Edited by Chela. Diberdayakan oleh Blogger.

Perangi Hoax dengan Langkah Bijak dan Mudah

Bukan menjadi barang mewah lagi ketika sekarang ini berbagai kalangan sangat dekat dengan gadget. Globalisasi memang menyuguhkan kemudahan bagi masyarakat termasuk Indonesia. Yang paling dirasakan adalah kemudahan kita memperoleh informasi baik dari dalam negeri maupun luar negeri. 


Jika dahulu berita bisa kita jumpai dalam media masa seperti koran, majalah atau televisi. Sekarang dunia seolah dalam genggaman dan sedekat usapan jari. Ya, internet menjadi salah satu kebutuhan hidup dewasa ini. Baik dewasa maupun anak-anak, internet memang menjadi semacam candu. 

Indonesia adalah negara dengan salah satu pengguna internet paling banyak. Padahal kita juga paham bahwa kecepatan internet di Indonesia belum mapu menyamai negara maju. Menurut survei lembaga  riset pasar e-Marketer, Indonesia menduduki peringkat ke 6 di dunia sebagai pengguna internet terbanyak di dunia.

Ada dampak positif maupun negatif yang bisa kita terima dengan keberadaan internet. Namun, dampak negatif sangat menghantui para pengguna internet. Ujaran, berita, bahkan video yang berisi kebencian atau menghasut belakangan ini marak beredar. Ironisnya, bukan menjaring berita yang layak untuk dibagikan. Banyak yang termakan berita ataupun gambar hoax yang beredar di internet. Bahkan, adu argumen dan perpecahanpun semakin mewarnai kehidupan bermasyarakat akhir-akhir ini. 

Mengidentifikasi HOAX dan Kasus Hoax dalam Masyarakat

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, hoax artinya kata yang tidak benar, berita bohong atau tidak bersumber. 

Keberadaan berita hoax sendiri sangat dekat dengan pengguna internet. Sebagai contoh, mengenai vaksin yang dapat mengakibatkan autisme. Dimana selama lebih dari 15 tahun terakhir, telah banyak institusi independen yang menguji hubungan antara vaksin dengan autisme dan tidak menemukan hubungan antara paparan thimerosal dengan autisme. 

Contoh berikutnya adalah marak beredar kabar bahwa mengkonsumsi udang dan vitamin C dapat mengakibatkan kematian.  Dilansir oleh Hoax-slayer, klaim bahwa vitamin C bisa mengubah elemen tak beracun menjadi racun arsenik yang berbahaya hingga menyebabkan kematian tak didukung dengan dasar fakta yang jelas. Justru pakar peneliti kesehatan menemukan reaksi dari vitamin C dan arsenik dapat meningkatkan efektivitas obat kanker.

Sebagai pengguna internet tentu sangat dirugikan dengan beredarnya dua contoh kasus hoax diatas. Maka dari itu, sebelum mempercayai kebenaran sebuah berita tentu dibutuhkan kecermatan yang sangat mendalam.

Akan sangat rugi dan menyita waktu untuk termakan berita hoax. Apalagi, keberadaan hoax semacam api yang menyulut perpecahan. Menimbulkan kebencian bahkan saling hujat dalam dunia maya khususnya dan tak jarang berlanjut dalam dunia nyata.


Peran Guru dalam memerangi hoax

Beredarnya berita hoax tentu meresahkan berbagai pihak apalagi bagi seorang guru. Tentu dengan ranah pendidikan usia anak-anak, terkadang anak belum bisa memfilter kebenaran akan sebuah berita. Maka dari itu diperlukan langkah sigap untuk memerangi hoax. 

Mengidentifikasi berita baik dari segi kebenaran dan diikuti dengan mencari sumber yang valid bisa menjadi langkah awal. Tentunya tidak serta merta percaya dengan judul yang tertera. Sebaiknya lebih memahami isi berita dan mencari referensi lain terlebih dahulu. 

Membiasakan membaca sampai tuntas juga sangat dibutuhkan. Dengan begitu berita tidak diterima dengan otak hanya setengah-setengah. Terlebih dalam sebuah survey yang dilakukan oleh Ilmu Komunikasi Universitas Bakrie kelas Etika Jurnalistik dan Hukum Media, yang diampu oleh Algooth Putranto, terhadap 300 mahasiswa di 30 perguruan tinggi negeri maupun swasta yang tersebar di lima wilayah Jakarta dengan survei tatap muka. Menyebutkan bahwa sebagian responden menerima berita dan mengecek aplikasi messenger kemudian menyebarkan dan tak tuntas membaca. Memang disitulah berita hoax rawan dengan mudah tersebar. 

