20 Juli 2016

Bekerjalah dengan Hati



Beberapa hari yang lalu saya terlibat obrolan di bbm yang lumayan menguras hati. Bukan soal percintaan sih, tetapi lebih ke pencarian jati diri. Masih muda jadi saya sangat memaklumi teman guru saya yang satu itu memang lagi masanya cari jati diri terutama urusan profesi. Menjadi guru menjadi pilihan dia ketika saudaranya banyak yang menghindari profesi tersebut. Mengajar di SD favorit yang menjadi “incaran” banyak guru sudah dia dapatkan, bahkan kerja sampingan juga sudah didapatkan. Lantas, kurang apa?


“sebenarnya aku capek jadi guru, selama 2 tahun wiyata bakti ini aku gak dapat apa-apa. Boro-boro perhatian pemerintah. Jadi PNS aja susah! Aku mau resign habis lebaran ini.”

“baru juga 2 tahun jadi wiyata bakti. Saya aja udah mau 5 tahun, suamiku 8 tahun. Dan kami alhamdulillah dapat apa-apa.”

“hah.. serius? Dulu ya jaman aku kuliah, ketika aku berhasil mendapatkan sebuah prestasi itu ada pujian, sebuah pengakuan bahwa aku itu kompeten. Tapi selama jadi wiyata bakti ini aku dapat apa? Sama sekali gak ada."

Kira-kira begitulah sedikit obrolan kami di bbm malam itu. Dan ternyata apa yang teman saya rasakan saat ini pernah juga saya rasakan dulu.  Menjadi guru wiyata bakti memang berbeda dengan guru PNS, berbagai tunjangan menanti di daftar gaji. Sedangkan wiyata bakti? Tugas dan tanggung jawab setara dengan guru PNS, tetapi soal gaji? Jangan ditanya deh. Hahaha… herannya, profesi guru saat ini menjadi primadona. Apalagi pemerintah menjanjikan tunjangan sertifikasi. Mbokyao daripada kasih sertifikasi mending buat gaji kami para guru wiyata bakti? Biar gak ngenes-ngenes amat. Wuahahaha….

Tapi, semuanya kembali lagi ke diri kita. Sejauh mana kita bisa menikmati apa yang menjadi pilihan hidup kita. Saya menyimak aduan manja teman saya malam itu, dan ternyata dari apa yang kami obrolkan justru sangat membuka mata batin saya. Bahwa kebahagiaan itu tidak semata dari banyaknya materi yang kita terima setiap bulan, bukan hanya kita bisa membeli apa yang kita mau pakai keringat kita. Bahwa kebahagiaan itu ada di sejauh mana kita bisa BERSYUKUR dan bermanfaat untuk orang lain. 

Jika teman saya bilang selama 2 tahun mengabdi dia tidak dapat apa-apa, menurut saya itu hal yang salah. Analisa saya sangat banyak yang didapat, seperti :


  • Kita menjadi ibu lebih dini dan mempelajari berbagai karakter anak. Meskipun bukan anak sendiri.

  • Menjadi satu sosok panutan dan role model buat anak-anak, baik di segi penampilan maupun kebiasaan. Maka dari itu sebagai guru kita harus selalu mengajarkan dan meneladankan kebaikan.

  • Jadi orang yang di elu-elukan oleh anak. Dan biasanya ketika si anak nge fans sama gurunya, pasti akan cerita ke ortunya “bu guru tuh gini lho mah..blablablabla.

  • Belajar psikologi gratis dengan menjumpai berbagai permasalahan dan karakter anak di sekolah.

  • Membentuk bonding antara guru dan murid, yang efeknya akan sangat bermanfaat ketika menjadi ibu nanti.

  • Menjadi sosok maha guru yang paling benar daripada orang tua. Contoh, ketika ada PR dan diajarkan dengan cara dari orang tua anak akan bilang “bu guru gak gitu ngajarin caranya, mah. Nanti kalau pakai cara dari mamah, salah. Dimarahin bu guru, gimana?” Hahaha.

  • Menjalin relasi dengan orang banyak terutama para orang tua murid.

Soal rejeki? Hemm… saya ingat ketika teman saya mbak Astin dan juga Mbak Reni secara khusus japri ke saya. Mereka meyakinkan saya yang saat itu juga lagi curhat soal pekerjaan saya. Yang paling mengena pesan dari mbak reni adalah “bekerjalah dengan hati dan karena Allah, Insyaallah rejeki akan mengikuti”. Bahkan pesan itu sama dengan apa yang suami saya bilang. Yang penting niat kita bekerja untuk Allah, dan semoga selalu dituntun ke jalan yang benar. Jadi, menjadi guru wiyata bakti bukan satu pilihan yang keliru. Begitulah saya meyakinkan teman saya malam itu. 

Memang terlihat klise apalagi bagi mereka yang menganggap menjadi guru adalah pekerjaan yang mudah dan sepele. tapi percayalah, tidak ada hal yang sia-sia selama kita berniat baik. Jangan terlalu senang dan ingin dipuji, meskipun tidak diakui tetap percaya bahwa Allah maha mengetahui dan melihat. Insyaallah dengan mengajar akan menjadi tabungan kita di akhirat nanti. Bahkan beberapa orang yang saya temui justru ingin menjadi seperti kita. Menjadi guru, padahal kita aja yang guru masih suka gak bersyukur. Coba kalau jadi pengangguran? gak mau, kan?
 *******
trus piye, Tik? Ini udah selesai lebaran, jadi mau resign?”


“ ora sido, mbak. Mau jadi guru wae!”


“wuahahahahaha…. Dasar! Labil!”




1 komentar:

  1. Aku menikmati masa-masa menjadi guruuu lho.. Kangen bahkan. Ada banyak hal istimewa yang kita dapet dengan menjadi guru :)

    BalasHapus

Silahkan tinggalkan jejak di blog guru kecil ya. Mohon untuk tidak memberikan LINK HIDUP dalam kolom komentar. Jika memang ada,komen akan di hapus. Terimakasih;)