28 Agustus 2013

Bapak dan Pensiun

Sebuah postingan tentang kekagumanku terhadap sosok bapak.

 *****

masa mudanya ganteng kayak anjasmara ^_^
Akhir-akhir ini saya sedang galau. Dan entah kenapa ingatan saya seolah ingin bernostalgia di jaman kecil. Kembali ke masa kecil, tepatnya begitu. Masa dimana saya masih banyak waktu untuk bermain dan belajar bersama bapak. Memang saya anak bontot yang lekat dengan sosok bapak. Dikit-dikit bapak, kalau dinakali sama temen mengadu ke bapak, pokoknya sampai dibilang anak bapak. Sedangkan mbak jauh lebih dekat dengan ibu. Memang dua anak perempuan ibu sama bapak ini memiliki sosok favorit sendiri-sendiri. Bukan berarti saya dan mbak hanya sayang sama salah satu orang tua kita lho ya.


Berbicara sosok bapak, mungkin saya terkesan lebay. Karena jujur saya sekalipun sering berbeda pendapat dengannya, tak sedikit pula rasa bangga saya memilikinya. Lelaki tampan ini mampu menjadi pemimpin keluarga yang baik (walau terkadang sangat otoriter), menjadi seorang abdi negara yang sebagian hidupnya ia dedikasikan untuk mencerdaskan anak bangsa, menjadi sosok artis lokal yang sangat digandrungi orang-orang, dan mampu menjadi seorang pemimpin dalam bidang kedinasan. Maaf, bukan saya pamer disini tetapi inilah yang memicu dalam diri saya agar bisa menjadi seperti dia. 

Seperti kemarin, saat hajatan halal bihalal untuk terakhir kalinya dirumah. Kenapa terakhir? ya karena bapak sudah memasuki masa dimana tugasnya dalam kedinasan berakhir per 1 September 2013 nanti. Melihat raut mukanya bapak terkesan galau. Mungkin menular ya galau itu. Iseng sayapun bertanya sama bapak sambil menunggu tamu datang,

saya : "galau pak?"

bapak : 'sitik..."

saya : "pensiun itu bukan berarti akhir dari segalanya lho"

bapak : "yo memang, tapi rasane yo piye ngono nduk" (tapi rasanya ya gimana gitu nduk)

saya : "takut bapak gak dihormati orang lagi?"

bapak : "bukan masalah kui, sejak 1973 jaman bapak nom bapak ki wes jadi guru. Bayaran 5 rupiah nduk, cuma iso kanggo tuku sabun sing wadhahe gambar bebek kui lho, nganti saiki wes pirang taun bapak tugas? patangpuluh tahun bapak ngabdi negara nduk" (bukan masalah itu, sejak 1973 jaman bapak muda itu sudah jadi guru, gaji 5 rupiah nduk, cuma bisa untuk beli sabun yang bungkusnya gambar bebek itu lho, sampai sekarang sudah berapa tahun bapak tugas? empat puluh tahun bapak mengabdi negara nduk)

saya : "wow, 40 tahun. Jaman aku cilik dulu bapak masih jadi guru. Sering ada murid maen kerumah yo pak. terus bapak dulu kalau nemenin aku belajar mesti bawa pentungan, kalau salah jawab aku mesti disabet."

bapak :"ya memang, pendidikan saiki beda karo jaman mbiyen nduk. Ya, pesenku lanjutkan perjuangane bapak. Pandongaku koe iso ganti perane bapak." (ya memang, pendidikan sekarang berbeda dengan pendidikan dulu nduk. Ya, pesanku lanjutka perjuangan bapak. Doaku kamu bisa menggantikan peran bapak)

saya : "nggih bos!!!"


