26 Januari 2016

Mempersiapkan Anak Menjadi Juara

Apa sih yang kita cari ketika mengikuti sebuah perlombaan? Klise kalau dijawab mau cari pengalaman. Pastinya kalau ikut lomba pengennya menang,kan? Saya juga gitu soalnya. Kalau kalah pasti ada perasaan kecewa di hati, tapi harus disadari bahwa mengikuti lomba memang ada yang menang dan kalah. Kalau grogi itu pasti, saya aja suka grogi kalau lihat saingannya. Nah apalagi murid, mewakili sekolah di ajang lomba olimpiade Sains Nasional. Selain untuk menunjukan sejauh mana pemahaman mereka dalam mapel IPA dan matematika, juga sebagai ajang pertaruhan kerja keras guru. Bisa dibayangkan gimana pusingnya dalam pendampingan sebelum lomba.

Sayangnya sekolah kami belum berkesempatan (lagi) bisa lolos sepuluh besar. Di tahun 2013 kemarin padahal SD kami bisa menduduki peringkat 7 se kecamatan, tapi sekarang mengalami penurunan. Mungkin bu guru lelah. Yang lebih mengejutkan lagi juara dari tiap mapel juga benar-benar gak bisa diprediksi. Bisa jadi SD kota menjadi langganan juara, tapi bisa juga SD desa menduduki peringkat atas.

SD saya mendapatkan hasil yang belum seperti bu kepala sekolah harapakan, tetapi lewat kegiatan pendampingan lomba seperti kemarin itu saya banyak belajar dari para guru senior. Katanya malu bertanya sesat di jalan, nah saya nanya dan sharing sama guru di sekolah lain yang langganan juara. Beberapa factor pendukung yang saya simpulkan diantaranya: 


1. Si anak itu sendiri
Ini faktor yang paling dasar sebenarnya bahwa kecerdasan dari si anak menjadi faktor penentu. Dengan basic si anak yang mampu menguasai salah satu mapel atau memiliki kecerdasan lainnya akan memudahkan guru dalam menuntun dan membekali materi untuk lomba. Anak suka music ajak mereka lomba music, anak suka berhitung ajak lomba matematika, anak pandai berbahasa ajak lomba mapel Bahasa Indonesia, dll.


2. Jiwa kompetisi

Kembali lagi ini ada di dalam diri anak. Jika memang anak memiliki jiwa kompetisi maka dengan segenap usahanya akan memberikan yang terbaik. Selain  itu didukung juga dari semangat guru pendamping bahkan orang tua.


3. Dril soal latihan 

Sebagai pembekalan sudah pastinya guru melakukan dril soal kisi-kisi lomba. Bisa dikondisikan dengan si anak mau dilatih setiap hari atau seminggu tiga kali yang jelas drill soal latihan ini sangat perlu untuk memberikan gambaran ke si anak sebelum berlomba.


4. Dukungan orang tua 

Setiap orang tua pasti akan senang jika anaknya terpilih mewakili sekolah untuk lomba. Keberhasilan anak selain dari faktor internal juga dari eksternal. Jika orang tua tidak mendukung mana bisa si anak melangkah untuk menjadi juara.


5. Jangan nyinyir tapi wajib mendukung

Ini nih yang bisa jadi semacam budaya. Nggampangke dan nyinyir, belum-belum udah pesimis "halah palingan juga gak dapat juara. Palingan yang menang juga SD kota." Saya sering menjumpai seperti itu dan rasanya pengen marah cantik gitu. Bukanya didukung malah nyinyir, nanti kalau juara ikut seneng juga kan? Sebagai guru pendamping yang dibutuhkan adalah dukungan. Jika dirasa gak bisa membantu dalam memberikan drill soal paling tidak cukuplah membantu dalam pencarian soal-soal latihan. Atau pompom semangat juga udah makasih banget.


6. Kerjasama

Akan menjadi satu team yang hebat jika ada kerja sama antar guru. Makanya jangan nyinyir dulu dan jangan iren tugas. Bukan tugasku kok jadi ya ngapain susah-susah ngajarin. Fyuh...... guru lhooo....


7. Usaha dan Doa

Ketika kita sudah berusaha, harus ingat dan wajib adalah berdoa. Karena segala sesuatunya wajib kita meminta kepada Tuhan untuk menyertai perjalanan usaha kami. Ngajar tenang, anak-anak siap deh berlomba. Sertakan hasilnya kepada Tuhan.


Dari ketujuh hal yang saya sebutkan diatas yang paling utama adalah dari pribadi anak sendiri terutama dalam factor kecerdasan. Jika memang anak mampu untuk bertanding maka sebaiknya tuntun dan persiapkan mereka. Ingat sebagai guru maupun orang tua jangan menuntut anak untuk menang terlebih dulu, tetapi wajib kita bangun rasa percaya diri dan jiwa kompetisi secara sportif. Kalau anak menang itu adalah hadiah indah dari usahanya. Dan jangan memaksakan kehendak kita ke anak (ini PR saya sebagai orang tua baru). Biarkan mereka berkembang secara alami dan sesuai dengan usianya.

So bapak ibu guru, semangat yuk!

2 komentar:

  1. Pertanyaannya, bagaimana mengasah jiwa kompetisi anak?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sering diikutsertakan lomba aja mbak...atau kalau ga kita ajak buat game2 kecil dirumah.selain itu kita bisa semacam cuci otak anak pakai nasihat2 gt.

      Hapus

Silahkan tinggalkan jejak di blog guru kecil ya. Mohon untuk tidak memberikan LINK HIDUP dalam kolom komentar. Jika memang ada,komen akan di hapus. Terimakasih;)