15 Januari 2016

Ketika Mereka Dibilang Anak Pasif

Mengajar di kelas empat itu sensasinya ada aja. Apalagi diawal semester satu kemarin kami sedang masa adaptasi. Karena sekolah kami di regruping maka dari itu semuanya harus mutasi dan tentunya ada pemerataan dalam pembagian jumlah siswa per kelas. Jika digabung dan satu rombel melebihi empat puluh anak, maka secara otomatis dibuat kelas paralel. Begitupun kelas empat B yang saya ampu sekarang ada dua puluh dua anak dan masuk dalam kategori campur-campur.


Awal mula bersama mereka saya mengeluh (jangan ditiru!!!) Karena mereka itu cenderung diam saat pelajaran dan akan gaduh kalau ditinggal guru. Belum lagi kalau ditanya dan dipancing untuk berpendapat mereka akan diam. Gimana ini coba. Saya mencoba untuk tetap memancing keberanian mereka meskipun kesabaran harus diuji banget. Gak jarang kalau saya sampai merasa mutung kasarung gitu.

Kepasifan mereka ternyata bukan cuma dengan guru kelas. Saat saya cuti ternyata guru pengampu mengeluhkan hal yang sama dan bahkan testimoni tentang anak-anak jauh lebih ekstrim. Mendengar itu saya cukup tersenyum. Miris. Tapi bagaimanapun juga saya harus berjuang agar mereka bukan lagi menjadi anak yang pasif. Dan sebagai guru tidak selamanya selalu benar, harus koreksi juga gimana mengajarnya selama ini. 


Seiring waktu berjalan saya menemukan kenapa mereka pasif, diantaranya:
1. Mereka takut salah
2. Mereka takut dimarahi
3. Dan katanya mereka kurang perhatian dari guru. 



Mengenai kebenarannya saya gak mau ambil pusing di poin ke tiga. Tiap guru punya cara masing-masing dalam mengajar.


Lalu setelah bertanya kesana kesini, sharing sama suami dan nanya ke om NH. kenapa om NH? kalau saya mengikuti postingannya tentang kelas inspirasi rasanya beliau itu udah guru senior yang malang melintang ngajar anak-anak. hahaha... Pelan-pelan saya nemu klik dengan anak-anak dan mulai mengurai kepasifan mereka dengan kegiatan pembelajaran yang mengasyikan. Usaha saya diantaranya


1. Saya berusaha memancing mereka untuk berpendapat dengan tanya jawab sebelum, saat, maupun akhir pembelajaran. 



2. Mengemas pembelajaran dengan metode menyenangkan agar menstimulasi otak mereka untuk berpikir dan memancing kegiatan motorik mereka. Seperti mempraktekan cara berbalas pantun, praktikum ipa di luar kelas, atau bisa juga berkebun dan menanam tanaman di polybag. 



3. Sebagai guru saya berusaha memasuki dunia mereka dan mengikuti alur pikir mereka. Tetapi harus tetap memperhatikan ketegasan. 


4. jika terlihat bosan saya mengajak mereka bernyanyi di sela pelajaran atau sekedar bercanda dengan memanfaatkan peralatan yang ada di kelas. Seperti spidol, penghapus, papan tulis, bahkan sapu. Tujuannya sih buat mengajak mereka berimajinasi saja meskipun saya terlihat lebay di depan mereka. 


5. Mungkin ini yang saya lupakan. Mengajar dengan hati dan kasih. Mengejar mereka paham materi saja tidak cukup. Anak-anak memiliki "radar" yang sangat kuat terhadap gurunya. Gurunya sayang atau gak mereka akan tau dan kalau mereka merasa gurunya gak sayang mereka akan setengah hati ikut pelajaran. Gak percaya? Silahkan para guru dibuktikan sendiri. Saya lagi mencoba mempraktekkan nasehat dari Om NH ini.


Ketika mereka dibilang  anak pasif, buat saya ada nilai plus yang dimiliki anak-anak saya. Meskipun mereka gak pintar secara akademik nyatanya Jadug pintar menari, Valen dan Gudel pintar sepak bola, Zhafa pintar menari dan menyanyi. Hehehe... bu gurunya juga gak boleh ciut hati ye.. tetap semangat mengajar deh. *edisi menyemangati diri*. Karena anak-anak itu luar biasa jadi jangan paksakan mereka keluar dari dunianya ya.

Terimakasih anak-anakku, karena kalian saya menjadi banyak belajar tentang kalian dan dunia kalian. kiss kiss dari bu guru.

10 komentar:

  1. Penting untuk menciptakan suasana belajar- mengajar yang menyenangkan. Label " guru killer" sebaiknya ditinggalkan agar murid dan guru krasan.
    Salam hangat dari Jombang,

    BalasHapus
  2. Saya dulu anak yg pasif dan sekarang saya baru tahu kenapa, karena sering dimarahi jadi takut :(

    BalasHapus
  3. kalau pengalaman saya adalah mengajar anak-anak IPS, dijelasin g mau diem ngobrolnya, giliran disuruh bicara mereka diem semua.... jian bingung

    BalasHapus
  4. Belajar dari sini. Makasih, Chel.

    BalasHapus
  5. hi..hi...anak2 kelas 4 ini mulai berani ngerubung kalau aku penyuluhan
    tapi pas disuruh demo di depan kebanyakan langsung bubar duduk lagi di bangku masing2

    BalasHapus
  6. Hebat bu guruu ^^
    setiap anak pasti punya kelebihan memang kata ibukuu

    BalasHapus
  7. Ya ... seperti yang saya tulis waktu itu ...
    saya percaya ... mereka punya insting ... untuk merasakan apakah kita sayang sama mereka atau tidak ...

    salam saya Cheil

    BalasHapus
  8. Saya murid yang pasif banget pas SMP, yah bisa dibilang kaget selepas SD yang guru-gurunya ngemong, pas SMP kebetulan dapat beberapa guru yang tanpa sebab tiba-tiba jutek sama murid hi hi

    BalasHapus
  9. http://www.fitrian.net/2016/01/mengembangkan-kecerdasan-majemuk-dengan-morinaga-mi-playplan.html

    BalasHapus

Silahkan tinggalkan jejak di blog guru kecil ya. Mohon untuk tidak memberikan LINK HIDUP dalam kolom komentar. Jika memang ada,komen akan di hapus. Terimakasih;)