Perjuangan dia selama 40 tahun dalam mencerdaskan bangsa. Banyak yang mengaguminya termasuk saya sendiri. Ketika dalam forum dan bapak berbicara di depan dalam hati selalu berkata "itu bapakku, bapak nomer satu buatku" bahkan saat sedang dijalan tanpa sengaja bertemu dengan bekas murid bapak dulu pasti ada komentar "Pak Kus masih awet muda ya ternyata. Dulu ini guruku paling disiplin" ada kebanggaan sendiri dalam hati saya "iya donk, bapak siapa dulu itu!". Terlalu banyak saya membeberkan saya takut dikata sombong. Ha..ha..ha... Biarlah, saya memang benar-benar mengaguminya. Baik kepemimpinannya dirumah maupun dalam dinas, kepintaran bapak dari akademis dan seni, bahkan cinta kasihnya yang dia ungkapkan dengan cara yang berbeda. 

Saat pensiun ini nanti, dia berjanji akan kembali ke masa lalunya, kembali ke sawah seperti masa kecilnya dulu. Menghabiskan waktu dengan cucunya, dan tentunya masih menjadi satpamku sampai nantinya perannya digantikan oleh suamiku. Doa saya untuk bapak, pensiun itu bukan akhir segalanya, justru dimana bapak bisa istirahat, lebih banyak waktu untuk keluarga, dan tentunya semoga allah melimpahkan kesehatan dan umur panjang untuk bapak. 


I LOVE YOU BAPAK *bighug*
mirip kaaannnn ^__^

13 komentar:

  1. Aamiin.
    Yang menjadi kegelisahan ketika pensiun itu, nanti mau ngapain?
    Mau tidak mau, Post Power Syndrome itu melanda kok, tergantung kadarnya saja.
    Oh ya, ati2 ya Chel, 1-2 tahun masa pensiun itu saat2 yang sensitif untuk mereka, jadi hati dalam perbuatan dan kata-kata *pengalaman hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. oh iya mbak,,,ini juga sudah mulai terlihat lho mbak....

      Hapus
  2. Bapak pensiun dini karena dulu waktu masuk dituakan, Alhamdulillah ada kerjaan dirumah. Mbantu Ibu dagang dan makani sapi Chiel hehe...
    Semangat buat bapakmu Chiel :)

    BalasHapus
  3. benar2 guru itu pahlawan tanpa tanda jasa, dan guru yang baik selalu melekat dalam ingatan murid2nya :)

    BalasHapus
  4. Iya bener ya, masuk masa pensiun itu bisa galau..
    Jadi ingat Bapakku dulu,

    Eh, itu fotonya miriiip kok.. Kan ayah anak.. :)

    BalasHapus
  5. wahhh ternyata 40 tahun keren banget yoo mbak, kalau pensiun ikutan ngeblog ajah kayak pakdhe ben seruuu :D

    BalasHapus
  6. Aammiiinnn ...
    All the best untuk Pak Kus ...
    Bapaknya Cheila yang dikagumi anaknya ...

    Memang seharusnya ... Para orang tua ... entah Ayah atau Ibu...
    harus menjadi Idola di rumah ...

    Salam saya

    BalasHapus
  7. pengalaman ketika org tua sy pensiun, mereka hrs byk kegiatan biar gak kena post power syndrome. Keluarga juga hrs mendukung :)

    BalasHapus
  8. Aamiin, kembali ke sawah sangat menyenangkan!

    BalasHapus
  9. Amiiin..... jadi ingat almarhum Abah, sampai akhir hayat beliau tetap mengajar, walau hanya di musholla kecil di kampung... T_T

    BalasHapus
  10. luar biasa. semangat dulu lah. ini kan proses hidup. ada yg baru terangkat jadi pns ada juga yg pensiun. dinikmati saja

    BalasHapus
  11. guru memang luar biasa akan segala jasa2 nya

    BalasHapus

Silahkan tinggalkan jejak di blog guru kecil ya. Mohon untuk tidak memberikan LINK HIDUP dalam kolom komentar. Jika memang ada,komen akan di hapus. Terimakasih;)