Edited by Chela. Diberdayakan oleh Blogger.

Jujur Itu Mahal

Bener sih kalau ada istilah jujur itu mahal. Soalnya saya sendiri mengalami dimana saya kecolongan dengan murid saya. Jadi ceritanya mid semester kemarin saya masih cuti, anak-anak dalam pengawasan guru lain. Begitu masuk kerja saya mendapat laporan kalau si anak A pas mid semester dapat kunci jawaban. Karena saya sama sekali belum tahu kronologinya cukup saya menampung laporan dari guru tersebut. 


Sebagai wali kelas dan bertanggungjawab penuh terhadap anak-anak di sekolah saya ga boleh tinggal diam. Saya awali dengan kroscek ke teman sekelasnya apa benar si A dapat kunci jawaban soal mid, ternyata anak-anak membenarkan. Terus saya panggil si A secara empat mata dan mulailah saya tanya ini itu. Jawaban si anak ini cenderung polos banget karena dia mengakui kalau memang mendapat bocoran kunci jawaban dari saudaranya. "Apa ibu kamu gak tau kalau saudaramu itu kasih bocoran kunci jawaban?" Si anak menjawab "iya ibu tau, katanya biar nilai saya bagus bu". Oke.

Mendengar pengakuan si anak saya sebenarnya marah. Ya marah ke si anak dan marah juga ke ibu dan saudaranya itu. Disaat saya berusaha mengajarkan dan membiasakan kepada anak-anak untuk berlaku jujur dalam hal apapun, kenapa justru dari orang terdekatlah yang (maaf) memberikan contoh sikap gak jujur? Apakah saya kecewa? Pasti.

Saya heran dimana ada guru yang "nakal" dengan memberikan bocoran soal atau bahkan kunci jawaban. Sebagai anak yang dibesarkan oleh bapak yang berprofesi sebagai guru, sekalipun bapak gak pernah kasih bocoran soal atau bahkan kunci jawaban ke saya. Justru saya dulu belajar sambil  disediakan stik drum. Kalau gak bisa jawab atau saya malas belajar pasti akan ada bekas merah baik di paha atau lengan. Bapak bilang "berikan pancingnya, bukan ikannya". Ya, belajar seperti itu yang bikin saya sampai sekarang ini. 

Memang peluang untuk memberikan kunci jawaban kepada anak bisa terjadi, tapi semua kembali lagi ke individu masing-masing. Haruskah kita yang sebagai agen perubahan bangsa membekali anak dengan sikap tidak jujur yang sengaja kita lakukan? Kalaupun iya menurut saya jangan jadi guru deh. Bukan berarti saya sok suci ataupun idealis, tapi kalau menuntut ilmu aja ga mengikuti jalan yang benar apa bisa barokah? Ini semacam peringatan juga bagi saya dan mungkin bagi teman-teman guru yang lain. Teladan kita itu sangat menentukan mereka dan juga orang tua harus sadar bahwa sekolah tidak semata nilai delapan atau sembilan berderet di rapor. Ketika sekolah sudah berusaha menerapkan kejujuran dan meneladani anak dengan sikap jujur dan sportif tetapi tidak didukung pihak orang tua, apakah sepenuhnya menjadi kesalahan guru jika si anak mendapatkan hasil yang tidak seperti diharapkan oleh si orang tua? Jujur ya saya aja capek dengar komentar “anak saya nilainya jelek, gurunya bisa ngajar apa gak sih?” lalu sebagai orang tua sudahkan kalian mendampingi anak belajar dirumah?


Suka duka jadi guru sih ya begini, bukan pengen mengeluh tapi saya kecewa saja. Jika buku keramat yang diterima mereka setiap akhir tahun saja berderet nilai sembilan puluh tapi hasil dari mencontek atau dikasih bocoran, apakah gak malu tuh orang tuanya. Atau justru malah bangga dengan memberikan hadiah seperti tas, sepatu, alat tulis, sepeda atau bahkan gadget. Entahlah saya cukup heran dengan fenomena seperti ini. Semoga saya bisa menjalani peran guru ini dengan baik dan tetap istiqomah. Aamiin.


8 komentar

  1. aku juga sedih pas ada anak yang bilang kalo nyontek, atau nyiapin kepekan. nah selama ini dia les dan belajar di sekolah buat apa kalo akhirnya pakai jurus itu? :(

    BalasHapus
  2. Selama kenaikan kelas masih berdasarkan deret angka, praktek gini selalu ada dan diwariskan secara turun-temurun

    BalasHapus
  3. padahal sekali pernah nyontek ataupun dapet bocoran, bakalan kebiasaan tuh nanti di sekolah2 berikutnya

    BalasHapus
  4. Meski aku bukan guru di sekolah, tiap kali ngajar les berusaha sebisa mungkin nyisipkan pesan untuk sportif dan jujur. Sayangnya, tidak semua orangtua mau diajak duduk bicara soal anaknya. Mereka justru 'pasrah bongkokan' istilahnya, inginnya tahu jadi: si anak punya nilai tinggi. Kalau sudah ketemu yang model begini, ngelus dada aku, Bu Guru. Lalu mbatin, "Siapa ta yang jadi orangtuanya? Saya atau panjenengan?"

    *melu curhat* :))

    BalasHapus
  5. yang sabar bu guru.. sebagai seorang murid, saya juga pernah menyontek. emang rasanya kayak nilai yang ada di rapor itu nilai palsu karena bukan asli didapat sendiri. mau dinasihatin kayak apapun, pasti tetep aja ada 1 atau 2 murid yang nyontek. mostly mereka melakukannya karena memang ada kesmepatan untuk melakukannya.

    BalasHapus
  6. Aku juga kesel geram dengan sifat menyontek itu apalagi orng terdekat kasih kunci jawaban. Entahlah apa hal semacam itu sudah menjadi budaya bagi grnerasi kita dan postingan ini mewakili isi hati saya bnget yg juga sama profesinya sama mba.

    BalasHapus
  7. bener bangeet sangat mihiiil bu guru..

    tapi balik lagi ke orang tua, untuk mengajarkan kejujuran dalam segala hal, termasuk kalo menyontek tuh ga jujur dan membohongi diri sendiri.

    semangat bu guru!!

    BalasHapus
  8. duh ko bs ya gurunya begituuu

    BalasHapus

Silahkan tinggalkan jejak di blog guru kecil ya. Mohon untuk tidak memberikan LINK HIDUP dalam kolom komentar. Jika memang ada,komen akan di hapus. Terimakasih;)