Edited by Chela. Diberdayakan oleh Blogger.

Menari? Siapa Takut!

Jaranan
Saya ditantang untuk melatih anak menari? 
Sempat terpikir untuk melatih anak untuk goyang itik, goyang ngebor, dan goyang ala trio macan.
Tapi ketika bu kepala sekolah semacam memberi perintah "anak-anak tolong dipersiapkan untuk pentas menari jawa", seketika itu juga nyali saya menjadi ciut. 

Untuk masalah nyanyi okelah saya bisa dan mampu, tetapi kalau nari? Aduhh... Plis deh bu kepsek, saya angkat tangan. Pengen nangis rasanya, tapi kalau sudah diberi tanggung jawab rasanya sangat gak etis kalau tidak dilaksanakan. Berbekal nekat dan modal apa adanya, saya bersama anak-anak belajar bersama melalui kaset vcd tari. Mengambil salah satu tarian yang dirasa mudah untuk ditiru dan dikreasi akhirnya saya sepakat untuk belajar tari jaranan. 


Disini saya dituntut untuk mau belajar dari nol. Berbekal laptop, LCD, dan kaset akhirnya saya mempelajari setiap detil gerakan dan ketika menemukan gerakan yang cukup rumit saya bersama anak-anak memikirkan bagaimana menyiasati gerakan itu dengan gerakan yang mudah. Dalam kurun waktu 3 minggu dan dengan latihan yang cukup intens, akhirnya saya dan anak-anak berhasil menyelesaikan sebuah tarian jaranan yang nantinya akan dipentaskan saat perpisahan kelas 6. 

Sudah pasti ada rasa tidak percaya diri dalam hati saya. Pikiran saya berkecamuk, bagaimana kalau nanti tarian yang saya pelajari bersama anak-anak ini jelek? bagaimana kalau pas pentas ada yang lupa? trus bagaimana kalau demam panggung? Dan yang paling membuat saya stress adalah ketika salah seorang dari anak yang saya latih tari itu ternyata selesai di khitan. Bisa energik ndak nanti kalau pentas? atau kemungkinan terburuk nanti hasil sunatannya mengalami gangguan (atau orang jawa bilang gendhelen)? 3 hari menjelang hari H acara perpisahan saya dihantui perasaan bingung, atau lebih tenarnya galau.

Rabu, 19 Juni 2013 acara yang perpisahan kelas 6 dilaksanakan. Dan disitulah hasil kerja saya bersama anak-anak dipertontonkan dihadapan dewan guru, anak-anak kelas 6, dan orang tua/wali murid. Dengan segala persiapan yang cukup matang tiba waktunya utuk unjuk gigi. Dan hasilnya, aduh... ada beberapa gerakan yang keliru karena demam panggung. Tapi ya begitulah namanya anak-anak, belajar untuk berani tampil dan percaya diri. 

Namanya di desa, sudah pasti sebuah kebanggan bagi orang tua/wali murid ketika anaknya pentas. Terdengar riuh penonton dari kejauhan "ealah putuku iso njoget nggowo jaran kepang" (ealah cucuku bisa menari membawa kuda kepang). Dan ibarat artis, anak-anakku mendapat jepretan baik dari kamera hp dan digital. Dan satu lagi, saya melihat bu kepala sekolah tersenyum bahagia melihat anak-anakku menari diatas panggung. Semoga itu bukan senyum menahan tawa karena salah gerakan. Ha..ha..ha..

bu guru nampang dulu ya ^__^


Yang saya dapatkan dari tugas ini adalah:
belajar memang tidak mengenal usia dan tidak dibatasi ketika kita hanya di bangku sekolah. Namun, belajar yang sesungguhnya adalah ketika kita berada ditengah-tengah mereka yang menanti ilmu dari sosok seorang guru. Belajar bersama, berbagi ide, berbagi pendapat dan tentu menghargai setiap kekeliruan dengan menyamakan pikiran maka akan menjadi sebuah pembelajaran yang sangat berarti, tak hanya untuk murid tetapi juga untuk guru. (chela)


Nah, tantangan apa lagi yang akan saya dapatkan dari bu Kepala sekolah??
Akan saya nantikan di tahun ajaran yang baru bersama anak-anak kelas 5 :)

Semoga bermanfaat, dan salam saya


15 komentar

  1. Gerakan salah ?
    Itu amat-sangat jamak ...
    tenang saja ...
    ada hal yang lebih penting yang patut dirayakan ...
    yaitu ... anak-anak berani mentas ...
    percaya sama saya ... itu akan terpatri diingatan ... sampai kapanpun ...

    (dulu waktu SD saya pernah nari Jaranan !!!)(Dan yang ngajarin itu namanya Bu Cheila ...)

    Percaya sama saya

    Salam saya Cheil ...

    (tahun depan ... coba dengan penari yang lebih banyak ya Cheil ... 5 orang ... atau 6 orang gitu ...)

    BalasHapus
    Balasan
    1. rencana begitu om...mau menggali dari kelas rendah bakat-bakat yang dimiliki anak-anak..jadi tidak pintar secara akademis saja tetapi secara seni maupun olahraga mereka mampu dan bisa jadi bekal nantinya di jenjang pendidikan yang lebih tinggi

      Hapus
  2. Jadi inget suatu ungkapan terkenal dari Gontor :D
    "Man Jada Wajada"
    Siapa yang bersungguh-sungguh pasti berhasil. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. hmm..iya ...kuncinya adalah mau belajar

      Hapus
  3. Cieeee... mantap niih bu guru...
    Menjawab tantangan kepala sekolah dengan tindakan keren.
    Selamat mbak.

    BalasHapus
  4. Sepertinya kalu ditambah pideo di sini lebih cethar ya, Mba. :D
    Selamat ya, sudah sukses membawa anak untuk berani tampil. Tantangan selesai, lanjut untuk tahun berikutnya. . .:)

    BalasHapus
    Balasan
    1. video sih ada..cuma gak pd kali nduk...hihiihi

      Hapus
  5. jadi keinget jaman saya kecil,,

    malam inagurasiny HUT RI :)

    BalasHapus
  6. Ahahaha... Nggak kebayang kalo anak-anak itu beneran diajarin goyang itik.

    BalasHapus
  7. Wow! Guru dan anak2 yang hebat! Dalam 3 minggu sudah berhasil membuat anak2 pede untuk tampil di atas pentas, itu prestasi yang luar biasa lho, ibu guru cantik! Sukses selalu ya untuk tantangan2 berikutnya. :)

    BalasHapus
  8. Waaah..., selamat ya Bu Guru, akhirnya berhasil menampilkan tarian itu bersama anak didik tercinta. Teringat dulu saya waktu SLTA ditunjuk harus menampilkan tari remo saat perpisahan di sekolah, padahal seumur-umur belum pernah belajar tari, akhirnya belajar dan berkreasi, pentas deh :)

    BalasHapus

Silahkan tinggalkan jejak di blog guru kecil ya. Mohon untuk tidak memberikan LINK HIDUP dalam kolom komentar. Jika memang ada,komen akan di hapus. Terimakasih;)