Edited by Chela. Powered by Blogger.

Ketika Guru Tak Lagi Digugu (dan Ditiru)

Apa harus begini?

Awalnya aku nggak tahu, linimasa begitu ramai tentang Pak Guru Budi. Guru seni musik dan masih honorer di daerah Sampang Madura. Berkat tag salah seorang teman, akhirnya aku membaca runtutan peristiwa yang akhirnya nyawa seorang guru harus hilang akibat ulah muridnya.

Source by google


Aku MIRIS. Potret pendidikan di Indonesia kembali tercoreng. Dan aku juga guru, rasanya sedih. Apalagi Pak Guru Budi harus meninggalkan seorang istri dan buah hati yang masih dalam kandungan. Ya Allah.. berikan tempat yang baik untuk pak guru Budi. Dan berikan ketabahan untuk keluarga yang ditinggalkan. 


Bagaimanapun juga kasus itu harus ditindak lanjuti. Terutama untuk pelakunya yang muridnya sendiri. Aku sih berharapnya pemerintah membuka mata  selebar-lebarnya bahwa pendidikan Indonesia ini memang butuh sebuah revolusi. Bukan hanya sibuk ngurusi perubahan kurikulum yang semakin hari semakin membebani para pelaku pendidikan. Siapa?? Guru tentunya.


Oke, aku sebenarnya agak gimana membahas ini. Tapi karena Diajeng Witri ngajak colabs, ya sudah kutumpahkan saja uneg-unegku di tema kali ini. Baca juga tulisan diajeng disini :


Jadi begini, dulu sama sekarang itu beda. Sepengalaman aku jadi murid, dijewer pernah, dihukum berdiri di depan kelas juga pernah, nggak boleh ikut pelajaran juga pernah, dipanggil kepsek karena mintain duit jajan temen-temen, bahkan ditarik paksa untuk keluar kelas karena masih makan permen juga pernah. Lapor ke orang tua? Sering! Tapi, bukan untung yang kudapat, tapi malang yang kuraih. Seolah sepakat dengan guruku, di rumah akupun dihukum orang tuaku.

"Tidak mungkin gurumu menghukum tanpa sebab, kamu pasti melakukan kesalahan."

Begitulah yang bapak bilang. Sekalinya bapak saat itu menjabat sebagai kepala sekolah di SD tempat aku sekolah. Semacam pretige juga nggak aku dapat. Biasa aja, layaknya siswa lain. Tapi ya gitu temen-temen aja yang dikit lebay "ah mentang-mentang anak kepala sekolah".

Jadi antara guru dan orang tua itu kompak. Dan jaman dulu tinggak kesopanan murid dengan guru tuh nomor wahid banget. Kalau jalan depan guru harus menundukkan badan sambil bilang permisi. Ngomong sama guru kalau nggak bisa bahasa Jawa halus ya pakai bahasa Indonesia. Tapi sekarang??? Seolah semua nilai budinpekerti dan kesopanan itu sangatlah mahal.

Bukankah tugas guru mengajarkan semua itu?

Iya. Tugas guru itu banyak, salah satunya yang menurutku berat adalah meneladankan sikap yang baik. Ingat, MENELADANKAN bukan mengajarkan secara teori. Karena setiap gerak-gerik kita selalu disorot oleh sepasang mata anak manusia yang tiap harinya ketemu di sekolah. 

Tapi yang harus diingat adalah guru berperan ya disekolah. Kembali lagi yang paling utama adalah peran keluarga. Sekolah pertama seorang anak adalah ibu lalu kemudian bapak, dan berlanjut di lingkungannya. Baru kemudian orang tua membutuhkan bantuan sebuah instansi yang disebut sekolah, dengan adanya campur tangan sosok guru. 

Tapi kenyataan sejauh 7 tahun aku mengajar SD, apa yang aku lihat jujur bikin aku ngelus dada. Belajar aja nggak mau, orang tua yang kurang peduli dengan anak juga ada, pasrah sepasrah-pasrahnya sama guru tanpa ikut memperhatikan progress si anak, bahkan ada golongan orang tua ambisius yang hobinya protes ke sekolah dengan dalih anaknya di rumah begini tapi di sekolah akhirnya begitu. 


Kalau nggak terima, siapa yang disalahkan?? jawabannya adalah GURU. 

Iya guru. Baik ngak dapat pujian, tapi kalau buruk bakal dicela sampai borok-boroknya. 

Apalagi mengingat seorang almarhum pak Guru Budi adalah guru honorer. Dimana guru honorer itu sebenar-benarnya pahlawan tanpa tanda jasa. Nggak ada perhatian pemerintah, bahkan disepelekan murid, dan ya gitu deh nasibnya. 

