30 April 2015

#BeraniLebih Memilih Jadi Guru

Kalau ditanya apa impianku, saya akan menjawab jadi seorang bidan. Sejak dulu saya memang memiliki minat di bidang kesehatan. Dalam imajinasi saya bidan itu sebuah profesi yang mulia, membantu seorang ibu dan bayi dalam sebuah proses persalinan, “bermain-main” dengan darah dan ari-ari, bahkan impian menjadi bidan favorit dan tinggal disebuah desa dengan penduduk yang ramah-ramah. Sebuah impian yang sempurna bagi saya di jaman SMA.


Tapi, Tuhan berkata lain begitu pula dengan ridho orang tua. Gejolak dengan orang tua ketika memilih universitas mana nantinya saya kuliah berbuntut panjang. Hingga pada akhirnya Tuhan membawa saya ke sekolah dengan jurusan Keguruan. Hah jadi guru? Apa saya bisa? Apa saya mampu? Kan saya nggak minat. Rasa ragu dan setengah hati terus memenuhi pikiran saya sampai  di semester empat. Pulang kerumah dengan tekad bilang ke orang tua minta pindah jurusan, alhasil ibu bersikeras menolak dan bapak mengembalikan semua keputusan ada di tangan saya.

Sekali lagi, Tuhan menggerakkan hati dan pemikiran saya. Setelah berfikir baik-baik akhirnya saya beranikan diri untuk mengutarakan keputusan saya kepada bapak ibu “bapak..ibu… baiklah saya akan menyelesaikan sekolah keguruan ini”. Ibu lega, begitu juga bapak lega tetapi dengan berat hati saya harus mengalihkan impian saya membentuk sebuah mimpi-mimpi baru dengan menjadi seorang guru, nantinya.

“Jadi guru bukan cita-citamu dari awal?” saya akan jawab memang bukan tetapi saya menikmatinya. Karena seiring berjalannya waktu ternyata kenyataan mengajarkan saya bahwa ini adalah jiwa saya. Berlatar belakang seorang bapak yang juga guru, dari situlah atmosfer dan indahnya menjadi seorang guru bapak ceritakan. Bahkan perkataan bapak “berprofesi sebagai guru atau tidak, nantinya seorang wanita akan menjadi guru bagi anak-anaknya”. Ya, sedikit demi sedikit saya beranikan diri memupuk semangat dan tekad untuk menjadi guru.

Sekarang?
mereka dan aktifitasnya

Sayalah seorang guru di sekolah dasar dengan anak didik berjumlah empat belas anak di kelas lima. Sayalah guru yang masih honorer dengan gaji sebanyak tiga lembar ratusan ribu. Sayalah guru yang harus menerima kenyataan bahwa saat inilah ada “oemar bakrie” versi modern. Sayalah guru yang memiliki impian untuk bisa memberikan apa yang saya punya kepada mereka anak didik saya.
2 murid ini juara kelas
Ketika diantara teman-teman saya lebih memilih menjadi seorang pegawai bank bahkan sampai eksekutif muda dengan nominal gaji yang berlimpah, justru saya tetap memilih dan #BeraniLebih  untuk bergabung bersama mereka, di sekolah desa dengan fasilitas buku bacaan sampai koneksi internet yang minim. Bersama mereka berbagi dan bertukar ilmu, bersama dengan mereka menemani perkembangannya selama di sekolah, bersama mereka yang saya yakini dan percaya bahwa setiap tangan-tangan kecil mereka akan membawa rejeki bagi saya dan anak yang saya kandung sekarang ini. Dan bersama mereka saya menemukan cinta kasih yang luar biasa.


Jadi #BeraniLebih versi saya adalah menjadi seorang guru meskipun diluaran sana banyak yang menghormati bahkan mencela, #BeraniLebih untuk tetap bertahan dan memilih bersama mereka sekalipun harus membagi waktu, tenaga, dan pikiran, dan #BeraniLebih untuk tidak mengeluh dan selalu belajar bersyukur bahwa bersama merekalah rejeki itu akan datang kepada saya. Guru, ada bersama jiwa saya dan suami saya sampai saat ini.




Twitter : @Chei_Chei_La
Facebook : Cheila Mbem Angello
jumlah kata : 489

17 komentar:

  1. Jadi guru atau tidak seorang perempuan pasti akan jadi guru..setidaknya untuk anak2nya.... aku suka nih dengan kalimat ini.

    BalasHapus
  2. Pemerintah seharusnya menaikkan gaji guru honorer ya, semangat bu Guru, mencerdaskan murid tugas yang mulia, pahlawan yang sangat berjasa. Semoga rejeki debay,menang kontesnya yaa

    BalasHapus
  3. Semoga menang kontesnya buk :)
    Tulisannya singkat, padat, dan tepat.

    BalasHapus
  4. Luar biasa! Semoga senantiasa mendapat keberkahan ya, Bu Guru ^_^

    BalasHapus
  5. ^__^ salut.
    Semoga ketularan awet muda dan keceriaan dari murid muridmu kak. ^__^

    BalasHapus
  6. Seeelamat pagi cikguuu :)

    BalasHapus
  7. Bu Guru kecil, Insya Alloh jadi ilmu bermanfaat amalan yang tak pernah putus yaa

    BalasHapus
  8. dan sampai sekarang cita2ku masih pingin ngajar lagiiii...jadi guru BK hahaha

    BalasHapus
  9. semangat makgurcil...the best student from the best teacher :)

    BalasHapus
  10. semangattt makgurcil...generasi muda butuh sosok diirimuuu

    BalasHapus
  11. Semangat chel!
    love your spirit
    sama2 berjuang ya,,semoga selalu di berkahi..aamiin..:*

    BalasHapus
  12. guru benar-benar profesi yang muliaaaa...semangat terus ya bugurcil...Tuhan dan semesta bersamamuuu..

    BalasHapus
  13. Guru, Pahlawan Tanpa Tanda Jasa :'))

    BalasHapus
  14. bu guru kecil ini pasti disayang banget sama murid2nya. Good luck Cheila :)

    BalasHapus
  15. Chei, guru itu di gugu dan di tiru cuma orang yang memiliki "sesuatu" yang lebih yg bisa disebut guru. kamu beani memilih dan saya percaya kamu akan sukses menjalankan plihanmu

    BalasHapus
  16. aku dulu juga pernah ngalami di posisimu, ngajar di pelosok pedesaan..bayangnkan gaji kepala sekolahnya aja 24ribu perak/bulan plus tunjangan kepsek @150rb, gimana dengan guru2 lainnya...hikks

    BalasHapus
  17. Sungguh #BeraniLebih...
    Jujur saya tidak punya keinginan menjadi guru maupun perawat...
    Yah itu semua kan tergantung manusia itu sendiri, tapi sepertinya Ibu mungkin selain minat menjadi perawat juga ada passion di bidang keguruan...

    BalasHapus

Silahkan tinggalkan jejak di blog guru kecil ya. Mohon untuk tidak memberikan LINK HIDUP dalam kolom komentar. Jika memang ada,komen akan di hapus. Terimakasih;)