Edited by Chela. Diberdayakan oleh Blogger.

Ketika Dua Kurikulum Pendidikan Berjalan Bersama

Ketika dua kurikulum pendidikan berjalan bersama ~ Emang cuma kamu sama gebetan aja yang bisa barengan? Kurikulum mah juga bisa! Azaib emang sih. 


Setelah mendiknas dulu dijabat sama pak Anies, kurtilas atau kurikulum 2013 memang sempat di hentikan. Lha begitu di jabat pak Muhajir, mulai dijalankan lagi. 

Seperti di php in gebetan, ya. Lantas siapa yang bingung? 


1. GURU 
Credit by google

oh ini jelas. Apalagi kesannya Kurtilas kembali dipaksakan pelaksanaannya di sekolah. Terlebih paradigma guru senior maupun junior, muatan mata pelajaran masih terkotak-kotak setiap bidang. Bukan terpadu dan terkesan sekilas aja materinya.   

Diklat guru? Udah ada! Tapi buat aku percuma lha wong rata-rata gurunya sepuh dan mau pensiun. Karena sasaran penerapan kurtilas untuk sekolah yang terbilang baru ya kelas satu sama kelas empat. Guru kelas satu rata-rata juga udah sepuh yang menuju pensiun. Harus diklat dan menghadapi kondisi pembelajaran sesuai dengan kurikulum baru. Kebayang gimana bingungnya. 

Belum dalam aspek penilaian yang haru s memecah setiap mata pelajaran dalam kopetensi dasar. Kata mereka yang menjalankan kurtilas, penilaiannya semakin rumit dan sangat menyita waktu & tenaga.

2. Murid 

Nggak sedikit anak-anak yang bingung juga dalam pelaksanaan kurikulum baru. Mulai dari saat mereka melihat buku tema. "Kok... Nggak ada matematika, pkn, ipa atau bahasa?". Ya.. sadar tidak sadar anak- anak juga terpatri bahwa pelajaran memang sudah di kotak-kotakkan sesuai bidangnya. 

Makanya, kehadiran kurtilas sempat bikin mereka bingung juga tetapi semakin dilihat anak-anak justru happy. 

Karena : 

😍 Buku pelajaran yang harus dibawa lebih sedikit. 

😍Materinya tematik dan bisa menyesuaikan kondisi lingkungan sekolah.

😍 Buku tema menyajikan pembelajaran yang benar-benar melibatkan aktifitas anak-anak. Disini adalah PR guru untuk bisa menyajikan pembelajaran yang menyenangkan. 

😍 Anak-anak setiap memulai pelajaran selalu diajak untuk melakukan kegiatan apersepsi yang menyenangkan. Seperti : tepuk semangat, tepuk ABITA. dan susana kelas jadi riuh. 

😍 Untuk penanaman karakter kebangsaan, sebelum masuk kelas anak-anak berkumpul di lapangan untuk berdoa bersama. Dilanjutkan menyanyikan lagu kebangsaan dan nasional. Dan beberapa tepuk serta yel-yel.


3. Orang Tua / Wali Murid 

Banyak orang tua yang bingung juga karena mereka meilihat buku pelajaran anaknya kok berbeda. Bagi orang tua yang kritis, satu dua komentar akan mereka lontarkan. "Pemerintah itu kok sukanya ganti menteri ganti kurikulum. Mesake anak-anak jadi objek kelinci percobaan". 

Nah lho, kasihan kan? Apalagi bagi mereka orang tua yang masih berpatokan sama nilai tes. Secara nilai kurtilas berbeda dengan kurikulum KTSP. Dimana kurtilas lebih ke penjabaran secara narasi, bukan dengan skor angka. 


Bagusnya ketika sekolah menerapkan dua kurikulum adalah seolah saling melengkapi satu sama lain. Kurikulum KTSP memang muatan materinya segitu banyak, anak - anak memang jadi terkesan dijejali banget sama materi. Sementara jika melihat kurtilas, jauh lebih banyak ke proyek individiu maupun kelompok. 

Disitu aku beberapa kali mendapati usulan dari muridku untuk "bu... Tepuk kayak kelas 4 gitu lho..." Bahkan "bu... Pelajarannya yang praktek gitu kayaknya asyik". 

Tapi, ada saat dimana dalam pelaksanaan Kurtilas menjadi terhambat karena pengiriman buku tema terlambat sampai menjelang tengah semester. Disitu guru kelas 1 dan 4 sempat kebingungan. Apalagi yang menyoal RPP serta format penilaian. Memang harus pro aktif nanya sekolah yang sudah menerapkan lebih dulu.

Kalau untuk kelas 2,3, 5 dan 6 yang masih KTSP sih soal perangkat pembelajaran memang sudah ada tinggal disesuaikan. Tapi ya gitu... Aku heran kenapa kurikulum 2013 tapi di pelaksanaan ujian nasionalnya masih dengan model KTSP. 

Kasihan anak-anak yang sekolahnya menerapkan kurtilas dari kelas 1-6. Harus belajar 2x lebih banyak materi. Baik kurtilas maupun KTSP. Nggak cuma murid denk... Guru juga. Haha.. 

So far.. sebagai pelaksana kebijakan pemerintah di ranah pendidikan memang kehadiran kurtilas sampai saat ini memang masih pro kontra. Apalagi bagi sekolah yang menerapkan dua kurikulum seperti sekolahku. Bagaimanapun memang keberhasilan kurikulum itu dilihat dari bagaimana keberhasilan guru dalam mengajar di kelas.

Tapi kalau dikit-dikit ganti kurikulum... Mau dibawa kemana pendidikan negeri ini?? Ya kan?? 

Padahal.... Bukan hanya tugas guru untuk membentuk karakter anak. Tugas utama ada di orang tua masing-masing. 


Kesimpulannya adalah sejauh pelaksanaan dua kurikulum di sekolah memang memberikan aroma segar di sekolah. Dan anak-anak bisa lebih happy mengikuti pembelajaran di kelas.


Harapannya adalah jika memang kurtilas dipatenkan untuk seterusnya, diharapkan ada pembekalan lagi terutama untuk membuat format penilaian. Kasihan masih banyak yang bingung terutama yang udah senior dan menjelang pensiun.

8 komentar

  1. Pernah nyobain ngajar dan nyusun kurikulum juga setaun setengah dulu, ktsp dan k-13, mayan rempong πŸ˜€

    BalasHapus
  2. Hehehe.. Puyeng jg ya memilih dan menerapkan kurikulum :)

    BalasHapus
  3. Anakku kelas enam. Sehari-hari dia pake kurtilas pembelajarannya. Kata dia nyenengin. Mudeng. Tapi ujiannya ntar pake ktsp 2006. Di drill besok kalo sdh semester 2. Mesakke ��

    BalasHapus
  4. jadi inget dulu waktu SMA terjadi transisi kurikulum baru dari kurikulum lama. padahal waktu SMP, sekolah saya sudah jadi sekolah percontohan kurikulum baru.

    ga usah disebutin tahun berapa, biar ga terlalu ketahuan umurnya, hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. hemmm... jangan2 peralihat dari CBSA ke kurikulum yang apaa gitu.hahaha

      Hapus

Silahkan tinggalkan jejak di blog guru kecil ya. Mohon untuk tidak memberikan LINK HIDUP dalam kolom komentar. Jika memang ada,komen akan di hapus. Terimakasih;)