Edited by Chela. Diberdayakan oleh Blogger.

Kisah Remaja Milenial Dalam Balutan Film My Generation


  

Flashback dulu ah di masa remajaku. Aku bilang sih masa remajaku terlebih masa putih abu-abu tak seindah mereka teman-temanku. Entahlah, aku masuk dalam barisan anak cupu yang serba dilarang ini itu sama orang tuaku. Terlebih soal suka dengan lawan jenis dan bawaannya selalu dicurigai.



Iya, aku nggak nyaman dengan yang dikit-dikit nggak boleh. Keluar malam nggak boleh, ada temen cowo main kerumah aja begitu tamunya pulang aku dauber habis-habisan sama ibu. Dibilang sekolah nggak bener lah, pacaran terus lah. Hellow!!! Disaat aku menjelaskan keadaan sebenarnya, aku dianggap seorang anak bandel dan pemberontak. 


“dulu… mbak kamu itu nggak senakal ini dan sangat gampang buat dikasih tau.”


Iyes, itu dulu!!!!! Ini jamannya udah beda. Bahkan yang ada, dengan aneka macam gertakan dan larangan itu tidak membuatku takut. Justru aku semakin berontak dengan aneka pertanyaan di otakku. Untuk apa aku jadi anak penurut toh pada akhirnya aku tetap dicurigai orang tua. Untuk apa aku diam diri di rumah sementara teman-teman menunggu di alun-alun kta. Nggak sekedar nongkrong, biasanya memang kami kumpul untuk membahas kegiatan komunitas. Buat apa aku takut punya pacar, toh nggak pacaran aja aku dicurigain punya pacar. 


Oh please…. Aku benar-benar merasakan problematika remaja seperti itu. Dan aku terbebas dari itu semua ketika aku bertemu dengan laki-laki yang sekarang menjadi suamiku. 


Tapi, tidak semudah itu terlepas dari sikap otoriter orang tuaku. Aku pernah diwanti-wanti bapak terutama, untuk mendidik anakku dengan apa yang sudah orang tuaku terapkan. Oh my God! Aku sadar, anakku lahir di generasi milenial yang tenar dengan sebutan kids zaman now. Katakanlah aku mendidik dengan model yang seperti orang tuaku terapkan. Seolah berkaca, aku nggak mau anakku tumbuh terlebih di masa pencarian jati dirinya akan menjadi sepertiku. Atau bahkan melebihi.
 

Paham memang bahwa anak jaman sekarang itu sangat kritis, salah didik sedikit aja kita akan menuai protes dari mereka. Makanya, memang benar bahwa kita harus mendidik anak sesuai dengan jamannya. Tidak meninggalkan pola didik yang baik di jaman sebelumnya dan tetap menyesuaikan bagaimana keadaan saat ini. 


 

Fenomena kids jaman now inilah yang diangkat oleh sutradara Upi bersama dengan IFI Sinema dalam film “My Generation”.  Dengan pengambilan angel dimana generasi milenial saat ini memiliki karakter yang unik, permasalahan yang lebih kompleks, serta tak hanya menampilkan problem dari sudut pandang orang tua saja. Justru film ini mengajak orang tua belajar memahami karakter pada generasi milenial melalui sudut pandang remaja itu sendiri. 

Film My Generatiom menceritakan persahabatan 4 anak SMA: Zeke, Konji, Suki, dan Orly. Keempatnya merupakan remaja berbeda karakter dan menghadapi masalah berbeda pula. Mereka mendapat hukuman karena video yang memprotes guru. Keempatnya tidak diizinkan pergi berlibur.
Mereka tentu tidak menerima hukuman itu dengan ikhlas sepenuhnya. Keempat remaja itu pun mulai melakukan pemberontakan. Mereka pun menemukan banyak kejadian dan petualangan yang memberikan pelajaran bagi kehidupan.


Dengan menggandeng 4 bintang muda pendatang baru, pembuatan film My Generation ini sudah melalui proses riset terhadap kids jaman now baik di perkotaan maupun pedesaan selama kurang lebih 2 tahun. Digawangi bintang muda pendatang baru seperti Lutesha sebagai Suki, Bryan Langelo sebagai Zeke, Alexandra kosasie sebagai Orly, Arya Vaco sebagai Konji membuat My Generation terlihat fresh. Dan diramaikan juga dengan aktris / actor senior Indonesia seperti Tyo Pakusadewo, Indah Kalalo, Karina Suwandi, Surya Saputra, Ira Wibowo, Aida Nurmala dan Joko Anwar. 


Keempat bintang muda sendiri memiliki peran yang unik dimana diharapkan kehadirannya mampu memberikan gambaran generasi millennial yang sebenarnya. 


 
Film ini akan tayang pada tanggal 9 November 2017 di bioskop kesayangan kalian. Aku rasa memang perlu banget orang tua buat nonton film ini. Karena film ini bisa jadi bekal  untuk menghadapi anaknya yang sudah masuk dalam jajaran kids jaman now. Dan memang, menjadi orang tua itu kita tidak bisa memaksakan kehendak. Sejatinya, anak tetaplah anak dan bukan perwujudan orang tua dalam bentuk mini. Anak butuh didengar, dihargai dan dikasihi. Karena salah langkah sedikit saja, jurang pergaulan yang kurang pas justru sangat menghantui di depan mata. 



8 komentar

  1. Wah, makin penasaran deh kalau sutradaranya UPI, pasti ada pesan moral yang 'kena'banget.

    BalasHapus
  2. hihi iya, pada jaman dahulu ibumu/bapakmu/ tantemu/om kamu itu nganuuuu....hwahaha, tanpa sadar kita suka ngucap itu.

    BalasHapus
  3. Yess.. Mbak Chela.
    Paling tidak suka dibanding-bandingkan.
    Karena kalau sesuatu itu jelas berbeda, maka tidak ketemu titiknya. Adanya malah pertentangan.

    BalasHapus
  4. anak sekarang itu kayaknya gedean dikit udah merasa dewasa
    kadang udah merasa bisa menentukan pilihan hidupnya
    jadi orang tua hrs memahami itu

    BalasHapus
  5. Yupz.. Paling gak suka itu dicurigaii, udah nurut tapi tetep aja dicecar dengan berbagai macam pertanyaan.. Kan menyebalkan :(

    BalasHapus
  6. dulu dan sekarang,, semua ga sama.. udh beda jaman..

    BalasHapus
  7. anak muda vs orang tua, wajib non bareng keluarga nih

    BalasHapus
  8. Remaja sekarang lebih kritis karena kemudahan mendapat informasi, ya.

    BalasHapus

Silahkan tinggalkan jejak di blog guru kecil ya. Mohon untuk tidak memberikan LINK HIDUP dalam kolom komentar. Jika memang ada,komen akan di hapus. Terimakasih;)