Edited by Chela. Powered by Blogger.

Piala Pertama Mereka

Beberapa waktu lalu aku sempat merasa useless banget jadi orang. Ada rasa penyesalan yang ujug-ujug datang nggak pakai bilang-bilang. Sedih aja gitu bawaannya, lalu meratapi nasib "kok hidup gue kayak gini banget sih ya Tuhan". Ngerasa paling nelangsa gitu di dunia. Nyender di bahu suami aja rasanya masih kurang, maunya di peluk terus dan numpahin semua air mata ini.

Semuanya sih berawal dari aku terbawa perasaan dengan komentar orang tentang pekerjaanku. "Selamanya mau jadi honorer? Jual sawah bapakmu aja biar bisa jadi PNS. Emang gaji segitu bisa cukup buat beli bedak?". Shit!!!! Ngeselin!!. Lebih ngeselin lagi aku kalah, aku nggak bisa kalem aja gitu. Senyum tersungging tapi hati pedih. Pedih banget!!!
via giphy


Iya, aku juga nggak ngerti kenapa mau aja gitu disuruh ortu buat jadi guru. Nyalahin ortu karena hidupku gini-gini aja juga pernah bahkan sering. Durhaka banget kan aku. Udah gitu ngerasain gaji bablas aja buat bayar pengasuh Intan. 450 ribu sebulan, aku cuma nyisa 25 ribu aja. Toh masih bisa beli Nature Republik Shooting gel. Tuhan maha baik kan ternyata. 

Nggak faedah banget lah pokoknya hidup yang aku rasain sendiri saat itu. Saking nggak betahnya, aku sampai nyender sama bapak di teras rumah sore itu. "Bapak seneng aku jadi guru? Yang sampai sekarang belum bisa banggain apa-apa buat keluarga?" Sambil nangis akutuh. 😭 

Mendengar ucapan beliau kala itu, seperti mendapat guyuran air di tengah gurun Sahara. "Bapak seneng, ayem, nggak masalah kamu belum PNS, nduk. Nyatanya kamu bisa menjalani pekerjaanmu dengan enjoy. Dari setiap cerita yang kamu bawa pulang dari sekolah, kamu mencintai dunia anak-anak. Lanjutkan nduk, pasrahkan semua sama Gusti Allah. Rejekimu sudah ada yg ngatur, tinggal kamu jalani dan kamu syukuri. Ada hal yang nggak ternilai saat kamu jadi guru". Sambil ngetik ini aja aku nangis, apalagi sore itu. Sampai misek-misek.


Dan akupun meresapi setiap kalimat yang diucapkan bapak. Apa benar aku mencintai dunia pekerjaanku ini? Sambil sesekali melihat foto-foto pasca Jambore Ranting kemarin. Dan melihat anak-anak yang selama ini pernah aku bimbing, ada haru dan bangga dalam diri ini. Termasuk kebahagiaan mereka yang terpancar di foto ini.



baca : Pramuka (lagi?)

bahagia dapat piala


Piala pertama mereka, piala yang sekian tahun lamanya jadi misteri bagi sekolah kami. Pernah sebelum regruping sekolah, aku membawa muridku masuk ranking 10 besar di ajang lomba olimpiade sains matematika. Bahkan tantangan dari bapak juga selalu terngiang di telinga "ngelatih anak lomba jangan setengah-setengah. Jadikan mereka juara, piala itu bonus, syukur-syukur mereka bisa dapat piala".