Murid jaman sekarang terkesan menyepelekan. Aku melihatnya seperti itu, apalagi untuk mapel di luar eksak. Ada kesan dimana pelajaran nggak penting. Jadi buat apa serius belajar toh nanti juga lulus. Mungkin seperti itu. 

Kok bisa? Entahlah, mungkin ini kecurigaanku saja. Haha. Karena ya begitu deh, paradigma orang tua masih menganggap nilai eksak itu harus tinggi. 

Guru tidak bisa sembarangan menghukum murid

Ya, jaman sekarang guru tidak bisa seenaknya aja menghukum. Apalagi ada undang-undang perlindungan anak. Yang menurutku malah penerimaan orang awam kebanyakan anak jadi terkesan manja. Karena ya boleh lah nakal.

Tapi dalam kenyataan, guru kasih PR juga banyak yang nggak dikerjakan. Alasannya sepele... LUPA. Guru mau marah? Kebanyakan anak lapor orang tua, anak mogok sekolah, orang tua datang ke sekolah dan minta anaknya jangan dimarahin. 

Ada lagi, nggak bawa buku dan nggak natain jadwal pelajaran. Alasannya nggak belajar, guru nggak bisa seenaknya nyuruh anak keluar kelas. Bisa-bisa ya kayak yang aku tulis diatas itu. Lapor orang tua. 

Jadi anak punya tameng dari hukuman guru yaitu orang tua. Padahal sekali dua kali sampai tiga kali perungatan baru deh guru biasanya ambil tindakan. Nggak asal hukum, nggaknasal jewer bahkan nggak asal tendang aja. 


KARENA KITA PAHAM DAN SADAR BAHWA MEREKA ITU ANAK ORANG, BUKAN ANAK SENDIRI. 

Maka dari itu, disini peran guru sebenarnya adalah kolaborasi dengan orang tua. Tapi orang tua yang sadar dengan pendidikan anaknya. 

Bahwa sebenarnya anak-anak juga meniru dari yang dilihat. 

See kan, sinetron jaman sekarang anak sekolah udah pada nge-gank, trus rame-rame benci gurunya, tawuran lah apalah. Bahkan pas lagi rame sinetron GGS (Ganteng-Ganteng Serigala) juga cara berantem muridku mirip sama di sinetron kalau pas perang. 

Disitu juga butuh filter orang tua untuk membatasi tontonan anak. Jangan kok asal nonton terus anaknya sambil belajar ya sambil nonton sinetron. Atau jauh lebih memperbolehkan nonton sinetronnya ketimbang belajar. 

Jaman aku dulu, ibu ketat banget peraturannya. Matiin TV dari jam 6 dan baru nyala lagi jam 9. Biar apa? Belajarku sama bapak jadi nggak terganggu. Dan kebiasaan itu berlanjut sampai sekarang. 

Trus yang penting juga pergaulan anak. Lingkungan sekitar juga berperan dalam membentuk karakter anak. Orang tua juga perlu memberi peraturan dan batasan pergaulan anak. Salah bergaul bisa-bisa anak jadi nggak karuan. 

Dan yang perlu ditekankan ke anak adalah guru itu orang tua di sekolah, jadi orang tua juga bisa bersinergi untuk saling berkomunikasi dengan guru di sekolah. Karena menjadi orang tua yang pro aktif di era sekarang itu lebih baik ketimbang yang hanya pasrah dan protes aja. 

Panjang ya... 
Intinya sih kalau aku perlu ada kajian juga dari pemerintah untuk melakukan revolusi mental pendidikan secara besar-besaran. Bukan hanya sibuk ngurusin Guru Garis Depan aja. Yang dekat-dekat juga perlu diperhatikan. 

Dan kepada para wali murid jangan sampai anak kita seolah lepas kontrol hanya karena orang tua sibuk. Memperhatikan anak dan sekolahnya itu juga hal yang penting. Apalagi menanamkan nilai kesopanan dalam diri anak, karena mempersiapkan anak di masa depan juga bukan hanya tugas guru saja. 


Semoga di era sekarang sosok guru masih digugu dan ditiru. Dan semoga kejadian yang menimpa Pak Guru Budi ini tidak terulang lagi. Aamiin.

1 comment

  1. Sekarang itu yaa, guru menghukum siswa kena pasal pelanggaran dan dipidanakan, nah menurutku hal ini yang membuat siswa kurang ajar sama guru...

    siswa berani sama guru itu... banyakkk... di tempatkupun sering... siswa enggak menghargai guru? banyak...

    guru zaman now itu banyak tuntutannya, tapi harganya? harga sebagai honorer berapa sich? udah gitu, siswanya kurang ajar... beneran... miris

    ReplyDelete

Silahkan tinggalkan jejak di blog guru kecil ya. Mohon untuk tidak memberikan LINK HIDUP dalam kolom komentar. Jika memang ada,komen akan di hapus. Terimakasih;)