Edited by Chela. Powered by Blogger.

Ketika Kemenangan Belum Menjadi Milik Kita



Ketika Kemenangan Belum Menjadi Milik Kita ~ hhheeeeemmmmm.... Memang nyesek ya. Ketika apa yang menjadi keinginan tapi ternyata belum berhasil. Sungguh, kalimat permintaan maaf pagi itu meski hanya kulemparkan melalui pesan Whatsapp rasanya nggak cukup. Namun, respon pak Kepsek benar-benar membuatku lega. 

"Ndak apa mbak, belum untuk kali ini."


Dua minggu sudah berselang dari perhelatan pesta siaga 2018. Impian untuk bisa membawa piala meski bukan juara 1 harus kukubur dalam-dalam. Sedih iya, kecewa pasti, karena dalam setiap kompetisi kita memang tidak pernah tahu apa yang akan terjadi. Sekalipun persiapan dua bulan dirasa sudah matang dan yakin, hahaha... Aku jadi ingin menertawakan diriku yang termakan ambisi. 

Ambisi untuk menang!!!

"Mana mungkin menang, lha wong Pramuka sudah pasti jatahnya SD itu yang menang."

"Nggak usah juara lah... Paling yang menang yang kepseknya jadi panitia."

"Kalau juara tuh rekoso. Biaya makin banyak..."

"Pramuka aja nggak pernah dijalankan, maunya juara. Ngimpi!!!"

Saat itu, aku tak peduli. Yang penting aku, anak-anak dan rekan guru yang bersedia membantu untuk latihan ya berlatih. Sebisa kami, semampu kami dan pokoknya kami ingin memberi yang terbaik untuk sekolah. 

Nggak sedikit keringat yang bercucuran. Biaya latihan juga tak sedikit, mengorbankan waktu jam mengajar di kelas. Bahkan kegiatan pramuka tahun ini terbilang sangatlah menyita waktu dan lebih repot. 

Uang lelah??? Hahaha... Cukup sekelebatan mata doank!!!

Nggak sedikit umpatan yang keluar dari mulut ini karena merasakan lelahnya memenuhi tugas untuk pramuka. Hahaha... 
Itulah kenapa, sampai detik ini juga belum ada sregnya sama pramuka. 

Jadi selama ini kepaksa donk? Iya!!! Haha.. jujur kan harus, to.

Lalu, kemenangan belum menjadi milik kami siapa yang salah?? 

Haha... Nggak ada sih. Nggak mau juga menyalahkan pihak ini itu. Justru disini aku belajar untuk menerima, koreksi diri bahkan koreksi strategi, dan yang pasti memberikan apresiasi terbesar atas perjuangan anak-anak selama latihan dan lomba. 

Tepatnya adalah kami berproses dan disitulah kemenangan kami. Sebagai guru, kebahagiaan terbesar kami adalah ketika anak menjadi BISA dan MAMPU . Bahkan banyak hal baru yang mereka dapatkan dalam pesta siaga. Salah satunya adalah medali dan badge tanda pramuka Garuda.

Pinrung dan wapinrung saat pengukuhan pramuka garuda
Meratapi kesedihan memang nggak akan merubah keadaan. Belum sekarang, mungkin nanti, besok atau lusa.



Terimakasih nak, kalian hebat, kalian berproses dan mampu menjalaninya dengan penuh suka cita. Terimakasih sudah mengajarkan arti sebuah perjuangan dan kalian masih terlihat ceria meski piala kemenangan belum menjadi milik kita. 

Terimakasih... Karena kita team yang hebat!


Udah ah... Silahkan menertawakanku yang kalah dengan ambisi. Hahaha... Aku manusia biasa cuy... Jadi ya... Maaf deh. 

4 comments

  1. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete
  2. Memang paling tepat mengajarkan mental menang dan kalah adalah ketika berorganisasi atau kegiatan yang ada kerja sama timnya. Belajar bersaing ada, belajar menerima kekalahan juga ada. Eh siap untuk menang juga jadi pelajaran berharga selain dari akademis ^^

    ReplyDelete
  3. Hik ... kebayang nyeseknya sih.
    Sebenernya lebih ke kasihan ke anak2 ya secara mereka yg jungkir balik latihan pramuka tapi tertunda jari juara.

    Eh tapi gurunya juga jungkir balik sih melatih anak2.

    Gpp mbak.
    Rasa kesal memang harus disalurkan. Habis itu semangat lagiiiiiii ...

    ReplyDelete
  4. semoga jadi juara di lain kesempatan :D

    ReplyDelete

Silahkan tinggalkan jejak di blog guru kecil ya. Mohon untuk tidak memberikan LINK HIDUP dalam kolom komentar. Jika memang ada,komen akan di hapus. Terimakasih;)