Dan ya, kalau flashback dimana perjuanganku bersama teman-teman mempersiapkan mereka untuk ajang jambore ranting 2018 tuh bisa dibilang nggak main-main. Rasa capek, badan kaku karena ikut latihan nari, bagi tugas sana-sini yang terkadang ada salah paham, mengorbankan waktu untuk anak karena sering pulang telat. Semuanya terbayar dengan piala itu. Piala kategori B yang nggak ngerti juga kenapa pangkalan sekolahku bisa masuk jadi pemenangnya.
Dibalik rasa penasaranku, justru berbeda dengan anak-anak. Mereka menangis haru, saling bergantian pegang piala, mereka saling berpelukan, bahkan dipeluk dan dicium pialanya. Kebahagiaan mereka saat itu, benar-benar membuatku terharu, setidaknya aku ikut berperan dalam mengukir cerita di kehidupan mereka. Dapat piala saat jambore ranting 2018. Dan itu... Best moment banget sampai sekarang baik untuk anak-anak dan juga untukku.

"Pak... Meski aku nggak kerja sendirian, nih piala yang di dapat anak-anakku!!". Ucapku pamer foto anak-anak saat membawa piala. 



Merekam Kebahagiaan Anak-anak Dengan Smartphone Idaman 
Aku, Pak Pur dan anak-anak  di depan tenda pi
Terlebih bagi orang tua mereka, baik WA story maupun beranda facebook isinya foto kegiatan anak-anak yang sengaja aku share di Whatsapp Grup. Bahkan orang tua meminta untuk eksklusif mengabadikan kegiatan anaknya selama Jambore berlangsung. Kebetulan yang bertugas mendampingi mereka itu aku, ya sudah sampai full memory hp buluk ini dengan rangkaian kegiatan mereka. Ngebahagiain orang dapat pahala kan ya.


Disitu, aku mulai tersadar bahwa aku nggak perlu lagi merasa useless dan baper hanya karena omongan orang. Toh nyatanya, pekerjaanku ini membuatku banyak-banyak bersyukur terlebih untuk bisa melayani orang lain. Melihat anak-anak bahagia dan lebih lagi orang tuanya, aku jadi mikir mungkin ini maksud dari perkataan bapak: Kebahagiaan dan memory yang terekam dalam perjalanan hidup anak-anak.




irish purple

Iya, maunya setiap kali pembelajaran atau kegiatan selalu mengabadikan keseruan dan keceriaan mereka. Selain untuk portofolio KBM, sekolah maupun jadi bahan laporan ke orang tua, setiap foto itu akan ada ceritanya tersendiri. Apalagi aku bisa memotretnya dengan smartphone idaman yang kemampuan kameranya canggih level wahid. Layaknya Huawei Nova 3i yang memiliki kamera yang diperkuat AI (Artificial Intelligence). Nggak tanggung-tanggung, 4 kamera berteknologi AI, lho.  Jadi dengan teknologi AI ini aku nggak perlu lagi bingung ngotak-atik setingan kamera, cukup diarahkan dan nantinya secara otomatis kamera akan memilih mode terbaik saat memotret berdasarkan objeknya.



Huawei Nova 3i juga memiliki desain yang keren yaitu irish purple dengan corak warna yang cantik dan bingkai metal di tengah. Desain seperti ini nggak perlu merepotkan kita nyari case gitu, udah polosan gitu aja dan dipandang dari sudut manapun juga ramping dan indah ini smartphone. Layar lumayan gedhe dengan ukuran 6,3 inch FHD+ (2340 x 1080) tapi masih tetap pas di saku. 

Nggak kayak smartphone buluk-ku yang sudah engap karena memory yang full. Huawei Nova 3i memiliki kapasitas penyimpanan terbesar di kelas smartphone mid-end yaitu dengan kapasitas 128 Gb. Memang pengaruh banget di performa HP, saat memory full biasanya akan terasa sangat lemot. Dengan kapasitas penyimpanan sebesar ini memang Huawei Nova 3i memiliki performa yang powerfull.


