1 Juli 2014

Saya Bangga Jadi Guru Untuk Indonesia

bersama mereka, kami untuk Indonesia
Seneng deh setiap hari senin sampai sabtu saya melihat mereka. Semangat mereka untuk belajar meskipun kami berada dalam lingkup serba sederhana. Sarana prasarana belajar yang sederhana, tapi saya berhasil membawa mereka memiliki mimpi yang lebih dari sederhana. Belum lagi ketika saya bertanya tentang negeri yang mereka cintai serempak anak-anakku bilang Indonesia. Rasanya, memang saya bangga menjadi anak negeri yang katanya negeri paling kaya, baik itu kekayaan alamnya, budaya, agama, sampai suku dan ras.


Saya lahir di Indonesia, kulit saya saja sawo matang, memiliki gingsul khas orang Indonesia (maaf sedikit narsis) bahkan pendidikan saya tempuh di Indonesia juga karena bagi saya pendidikan di negeri kita ini tidak kalah bagus dengan pendidikan di luar negeri. Sekali lagi saya katakan, menjadi guru adalah sebuah pilihan hidup yang mana bagi saya adalah cara mendedikasikan diri  untuk negeri ini. Dan saya bangga ikut serta dalam mencetak generasi penerus bangsa.

Bangga jadi guru? Saya akan jawab iya jelas bangga donk! Entah alasan apa yang membuat saya mencintai profesi saya, yang ada di pikiran saya adalah dengan menjadi guru saya bisa ikut mengurangi kebodohan. Seperti yang kita tahu bahwa suksesnya sebuah negara ada di tangan guru. Iya, guru. Pemegang peranan perubahan suatu negara, bagaimana kita mencetak karakter penerus bangsa. Mau mencetak karakter bagus, atau kurang bagus ya guru lah kuncinya. mau kurikulum terbaru itu sukses atau tidak, kembali lagi ada di tangan guru.

Realitanya sekarang ini banyak yang bilang Indonesia itu korup, memanjakan kaum guru dengan sertifikasi, nggak memperhatikan kaum honorer. Kalau memang dirasa sepeti itu, buat apa hanya koar-koar. Perubahan tak akan terjadi ketika kita hanya duduk sambil melamun atau sekedar koar-koar sampai otot leher pada keluar. Do Something!!! Saya dibekali ilmu tentang mendidik dan mengajar, jadi ya saya terapkan dengan murid-murid. Bagi saya, agen perubahan itu adanya relasi kuat antara guru dan murid. Nah, kalau sudah ada relasi kuat maka kita bisa bangun negeri ini menjadi lebih baik. Yang nantinya akan diwujudkan dalam cita-cita mereka.

Saya ada untuk mereka, bahasa romantisnya saya adalah pelita bagi murid-murid saya. Tentu saya sangat merasa terhormat ketika saya dipercaya untuk mengisi otak mereka dengan ilmu yang saya sampaikan setiap hari. Mengisi imajinasi mereka dengan indahnya cita-cita yang ada di pikiran mereka, mengisi hati mereka dengan semangat untuk mewujudkan cita-cita mereka. Rasanya bahagia ketika mereka bisa menyumbangkan dirinya untuk ikut serta dalam mentas kebodohan.

Jadi guru itu susah?


Bagiku gampang, asal kita memulainya dari hati. Siapapun pemimpinnya entah itu kepseknya perempuan atau laki-laki, entah itu nanti presidennya dari militer atau sipil yang terpenting bagi kita adalah kesiapan untuk mendedikasikan diri. Entah itu jaman orde baru ataupun reformasi sepertinya kalau mendengar cerita bapak pendidikan masih tetap sama. Intinya adalah kesiapan diri, kemauan melayani dan mengabdi untuk negeri.

Kebayang kan susahnya merebut kemerdekaan Indonesia, kalau waktu ngajar sejarah saja anak-anak suka bertanya “jadi sekarang kita enak donk buk gak perang dan tembak-tembakan?” iya jelas enak. Negeri yang sudah merdeka ini dan sudah mengalami pergantian presiden sebanyak lima kali, memang masih tetap membutuhkan sosok seorang guru. Tak hanya guru, apapun profesinya jika memang kita ada rasa saling memiliki Indonesia tentu akan bahu membahu mendedikasikan diri untuk negeri. Tak usah dicontoh para pejabat yang dengan senyum bangganya berbaju ala KPK, biarlah mereka seperti itu, yang terpenting adalah kita tetap menjadi warga negara yang jujur, mencetak generasi muda yang jujur dan berakhlak mulia. Melalui pendidikan.

Tak ada negeri yang buruk, tidak ada juga pemimpin yang buruk, bahkan tidak ada juga pendidikan yang buruk. Semua ada di kita, dalam diri kita. Hebatkan dirimu, dedikasikan dirimu, maka dunia akan melihatmu. Karena saya ada untuk mereka, saya ada untuk generasi muda Indonesia. Bersama kaum guru yang lainnya.

Karena saya, bangga menjadi seorang guru dan itu untuk Indonesia.





61 komentar:

  1. Terima kasih atas partisipasi sahabat dalam Kontes Unggulan :Aku Dan Indonesia di BlogCamp
    Dicatat sebagai peserta
    Salam hangat dari Surabaya

    BalasHapus
  2. Guru Indonesia memang hebat mba :)
    Keluarga ibuku 90% guru ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. setuju deh...kok mbak sinta g jd guru aja?

      Hapus
  3. Hei bu guru, artikelnya kece badai.
    Jadi guru itu memang panggilan jiwa. Kalau mau kaya jangan jadi guru jadilah pengusaha. Betul?
    Semoga saya lekas menyusul Mbak Cheche :D
    Membayar hutang negara untuk mencerdaskan anak bangsa.

