat, awan itu biru, blablabla”. Sebagai pengalaman saya dulu diarahkan seperti itu. Dan sampai saat ini masih melekat diotak saya kata-kata seperti itu.

Bicara soal seni dan salah satunya seni rupa, saya memang tidak jago. Tapi setidaknya saya bisa dan mengerti sedikit mengenai hal itu. Disekitar kita kalau kita perhatikan secara seksama alam itu tak melulu seperti apa yang dikatakan orang tua saya. Saya sering menjumpai awan berwarna hitam, abu-abu, ungu, orange, merah. Daun juga gak melulu hijau dan tanah juga gak melulu coklat. Pesan saya adalah jika kita mengajarkan hal kepada anak, bebaskan mereka berekspresi sesuai dengan perkembangannya.


Sebuah hal yang saya pelajari hari ini saat penyelenggaraan lomba mewarnai tadi, banyak diantara anak-anak yang berbakat mewarnai dan menggambar harus terhalang dengan kata diskualifikasi. Disayangkan memang, karena disitu saya dan teman-teman panitia terutama sie acara menemukan beberapa orang tua khususnya ibu ikut andil dalam kreasi si anak. Si ibu mendikte anak “daunnya ijo dek, langitnya biru, bajunya itu nanti kuning, goresannya kurang tebel” dan seperti itulah. Tentu dalam peraturan lomba orang tua dilarang membantu anak, tapi mungkin ini pemikiran si orang tua bahwa “anakku harus juara” namun yang ada anaknya malah menjadi korban. Dalam lomba tentu sportifitas harus dijaga, dan tata tertib ada bukan untuk dilanggar.


Saya hanya ingin berpesan kepada para Bunda hebat di negeri ini. Terkesan sok tau tapi saya juga harus belajar bahwa anak-anak itu unik. Akan sangat berdosa kalau kita menyamaratakan anak-anak yang kita hadapi. Mereka memiliki keunikan masing-masing. Begitupula dengan bakat anak pasti juga berbeda. Jangan dikte mereka untuk menjadi apa yang kita (orang tua) mau, tapi tuntun mereka menjadi apa yang mereka mau dan cita-citakan. Kata leader saya Hargai anak-anak sekecil apapun dengan begitu dirinya akan merasa orang-orang disekitarnya menyayangi dan memperhatikannya. 


Sedikit dari saya untuk orang tua hebat di negeri ini..Semoga bermanfaat :)

Salam



Benar Benar Mahal

Menjelang ujian kenaikan kelas tingkat SD saya gencar mengadakan latihan ulangan harian. Gunanya apa, saya ingin membekali mereka dan kembali mengulas pelajaran yang sudah lalu. Pas giliran pelajaran IPA saya memberikan 10 soal di papan tulis. Dan mereka harus mengerjakan di buku tumpukan bersampul coklat itu. Sengaja memang saya beri materi yang bersifat umum agar pengetahuan mereka bertambah juga.

Di papan tulis terdapat soal seperti ini “Pemerintah saat ini sedang mengadakan sosialisasi penghematan BBM. Apakah kepanjangan dari BBM?”  dan ternyata gegerlah seisi kelas itu “aduh, opo yo BBM kui?” selang berapa saat ada yang nyeletuk “kui lho belekberimesengger” dan yang lain menjawab “kui kan hp to, ora kui” dan akhirnya ada yang bertanya kepada saya yang masih menuliskan soal di papan tulis “maaf bu guru BBM itu apa re, bu?” sambil menahan tawa sayapun menjawab “maaf ya anak-anak, kalau ibu jawab sekarang namanya bukan latihan ulangan. Coba ya dikerjakan sebisa anak-anak dulu baru nanti kita bahas, OK!” serentak mereka menjawab OK dan suasana kelas menjadi sedikit hening.

Sekitar 35 menit saya memberi waktu mereka untuk mengerjakan 10 soal IPA itu. Dan tibalah saatnya untuk mencocokkan dan saya melatih kejujuran mereka dengan mencocokan pekerjaan sendiri. Satu per satu pertanyaan dijawab dengan mulus oleh anak-anak. Nah, tiba di soal “Pemerintah saat ini sedang mengadakan sosialisasi penghematan BBM. Apakah kepanjangan dari BBM?”  saya tak kuasa untuk tertawa lepas dihadapan anak-anak. “hayo anak-anak kepanjangan dari BBM adalah…” seorang anak cerdas bernama Arinta menjawab dengan lantang “Benar Benar Mahal, bu guru” langsung saya kroscek “nak, kamu mendapat jawaban itu dari mana?” alhasil sebuah rasa bangga menyeruak di dada saya. Anak itu menjawab “saya nyari sendiri bu, ya gabung-gabungin kata begitu terus dapetnya ya Benar Benar Mahal, kan pas di TV ada demo tulisannya juga kayak gitu”.

Geli rasanya mendengar penjelasan Arinta, tapi bagaimana lagi itu jawaban super seorang anak kelas 2 SD loh. Dengan sedikit menahan tawa saya menjelaskan dengan pancingan-pancingan contoh dari BBM itu. Dan akhirnya ada anak yang menjawab “BBM itu Bahan Bakar Minyak bukan sih buk? Kok itu contohnya ada bensin, solar.” Akhirnya penjelasan dari saya berbuah manis. Saya pun menjelaskan “jadi anak-anak BBM itu singkatan dari Bahan Bakar Minyak yang sekarang ini memang harganya Benar Benar Mahal. Diingat-ingat ya BBM itu adalah…” serempak mereka menjawab Bahan Bakar Minyak. Sambil berlalu saya pun menjawab Bahan bakar minyak yang benar benar mahal. Dan riuh tawa mereka menghiasi kelas yang hari itu disibukan dengan latihan ulangan harian.
 ****
Lalu, apa kepanjangan BBM menurut teman-teman?