Huawei Nova 3i hadir dengan prosesor chipset Kirin 710 berteknologi 12 nm, juga  diperkuat dengan GPU Turbo untuk kemampuan gaming. Memberikan responsif yang halus dan pengalaman bermain yang imersif. Bagi pecinta game pasti akan sangat betah ya nge-game pakai smartphone ini. 
 
spesifikasi

Dengan melihat fitur yang ditawarkan oleh Huawei Nova 3i, rasanya nggak salah ya kalau smartphone ini aku idamkan di tahun ini. Apalagi kalau aku bisa dapat smartphone ini dari blognya sujiwo, bakal aku pakai untuk mengabadikan momen keseruan anak-anak. Mau foto atau bahkan video, hayuk wae lah ya. 

Yang jelas,penyesalan dan perasaan useless yang kemarin aku rasain memang beneran sembuh berkat kenangan foto anak-anak itu. Dan aku rasa, sepanjang sejarah aku jadi guru (meskipun masih honorer), tahun 2018 inilah best moment buatku. Bangga donk, seneng donk pastinya. Dan berharapnya, ceritaku bersama anak-anak kedepannya akan semakin seru, menyenangkan, dan sampai kapanpun aku harus bisa berbagi kebahagiaan dengan mereka. 


"Tanyakan dalam dirimu, hari ini sudah berbuat baik apakah untuk sesamamu. Jangan mengharapkan balasannya saat itu juga, balasan dariNya itu sudah PASTI. Tugasmu, jalani semuanya, nikmati semuanya, dan bersyukurlah sebanyak-banyaknya"
~ Bapak~



8 comments

  1. Jangan keseringan merasa useless, Mbak. Itu setan, godaan agar Mbak Chela nggak mau melangkah ke depan.

    ReplyDelete
  2. semangat Chel, jadikan itu pacuan untuk terus berkarya.
    semoga menang ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. alhamdulillah miss mei..semangat itu udah membara!!!

      Delete
  3. Aku dulu tuh berfikir ogah jadi guru karena mikir susah apalagi kalau honorer gaji kecil, tapi justru belakangan ini mikir pengin jadi guru honorer gak papa soal penghasilan mungkin bisa nyambi yang lain, tapi apa daya ijazah udah gak mungkin banget buat jadi guru :)

    Guru adalah pekerjaan yang mulia mb, semangat terus dan semoga ada rezeki untuk bisa memiliki hp idamannya.

    ReplyDelete
  4. semangat mbak,,, I feel you banget...dulu pernah ngerasain jadi guru juga.

    ReplyDelete
  5. Beb Chel, useless menurut aku sih wajar. Aku pernah mikir : nasibku kok buruk bangettttt... Aku nangis, sedih, kecewa, iya... aku nikmatin. Berusaha enggak ngeluh dan selalu mengingat bahkan lebih mendekatNya.

    Oke... setelah cukup sedihnya, ya aku harus bangkit lagi... hidup terus berjalan...

    Yang bikin aku semangat, ya kadang aku lihat foto atau video yang indah di masa lalu... Hidup terus berjalan, enggak bisa banget useless terus. Tapi, ya manusia enggak mungkin juga bahagia terus...

    Tetap semangat yah, bener kata Bapakmu, rejeki udah ada yang ngatur. Honorer gpp, toh sampai sekarang tetap bisa bertahan, tho? Masih bisa beli nature republik kan? Disyukuri saja... :)

    ReplyDelete
  6. karena dunia kita menilai kesuksesan dengan uang sehingga kadang mereka tak meliaht kita enjoy, mengabdi, melakukan yang kita suka, dsb ....

    Semoga jadi PNS soon ya mbak, atau IsnyaAllah membuka lahan usaha baru yang lebih membahagiakan pukpukpuk

    ReplyDelete
  7. Semangat ya bu guru kecil !
    Smoga dapat juga hp impian ini biar bisa mengabadikan moment2 kebersamaan bersama anak didik.

    ReplyDelete

Silahkan tinggalkan jejak di blog guru kecil ya. Mohon untuk tidak memberikan LINK HIDUP dalam kolom komentar. Jika memang ada,komen akan di hapus. Terimakasih;)