6 Mei 2016

Bukan Salah Saya (Kami) Memilih Jadi Guru



Jika hidup menyoal pilihan, tentu pilihan saya (kami) adalah pilihan terpasrah dalam hidup. "Kalau gak jadi guru, kami mau kerja apa?". Entah bagaimana orang memandang kami, yang jelas selama menjalani profesi ini ada sebuah kepuasan tersendiri yang saya (kami) rasakan. Pun kepuasan itu berlanjut sampai saat ini dalam status menjadi seorang istri dan ibu satu anak. Banyak yang nyinyir dengan pekerjaan kami, gak sedikit pula yang menganggap kami sebagai orang mapan dengan gaji jutaan. Bahkan bagi sebagian, kami ini adalah manusia maha tau segalanya dalam urusan “minteri” anak. 


Setiap pagi saya (kami) berbalut seragam kebanggaan layaknya pegawai beneran. Kaki dibungkus sepatu mahal yang bisa kami beli dengan cara nyicil atau bahkan dibeliin orang tua. Setiap pagi meskipun menjadi guru langganan telat akan tetap dinanti puluhan pasang mata yang siap menyerap ilmu dari kami. Bahkan kerja kami ibarat kerja Rodi di jaman Belanda hanya beda masa. Alih-alih ngebantu senior, tapi kalau tunjangan gak keluar kami siap menerima bulan-bulanan caci maki mereka. 

Jika soal kembali soal pilihan, kami tentu akan memilih kerja dengan gaji melimpah. Kami akan memilih kerja dengan gaji yang setara dengan kucuran keringat dan perasan otak tiap harinya. Jika menyoal pilihan dengan tergoda tawaran kerja lainnya, serta merta meninggalkan seragam kebanggaan dan berganti dengan seragam baru atau lebih memilih usaha mandiri. Jika pilihan itu selalu datang menggoda, lantas siapa pula yang peduli dengan mereka calon penerus bangsa?.

Guru adalah pekerjaan saya dan suami. Ditempeli profesi menjadi guru adalah satu dari jalan kami mengais rejeki meskipun tidak seberapa. Banyak yang bilang ke kami untuk banting stir demi mencukupi beban biaya hidup yang semakin hari semakin mahal. Tapi kembali lagi bahwa hidup adalah sebuah pilihan. Ada berkah tak terlihat dibalik pilihan kami, ada rejeki yang mengikuti saya, suami, dan anak saya melalui pekerjaan kami, terkesan munafik dan klise tapi apakah perlu saya ceritakan perjuangan kami tiap harinya? enggak! Saya tidak mengharapkan belas kasih, tetapi cukup doakan kami yang tergabung sebagai guru honorer di negeri ini. 

Terlalu muluk-muluk jika kami terus mengharapkan “bersahabatnya” kebijakan pemerintah. Terlalu berlebihan jika kami mengharapkan perhatian pemerintah. Gusti Allah berkata tidak ada yang merubah nasib kaumnya melainkan diri sendiri. Hidup adalah pilihan dan saya memilih menjadi guru mendampingi suami saya, meneruskan cita-cita bapak, Dan saya masih bertahan menjadi guru berkat doa dan ridho ibu dan ibu mertua saya. 

Saya tidak mengiba tetapi saya ingin sekali  terus membakar semangat diri saya seperti semangat suami saya. Lelah tidak dirasa dan akan hilang jika melihat anak kami. Sedih tidak kami turuti (lagi) karena diantara kami ada sekelompok anak-anak yang selalu membawa keceriaan. Dan dari mereka juga datang kebahagiaan meskipun hanya sebungkus energen dan sebotol sampo bayi sampai di rumah saya dengan berbalut plastik indomaret.  

Ah iya….saya harus bersyukur! Tidak ada yang salah dengan pilihan saya menjadi seorang guru. Tidak ada yang salah juga dengan pilihan saya dinikahi oleh seorang guru. Dan bagi kalian calon guru yang sekolahnya sekarang amat sangat gampang, tanyakan diri kalian lagi deh. Beneran siap jadi guru? Jangan hanya modal tas branded KW 5 dan alis tebel dandanan menor! Tapi coba tanya diri kalian, siap mengorbankan diri di dunia pendidikan negeri ini? Kalau siap, mari kita berjuang!!!


Postingan sok lebay bin mellow ini harusnya diposting pas Hardiknas, sih.
Telat 4 hari, gapapa deh!!!!

11 komentar:

  1. Kalau melihat keakrabanmu dengan murid-muridmu, dirimu guru yang mencintai dunia pendidikan yang mengajar dengan hati.
    Terus berjuang bu guru kecil..

    BalasHapus
  2. Murid2 tak melihat guru honorer / bkn. Yg penting guru mereka yg penuh perhatian. Setiap pilihan mmg membawa konsekwensi.. Apapun pilihanmu jk dijalani dg sungguh2 insya Allah barokah... Tetap semangat ya Say...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semangat mbak mechta....anak2 memang ga melihat honorer atau pns, yg mereka lihat ya gurunya....

      Hapus
  3. Tetap semangat, Cheila. I feel you karena dulu pernah jadi tata usaha status honorer. :)

    BalasHapus
  4. Semangat Chel..baru telat 4 hari kok. Kalo udah telat 2 bulan nah...kata dokter udah gak bisa diapa-apain lagi. Harus diterusin sampe lahiran (*apa sih?)

    BalasHapus
  5. InsyaAllah perjuanganmu ada hasilnya. Kalo masih bisa, akupun pengen bisa ngajar lagi...beberapa tahun lalu, aku ngajar SD dengan honor 50rb per bulan. Padhal jarak rumah ke sekolah kurang lebih 35km. Hehe...

    BalasHapus
  6. mbak cheila tugas mu sungguh mulia mbak, dua teman ku guru dan memang masih honorer, dia menikmati karena memang suka, semoga jasa para ibu guru mendapatkan balasan yang serupa

    BalasHapus
  7. Kecintaan murid kepada guru merupakan wujud dari penghargaan tertinggi mereka dan kami sebagai orang tua. Terus semangat mba

    BalasHapus
  8. bner tuh mba, setuju banget aku. Cukup allah saja yang membalas amal kita, pemerintah mah nomer dua, Semoga kita dikaruniai Keiklasan, amiin

    BalasHapus
  9. Terus semangat mba.. :-) saya juga seorang guru. Dan calon suami saya juga seorang guru. Saya sedang mencari-cari tulisan dan motivasi untuk diri saya. Meyakinkan bahwa pilihan ini tepat. InsyaAllah...

    BalasHapus

Silahkan tinggalkan jejak di blog guru kecil ya. Mohon untuk tidak memberikan LINK HIDUP dalam kolom komentar. Jika memang ada,komen akan di hapus. Terimakasih;)