    BalasHapus
    Balasan
    1. makasih deeekk......
      hayukk jadi guru :D

      Hapus
  4. kalo aja semua guru semangat seperti ini, pendidikan Indonesia pasti maju deh. jadi guru itu memang menyenangkan.. akupun seringkali merindukan suasana kelas hiks...
    btw goodluck ngontesnya cikgu ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mak munaa.....
      hayok jadi cikgu.....

      Hapus
  5. Guru itu pahlawan tanpa tanda jasa, mbak.
    Dulu akupun bercita-cita jadi guru tapi apa daya takdir berkehendak lain ternyata hehe

    BalasHapus
  6. Jd guru itu sesuatu ya..duh jd kgn pgn ngajar lg :(

    BalasHapus
  7. Keren Kak... Karena menurutku jadi guru itu susyeehhh T.T

    BalasHapus
  8. Semoga sukses yaaa...

    BalasHapus
  9. Tetep semangat ya ibu guru... Senang deh indonesia memiliki banyak guru seperti ini :). Keluarga aku juga banyak yang guru, terbiasa melihat, mendengar, mereka ada kalanya pengen jadi guru juga hihi latah :p

    BalasHapus
    Balasan
    1. hihihi....
      senangnya ya berada di keluarga guru :)

      Hapus
  10. Semoga guru2 Indonesia semakin hebat, sehingga bisa menghebatkan murid2nya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. doanya yaa..bisa mencetak generasi yang hebat!!!

      Hapus
  11. *sing... "Gurulah pelita penerang dalam dunia... Jasamu tiada tara....."

    Sukses ya bu Guru... :)

    BalasHapus
  12. keren mbak,,,rakyat indonesia pintar salah satunya dari guru,,,salut ama mbak cheila :)

    BalasHapus
  13. Aku pun bangga punya teman blogger bu guru kecil, sukses GA-nya ya ..

    BalasHapus
    Balasan
    1. makasih buk deyyy :)
      aku juga bangga punya teen blogger yg rajin crafting

      Hapus
  14. Profesi yang mulia, Bu Guru. generasi muda dibenuk oleh para Guru *sungkem :)
    Sukes ya untuk GAnya.

    BalasHapus
  15. Seneng ya jadi guru, aku dulu pingin jadi guru

    BalasHapus
  16. dulu saya gak pengen jadi Guru, tapi setelah terjun di dunia kerja...jd pengen merevisi cita-cita: jadi guru.

    BalasHapus
  17. What? Sawo mateng? :o
    Sukses ngontese yes!

    BalasHapus
    Balasan
    1. iye sawo matang cynt,,,,
      makasih yaaa :D

      Hapus
  18. saya ikut bangga karena saya juga seorang guru
    :)
    bagus tulisannya

    BalasHapus
    Balasan
    1. terimakasih mbak sumi....hidup guru!!!!!!

      Hapus
  19. keren tulisannya like it salam kenal

    BalasHapus
  20. mau dong lihat rekaman cheila lagi ngajar :)

    BalasHapus
  21. bravooo ibu guruuu...semoga anak-anak Indonesia bisa terus maju di tanganmu...sukses kontesnya yaaa :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. mak diplomattt.....akupun ingin sepertimuhhh :*
      makasih yaaaaa

      Hapus
  22. mungkin guru adalah dambaan pada orang yang senang mengajar, tapi bagi seorang yag sudah terjun ke dalamnya karena digaji 200 ribu perbulan jadi ingin berpindah profesi lantaran tidak cukup buat makan gmna nih cara agar Guru di Indonesia upahnya bisa terpenuhi seperti saya ini

    BalasHapus
    Balasan
    1. kembali lagi ke diri anda... ikhlas gak jadi guru???

      Hapus
  23. Setiap orang mempunyai cara sendiri dalam mengapresiasikan setiap hal pekerjaannya, Seperti saya ini jadi guru karena lantaran salah jurusan karena dipaksa orang tua untuk menjadi guru! namun ketika masuk didalamnya setiap guru harus mengajarkan pembelajaran yang dapat diikuti oleh murid, Karena ekstra mengajar 2 hari nonstop karena bukan guru kelas maka gaji honoresnya seperti yang dikatakan diatas tidak mencukupi kebutuhan sehari-hari akankah gaji guru honorer dan pegawai honorer lainnya gajinya kalah dengan tukang sapu di toko, penjaga toko dan karyawan lainnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. sama dengan jawaban diatas komen ini...
      ikhlas gak jadi gru?

      Hapus
  24. Guru adalah pahlawan yang musti kita baggakan

    BalasHapus
  25. Tak semua orang pintar bisa membuat orang lain pintar, hal ini lah yang menjadi salah satu keunggulan para guru, mereka pintar dan bisa memintarkan murid-muridnya. Salut untuk Bapak dan Ibu guru.

    BalasHapus
  26. Salam balik dari

    http://www.tian.web.id/2014/07/aku-dan-negri-sepenggal-surga.html

    BalasHapus
  27. susah mana sama cari pacar bu guru? :)

    BalasHapus
  28. Keren tulisannya, sukses selalu ya kak. Semoga tetap menginspirasi!

    Salam balik
    http://www.gurukecil.com/2014/07/saya-bangga-jadi-guru-untuk-indonesia.html

    BalasHapus
  29. Saya juga bangga jadi guru SD, mbak, salam guru :)

    BalasHapus

Silahkan tinggalkan jejak di blog guru kecil ya. Mohon untuk tidak memberikan LINK HIDUP dalam kolom komentar. Jika memang ada,komen akan di hapus. Terimakasih;)