Membiasakan budaya literasi. Seperti membiasakan lima menit sebelum jam pelajaran digunakan untuk budaya literasi. Hal ini diharapkan meningkatkan minat baca terhadap peserta didik, mengingat Indonesia masuk dalam kategori rendah dalam urusan minat baca. Pembiasaan baik ini memang diharapkan dapat membantu anak didik untuk mencintai kebiasaan baca dan membekali mereka dengan berita hoax. 

Terakhir adalah dengan mengajak para orang tua untuk bekerja sama dengan sekolah. Dimana ketika mendapatkan berita tidak hanya diterima dengan sepihak. Selain itu untuk lebih mendampingi peserta didik saat menggunakan gadget ketika dirumah. Karena bagaimanapun keluarga adalah pendidikan pertama dan utama bagi seorang anak. 

Jadi, hoax sangat dekat dengan kita sebagai pengguna internet. Dengan begitu dibutuhkan sikap bijak dalam berinternet. Selain itu langkah sigap yang diberikan guru seyogyanya mampu membentengi dalam penyebaran hoax terlebih bagi anak-anak yang masih seperti spons. Menyerap apa saja dari yang dilihat, didengar, dan dibaca. 


Chela Ribut Firmawati, S.Pd
Guru SDN 1 Ngembak 


Sumber referensi : 
http://www.alodokter.com/vaksinasi-dapat-menyebabkan-autisme

https://m.merdeka.com/sehat/makan-udang-dan-vitamin-c-bisa-mematikan-benarkah-keracunan-makanan.html
http://www.kbbionline.com/arti/gaul/hoax
https://kominfo.go.id/content/detail/4286/pengguna-internet-indonesia-nomor-enam-dunia/0/sorotan_media
http://www.bakrie.ac.id/id/130-news-ub/prestasi/prestasi-ilmu-komunikasi/1884-hasil-survei-mahasiswa-tidak-tuntas-membaca-informasi-sebabkan-peredaran-hoax-di-kalangan-mahasiswa-jakarta

9 komentar

  1. Pas banget ya momennya, hari pahlawan, kita menjadi bijak menanggapi berita, dan mengajarkannya ke orang-orang terdekat. Kita bisa menjadi pahlawan untuk diri sendiri memerangi hoax untuk saat ini. Hehehe

    BalasHapus
  2. Iya nih, banyak yg dapat berita langsung sebar aja nggak diteliti dulu benar nggak nya. Sudah heboh, eh ternyata hoax. Memang harus bijak ya memilah mana hoax mana bukan.

    BalasHapus
  3. Naah aku termasuk percaya yang larangan makan udang ama vitamin C itu hiks. Makasih Mbak pencerahannya.

    BalasHapus
  4. Jaman sekarang saking banyaknya berita hoax, kita jadi bingung bedain mana berita bener dan mana yg cuma hoax. Kita bener-bener harus bijak memilah yaa

    BalasHapus
  5. Beberapa kali baca guru2 yg juga blogger nulis ini, apa ada lomba atau gmn mbak? hahaha kepoh.
    Guru sbg pendidik emang salah satu yang punya peran besar utk memberi pemahaman kpd anak2 dan terutama ortu/ masyarakat spy gk mudah percaya sama hoax ya mbak TFS

    BalasHapus
  6. Saya termasuk orang yang tidak mudah percaya hoax dan selalu saya cari referensi yang tepat. Masalahnya jika ada teman yang sangat percaya hoax tuh gak nyaman banget, apalagi jika mereka kukuh banget dengan pendpatnya, huft saya sampai pernah lho berdebat

    BalasHapus
  7. iya nih, di jaman skrg suka susah nyaring2 mana berita yg bener mana yg hoax.
    saking mudah nya berita menyebar yaa.

    BalasHapus
  8. Kudu pandai-pandai memilah dan menerima berita. Di grup2 WA yang aku ikuti sering dapat berita hoax. Dan adaaa aja yang main forward ke sana kemari eh nggak tahunya muncul berita lainnya yang menyatakan berita sebelumnya hoax. Kan jadi repot buat memcabut apa2 yang sudah diforward ke banyak orang 😁

    BalasHapus
  9. Kadang sebel banget kalo di grub banyak yg share berita2 hoax begitu. Makanya banyak grub wa yg aku lbh milih exit mba. Krn g ada faedahnya.. Orang2 yg nyebarinpun pas ditanya kenapa nyebarin hal2 yg berbau fitnah, bohong, jwbnnya simple banget.. "cuma nerusin kok tadi". Dan banyak yg cm baca judul doang kan :(

    Itu jg yg kdg bikin aku sebel kalo baca komen di blog, yg kliatan bangwt dia ga baca :p. Pdhl aku udh tulis jawabannya, ttp aja ditanya. Huft...

    BalasHapus

Silahkan tinggalkan jejak di blog guru kecil ya. Mohon untuk tidak memberikan LINK HIDUP dalam kolom komentar. Jika memang ada,komen akan di hapus. Terimakasih;)