10 Juli 2013

Payung Biru

gambar diambil dari sini
"Ayo cepat kesini..."

"Nggak mau ah...hujannya deres banget, tunggulah reda sedikit."

"Tenang, payung ini cukup untuk kita berdua."

"Kalau basah gimana coba?"


Langkahnya ragu mendekati Dani yang masih berlindung dibawah payung biru motif bunga. Sore itu hujan memang cukup deras membasahi kota Salatiga. Tanpa sepengetahuan Sita, Dani menjemput sang kekasih yang sore itu selesai mengikuti perkuliahan.

"Pelan-pelan jalannya."

"Ini juga udah pelan tuan putri, awas nanti basah kalo nggak mau deket aku."

"Kenapa sih pakai repot-repot jemput, udah tau hujan deres gini."

"Inget In Ha nggak di serial Love Rain? Katanya pengen juga dijemput, terus jalan berdua dikampus pas lagi hujan. Nggak mirip sih kan In Ha pakai payung warna kuning."

"Kenapa nggak beli dulu payungnya?"

"Kalau lama takut tuan putriku ngambeg nggak dijemput-jemput."

Dan sepanjang jalan menyusuri kampus, mereka asyik menikmati guyuran hujan dibawah payung biru itu. Sore itu hati Sita sekan bertaburan bunga-bunga indah nan wangi. Kesan cuek yang selama ini melekat dalam sosok Dani terhapus dengan kejutan sore itu. Begitupun Dani, seolah ia merasa menjadi pacar paling baik sedunia karena sudah berhasil memenuhi imajinasi Sita. Dijemput di kampus saat hujan dan jalan kaki dibawah payung. Seperti adegan drama Korea yang menjadi kesukaan Sita.

******

"Sudah siap nduk?"

"Tunggu dulu buk, aku masih ingin disini sebentar."

"Tetapi diluar sudah banyak orang dan sebentar lagi penghulu datang, nduk. Ibu tau ini bukan kemauan kamu dan ibu tau kamu masih mencintai Dani. Tapi, tolonglah nduk demi bapak kamu."

"Apa aku bisa bahagia bersama mas Agus, buk?"

"Insyaallah, dengan doa ibu kamu akan bahagia dengan mas Agus, nduk. Mungkin ini bukan seperti apa yang kamu bayangkan, tapi sadari bahwa apa yang dialami manusia sudah digariskan olehNya semenjak dalam kandungan."

"Sini deh buk, peluk aku. Aku cuma ingin hidup bahagia dengan lelaki pilihanku. Tapi kenapa aku lemah buk, kenapa aku tidak mempertahankan Dani. Dan kenapa Dani rela melepas aku begitu saja, buk?" 

Dipeluknya gadis manisnya itu yang terisak dalam tangisnya. Tak menghiraukan riasan di wajahnya sedikit luntur karena air matanya. Lima menit kemudian, Sita keluar menuju tempat dimana Bapak, Mas Agus dan saksi serta tamu undangan menunggu. Dengan langkah gemetar Sita menuju sebuah kursi disamping mas Agus. Suasana hening dan khitmat mewarnai prosesi dimana sebuah ikrar ijab dibaca dengan satu tarikan nafas oleh mempelai pria. Sita hanya tertunduk lesu menahan gejolak dalam hatinya. SAH!!! serentak para saksi berteriak setelah penghulu memastikan ikrar itu selesai diucap oleh mas Agus. Dari luar ruangan Dani bersama sahabat-sahabat Sita mendengarkan ikrar ijab qobul Agus dan Sita. Seolah sama dengan apa yang dirasakan oleh Sita. Hatinya bergejolak, ingin rasanya membawa pergi Sita saat itu juga. Namun, dengan legowo setelah Dani mendengarkan ikrar suci itu, ia menitipkan rangkaian mawar merah kesukaan Sita dengan selembar kertas kecil yang terselip di antara rangkaian mawar itu.

"Mungkin aku terlalu lemah untuk mempertahankanmu, perlu kamu tau aku ingin menangis mendengar ikrar itu tidak aku ucapkan untukmu. Tapi aku yakin, kamu akan bahagia bersamanya. Lelaki pilihan bapakmu. Selamat berbahagia. Terimakasih untuk kenangan 5 tahun itu. Dan kamu adalah wanita terhebat yang pernah mewarnai hari-hariku.


Dani "

17 komentar:

  1. berdasarkan kisah nyata penulisnya ya? :D

    BalasHapus
  2. Kalau ending kayak begitu, sebenernya happy ending atau sad ending ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. sad buat dani sama sita tapi heppy buat mas agus sama bapanya sita

      Hapus
  3. wah,,,, kisah pribadi nieh kayaknya.. hehehe tapi bagus

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kamu pasti peramal. . hahahahh

      Hapus
    2. mungkin anak buahnya limbad :D

      Hapus
  4. selalu suka cerita dengan latar hujan ^_^

    BalasHapus
  5. Hyaaaaaaaaaah, kalau sekarang gak pakai pilihan Bapak ya, Mba. Kan sudah bisa mlih sendiri. . :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahahaha..iya kan sudah buka jaman siti nurbaya :p

      Hapus
  6. Apik kisahnya. Tulisan warna pink itu membuatku mbrebes mili.
    Gak cetho, Nduk
    Salam sayang selalu

    BalasHapus

Silahkan tinggalkan jejak di blog guru kecil ya. Mohon untuk tidak memberikan LINK HIDUP dalam kolom komentar. Jika memang ada,komen akan di hapus. Terimakasih;)