5 November 2012

Musisi Keroncong Purwodadi

Ini ceritaku di malam minggu tepatnya akhir bulan September kemarin. Kali itu memang malam minggu yang spesial buat saya, bertepatan dengan hari lahir saya, iseng-iseng saja ngajakin temen-temen buat dinner gitu deh. Setelah sebelumnya janjian buat bertemu akhirnya kita sepakat untuk memilih rumah makan yang asik buat ngobrol sambil makan gitu. Sengaja memang memilih agak minggir dari pusat kota, soalnya di Alun-alun purwodadi sedang ada konser esteh dua gelas eh salah band yang dipentoli si houpen itu dink. Tau kan siapa...


Setelah sampai di rumah makan yang disepakati memang kali ini lumayan rame. Baru juga sih rumah makannya dan menurut saya masakan yang ada di daftar menu menunjukkan angka 8 dari 1-10 buat lidah saya. Ada yang berbeda juga dari suasana di rumah makan Serba sambal itu. Biasanya alunan instrumen khas Sunda, tapi kali ini ada live show. Bisa dibilang live show mumer pakai banget dan ini dimata saya cukup langka. Kenapa? Band *sepertinya gak pantes dibilang band, atau sekumpulan bapak-bapak ini lengkap dengan bas betot, gitar kecil ala Budi Doremi, gitar akustik, dan kicrikan. Berpenampilan sederhana dan apa adanya. Hanya kaos oblong dan celana bahan kain. Tatanan rambut gondrong dan botak ada juga yang berpeci. Yak, mereka ini saya bilang musisi keroncongnya Purwodadi. Dan sekelompok bapak-bapak ini baru saya jumpai di rumah makan Serba Sambal.

Mungkin mereka mengamen dengan gaya mereka sendiri. Alunan keroncongnya memang aduhai, sampai-sampai saya ikut menyanyi sambil nunggu menu selesai di masak. Ada juga beberapa pengunjung yang sengaja request lagu bahkan nyanyi sendiri bersama mereka. Suara yang khas, alunan musik yang asik membuat suasana semakin gayeng saja lho sobat. Nah, ini ada satu foto yang sengaja saya ambil pas selesai menikmati makanannya.
Satu hal yang membuat saya kagum dengan mereka, berani tampil beda dan sederhana. Dan juga mereka membawakan genre keroncong yang sekarang ini memang sudah terpinggirkan.

Nah, mereka saja yang sepuh masih mau nguri-nguri kabudayan kenapa kita yang muda masih merasa malu?? Cinta dengan karya leluhur bukan berarti NDESO lho teman.

Salam saya....semoga bermanfaat ya :)








17 komentar:

  1. Jadi ingat pakde saya yg punya grup musik keroncong dan hobi berkumpul dirumah pakde. Dengan gaya yg sederhana tapi kemampuan musik mereka luar biasa. Bahkan menggesek biolanyapun syahdu sekali.
    Suasananya betul2 nyaman dihati.

    BalasHapus
  2. cinta sm kebudayaan sendiri justru keren :)

    BalasHapus
  3. "Cinta dengan karya leluhur bukan berarti NDESO lho teman."

    ada apa dengan NDESO?

    BalasHapus
    Balasan
    1. jadi begini mas......sering saya jumpai bahkan saya alami sendiri kalau seorang menyukai warisan leluhur dikata ndeso. gampang saja sekrang ini ngetren musik2 ala korea dan macem-macemnya itu..giliran kita tampil dengan gaya musik kesukaan kita misal dangdut atau keroncong tak jarang "ih kamu ndeso, musik gitu disuka" nunjukin kan....dua sudut pandang dari orang yang melihat....ada yang menilai positif, ada juga yang menilai negatif dengan mengatai ndeso (ini berdasarkan yang saya jumpai di lapangan)

      Hapus
  4. saya trenyuh sekali melihat ekspresi bapak yang membawa kecrekan
    entah mengapa ...

    semoga musik keroncong tetap lestari

    salam saya

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya om...sama dengan apa yang menjadi harapan saya :))

      Hapus
  5. Setuju mak..
    Musik tradisional memang seharusnya kita lestarikan... :)

    BalasHapus
  6. musik tradisional memang harus kita lestarika dan kita hargai para musisinya

    BalasHapus
  7. jenis musik khas nusantara ini harus terus di jaga dan dikembangkan

    BalasHapus
  8. terimakasih atas infonya sangat bermanfaat sekali

    BalasHapus
  9. terima kasih atas infonya

    BalasHapus

Silahkan tinggalkan jejak di blog guru kecil ya. Mohon untuk tidak memberikan LINK HIDUP dalam kolom komentar. Jika memang ada,komen akan di hapus. Terimakasih;)