Edited by Chela. Diberdayakan oleh Blogger.

Secangkir Kopi, Seteguk Kenangan

Hujan, dan diluaran sana titik air sedang menari indah bersama dengan kenangan. Ya, kenangan yang tak kalah lincahnya menari dalam ingatanku. Seiring dengan sebuah aroma yang aku hirup, dalam genggaman dan yang selalu setia menemaniku kapanpun. 



"Ini tanaman kopi? Wah, luas sekali lahannya?" Ucapku seraya takjub. 

"Ya.. ini kebun kopi keluargaku. Tak seberapa luas tapi tanaman ini yang setia menemani keluargaku. Bahkan sedari kecil aku sudah sangat dekat dengan kopi."

"Lalu, semerbak wangi ini dari mana?" Tanyaku penasaran. 

"Ini... Coba deh dibauin." Disodorkannya sebuah bunga putih kecil cantik yang wanginya sungguh khas. 

"Bunga kopi?" Tanyaku lagi. 

"Iya... Sepanjang jalan tadi kalau kamu menghirup aroma wangi tuh bukan jalan hantu. Tapi dari wangi bunga kopi ini."

"Ah... Sial kau!! Aku pikir kamu akan membawaku ke negeri para setan!" Umpatku. 

"Nggak akan kali, non. Mana tega aku menyesatkanmu. Yang ada aku bakal ngajak kamu begadang sambil ngopi!" Ucapnya terkekeh. 

*** 
Kenangan itu muncul manakala hujan yang tak kunjung reda sedari pagi. Hawa dingin dan syahdu memang menjadi alasan utama untuk mager. Padahal, ajakan ngopi cantik dari sahabat tak kunjung aku balas. 

Ya, aku ingat ketika dia mengenalkan aku dengan tradisi minum kopi di keluarganya. Sebuah tradisi yang sangat lekat dengan penduduk desa Kayuwangi, dimana tanaman kopi menjadi satu komoditi pertanian yang cukup tenar di desanya. 

Bahkan, aku sering menemukan biji kopi yang masih dijemur dan menunggu untuk di sangrai lalu kemudian ditumbuk menjadi bubuk kopi.
Biji kopi yang disangrai.
Dokumen pribadi : Yohanes Setyawan

Tradisi menyeduh kopi di keluarganya memang memiliki nilai tersendiri di sudut pandangku sebagai orang asing disana. Ya, aku melihat kedekatan itu terjalin dalam secangkir kopi. Cerita remeh temeh sampai bobot berat semacam erupsi gunung Merapi dan kasus korupsi juga dibabat habis. Bahkan egosentris antara anak dan ibu bisa redam dengan kopi. Tak heran jika kopi menjadi minuman favorit di keluarga Koko. Bahkan aku pun mulai menyukai tradisi minum kopi itu.

"Ah iya... Setiap libur semester, bagaimana aku mengobati rinduku kepadamu?" Tanyaku malam itu. 

"Sms atau telfon kan bisa. Atau, ketika kamu sepi dan sendiri saat aku sibuk di gereja. Minumlah kopi. Anggap saja aku sedang berada di sampingmu." Jelasnya. 

"Masa iya aku harus datang ke rumahmu dan bilang ke ibu minta kopi, begitu? Ah... Aku malu lah." Protesku. 

"Ibu sudah berpesan, kelihatannya kamu mulai menyukai kopi. Kalau kamu rindu aku dan kopi ya cari aja yang bisa membuat kamu ingat sama aku." Ucapnya.

"Emang ada???" Tanyaku.

Dia hanya diam, sambil asik menyeduh kopi yang sudah aku siapkan untuknya. Minum kopi di teras dan malam minggu menjadi penyempurna kedekatanku dengannya.
***
Aku ingat, ibu selalu membeli sebungkus kopi di warung depan rumah. Meskipun keluarga kami bukan pecinta kopi, tapi bapak sesekali meminta ibu untuk menyeduh segelas kopi. Sembari nonton tinju dan disuguhkan bersama ketela rebus. 

Tapi suatu malam, aroma semerbak kopi seduhan bapak menggodaku untuk mencobanya.

Srruuuupptt...aaakhhhhhhh... 

Eh... kopi ini kok sama seperti... Akupun mencoba meminumnya lagi dan memastikan rasa kopi yang diseduh bapak.

"Ini kopi apa, pak?" Tanyaku.

"Kopi Kapal Api, nduk.  Kenapa?" Bapak kembali bertanya. Cukup kubalas dengan senyuman, tetapi aku ingat betul. Takaran kopi  dan gulanya begitu pas, mengingatkan aku dengan kopi buatan ibunya Koko. 

Oh... Jadi ini rasanya kopi kapal api? Gumamku.

"Hei... Aku sudah ngopi nih. Sesuai yang kamu bilang, kopi yang bikin ingat sama kamu. Kopi kapal api!" 

Sebuah sms aku lempar ke dia di sudut desa itu.

"Gimana? Enak kan?? Lagi ngopi ya? Ciye yang lagi kangen sama aku."

**
Dan ya, rasanya aku ketagihan untuk terus mencobanya. Bahkan sampai sekarang disaat kenangan itu jauh aku tinggalkan beberapa tahun yang lalu, kopi Kapal Api yang selalu dia katakan masih menemaniku. Bersama dengan kenangannya. 

Entah, harus dengan bagaimana aku menghapusnya. Yang jelas pertemuanku dengan dia membuatku tersadar bahwa dengan segelas kopi, kita bisa saling bercerita, berbagi rasa, bertukar rindu, bahkan berurai air mata.

Buatku, kopi ya Kapal Api... #KapalApiPunyaCerita


-di sudut kota Purwodadi
Diketik saat hujan nggak reda sehari semalam.
Akhir November 2017-

10 komentar

  1. Tak ada yang lebih menyenangkan dari pada mengakhiri hari dengan secangkir kopi :)

    BalasHapus
  2. Kopi dan hujan = kenangan yg membayang. Hahaha.... aku jg bukan pecinta kopi. Tapi sejak kenal kapal api kok ya langsung sukak yaaa... toss dl deh ah mbacell✋

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ikutan tosss, ngopi sambil terbayang kenangan masa lalu yang tak terlupakan.... #edisigagalmoveon

      Hapus
  3. ayah dan kopi selalu meninggalkan begitu banyak kenangan.

    BalasHapus
  4. Tentang kopi memanang selalu banyak cerita. boleh lah dibuatin secangkir kapal apai

    BalasHapus
  5. Jadi inget rasa kopi susu di kereta..

    BalasHapus
  6. Saya paling suka bau biji kopi yang disangrai di wadah tradisional kyk gtu. Apalagi kalau pas liburan di dataran tinggi, bangun pagi, lalu mencum aroma kopi, nikmat :D

    BalasHapus
  7. Mantaaap...
    Kopi Kapal Api memang menggugah selera yaaaa...

    BalasHapus

Silahkan tinggalkan jejak di blog guru kecil ya. Mohon untuk tidak memberikan LINK HIDUP dalam kolom komentar. Jika memang ada,komen akan di hapus. Terimakasih;)