8 Oktober 2012

Sedekah Bumi

foto diambil dari www.google.com :)
Tak seperti biasanya hari ini sekolah pulang lebih awal, yaitu pukul 11.00 wib. Berbeda pula dengan hari-hari sebelumnya, dirumah banyak sekali mendapat kiriman daging sapi hasil pembantaian warga sekampung. Menu masakan ibu jug hari ini berbeda. Cukup spesial dan lumayan banyak. Begitu pulang dari sekolah saya langsung nyamperin ibu di dapur. "kenapa masak banyak gitu sih buk?" dan ibupun menjawab "hari ini ada sedekah bumi, nduk". 


Ternyata obrolan di kantor pun pagi tadi tak jauh dari Sedekah Bumi. tergelitik dalam otak saya, apa sih sedekah bumi itu. Pengalaman pribadi saya, dulu waktu kecil setiap kali ada acara sedekah bumi, seantero desa berkumpul dilapangan dengan membawa nasi lengkap dengan tetek mbengeknya. Yah bahasa kerennya sih "bancakan" atau kenduren or kenduri gitu lah. Kenduren itu dilakukan biasanya sore hari gitu, nah tuh tetua-tetua desa pada nongol sambil "ngepungke" bancakan itu tadi.

Lanjut ke apa sih sedekah bumi itu, menurut pemikiran saya sedekah bumi itu salah satu acara penghormatan kepada bumi dan seisinya karena sudah bersedia menyediakan apa yang makhluk hidup butuhkan. Seperti udara, air, tanah, bahkan bahan makanan, lahan pertanian, lahan pemukiman dan banyak lagi. Secara adat jawa acara sedekah bumi ini ditujukan untuk mensyukuri bumi agar senantiasa memberi keselamatan kepada makhluk hidup dan seisinya. Bisa dikatakan ini adalah acara sebagai pengucapan syukur kepada Tuhan atas bumi dan seisinya. Nah, bermacam versi mengenai sedekah bumi itu bisa dicerna sendiri bukan.

Lalu, apa saja wujud perayaan syukur itu?
Sudah saya singgung diatas, biasanya diadakan syukuran "bancakan" atau kenduri di masing-masing desa. Bahkan ada pembantaian  sapi yang nantinya daging itu dibagikan kepada semua warga desa, ada juga sampai ke perayaan yang cukup besar yaitu dengan mengadakan tontonan khas dari masing-masing daerah. Seperti di desa tempat saya mengajar, siang ini tadi sudah ada acara wayangan. Di desa teman saya kemarin ada acara Langen Tayub yang menjadi budaya paling fenomenal di kabupaten Grobogan. Perayaan itu berbeda tergantung bagaimana tradisi di setiap desa. Tapi kali ini di desa saya sepi-sepi saja tanpa adanya pertunjukan yang bisa dinikmati warga. Hanya ada acara sembelih sapi dan itupun alhamdulillah dapat dinikmati semua warga.

Harapan saya untuk bumiku ini tidaklah muluk-muluk, cukup dengan memberikan kedamaian bagi semua penghuninya, baik itu untuk udara, air, tanah, lahan pertanian, pemukimannya. Memang sih dirasa simple. Namun kalau kita sadari, sebenarnya bumi juga bisa protes kepada kita. Seperti yang dirasakan bapak dan para petani Grobogan baru-baru ini, lahan pertanian gagal panen karena keadaan tanah yang kering, banyak sekali hama tikus. Yah, itu semua memang teguran "kecil" yang berdampak cukup fatal. Sayangi bumi kita dengan Go Green. Baik itu bikin halaman rumah serindang mungkin dengan macam-macam bunga dan pepohonan, kalau perlu sekalian penghijauan di lahan  hutan  gundul.

So, itulah Sedekah Bumi di daerahku. Yuk kita sayangi bumi. Berterimakasih lah kepada Tuhan yang sudah menciptakan bumi dengan isinya sehingga makhluk hidup dapat menikmatinya. INGAT, menikmati tetapi harus bertanggung jawab menjaga bumi juga lho ya. :)

Semoga bermanfaat teman :)
Salam saya 

9 komentar:

  1. setiap daerah punya cara untuk mengekspresika rasa syukur thd bumi dg cara menarik ya.. termaus budaya yg perlu di lestarka sekaligus terus membuat kita utk semakin sayang sm bumi

    BalasHapus
    Balasan
    1. iyah mbak.....salah satunya ya kayak yag saya ulas itu

      Hapus
  2. Br dnger ini tentang acr sedekah bumi..
    Setuju sm bunda ke2 & nai..tiap daerah py cara sendiri2 utk mengekspresikan rasa syukrnya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. mami eny :D

      disana ada sedekah bumi juga?

      Hapus
  3. di sidoarjo ada kayak gini juga, tapi nama ne nyadran, tapi niar sebgai menikmati acaar ajah gag pernah ikutan :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehehe...nyadran ya? kapan2 diulas donk niarr

      Hapus
  4. Tradisi yang memiliki filosofi tinggi. Sayangnya sekarang ini manusia sering tidak memikirkan tentang kesimbangan tempat hidupnya lagi ...
    Salam

    BalasHapus
    Balasan
    1. iyah...maka dari itu kadang alam menegur kita......

      Hapus
    2. setuju sama Wong Cilik, bener mas, asal seneng aja....

      Hapus

Silahkan tinggalkan jejak di blog guru kecil ya. Mohon untuk tidak memberikan LINK HIDUP dalam kolom komentar. Jika memang ada,komen akan di hapus. Terimakasih;)