Edited by Chela. Powered by Blogger.

Basa Basi Menyebalkan Ketika Lebaran

Basa Basi Menyebalkan Ketika Lebaran ~ momen lebaran itu memang salah satu momen yang paling dinanti untuk kumpul dengan keluarga. Sanak keluarga tentu akan pulang dari perantauan dan melepas rindu di kampung halaman.


Saya adalah cucu nomor 2 dari urutan paling akhir. Artinya dibawah saya masih ada satu cucu lagi. Istilah Jawanya itu cucu kakang ragil dari Mbah Harman Barmi (orang tuanya ibu). 

Memang momen lebaran itu adalah momen saling memafkan satu sama lain. Cuma terkadang semenit lalu kita ngucapin minal aidzin wal faidzin, eh semenit kemudian dah muncul kata-kata ga enak. Tahun kemarin saya mengalami dan sepulang dari rumah itu saya bilang ke papa "nggak masalah ga dianggap saudara lagi, toh nyatanya omongan dia nyakitin dan kayak paling tahu aja. Tahun depan ga mau kesini lagi!" . Yes.. basa basi yang nyakitin di momen lebaran, kenapa harus ada!!!

Sebagai cucu agak terkecil, saya pernah ada di masa menarik diri, enggan, malas dan merasa silaturahmi lebaran itu penuh lambe lambe julid yang bikin hati nyesek. Dulu saya pikir pertanyaan basa-basi itu akan berakhir ketika status saya berubah dari lajang menjadi kawin. 

Tapi ternyata..... Tak semudah itu ferguso! Hahahaha... Meski tidak semua, pasti ada sebiji dua biji mulut julid dengan pertanyaan atau pernyataan yang SEOLAH MEREKA TAHU BANGET KEHIDUPAN SAYA. 

Dulu sebelum nikah,...
1. Kapan wisuda? Dah punya gandengan belum?

2. Kapan kawin? 

3. Ibumu sakit kan karena kamu ga pernah mau nurut orang tua?!

4. Awas kamu ya, sekali lagi berani sama orang tua, harus berhadapan dengan aku!. Ga akan ada ampun buat kamu!

5. Serius mau dapat itu, keluarganya blablablabla...lalalalalalala. 

6. Umur segini kok belum punya pacar, pilih-pilih sih!

7. Kapan mau jadi PNS? 

8. Wah dapat THR!! Haruse aku juga dikasih lha wong waktu bayi yang sering gantiin popok tuh aku ini...

Dan masih banyak kalimat lainnya... Wkwkwkwk.. ini ga menunjuk ke keluarga cuma, banyaknjuga sih ya yang melontarkan kalimat seperti itu. 

Lalu setelah menikah..
1. Katanya ga akur sama orang tua? Tiap hari di rumah berantem terus? Tinggal numpang aja kebanyakan bikin masalah.

2. Kapan bisa mandiri punya rumah sendiri? 

3. Subhanallah ya Si A dan istrinya ketrima CPNS. Mmm... Rejeki ga dr pns pns aja sih, buktinya punya suami ganteng, anak yang cantik... *Hyak dhezziznggg!!!!!*

4. Kapan ketrima CPNS biar bisa hidup mandiri? 

5. Eh... Suamimu ga mau ke sawah ya? Trus kalian hidup dr mana? 

Dan tentunya banyak juga pertanyaan dan perkataan lain.. 

Memang sih saya sering memarahi ibu kalau melontarkan pertanyaan atau perkataan seperti itu. Meskipun bagi ibu atau bapak hal tersebut adalah hal biasa, tapi bagi si penerima akan menjadi hal yang tidak biasa. 

Ketika lajang, ada perasaan sentimentil lho ketika belum punya gandhengan dan berada di forum keluarga. Ketika sudah menikah ada hati pedih ketika (maaf ya...,) Belum dikaruniai momongan, atau masih belum bisa hidup mandiri sepenuhnya, atau masih belum sesukses lainnya. 

Tidak dipungkiri memang, itu hal manusiawi. Tapi jauh lebih baik jika momen bersilaturahmi itu juga kita bisa menjaga lisan dengan pertanyaan atau pernyataan yang lebih nyaman di hati si penerimanya. 

Bagi si penanya tentu gak tahu juga bahwa hati masih ada sisa-sisa cinta yang tertinggal pasca putus pas bulan puasa, atau ada rasa lelah dari perjuangan sebuah keluarga untuk bisa belajar mandiri tanpa harus dilihatin ke banyak orang. We never know tentang perjuangan mereka. Tapi ada baiknya tetap di dukung dan diberi semangat. 

Saling mengingatkan itu jauh lebih baik. Yang tua bertanyanya juga lebih baik agak halus dan enak, yang muda kalau denger ada yang nanya kiranya basa-basinya nyakitin ya bisa mengingatkan dengan bagus juga. Yakin lah, tak akan ada trauma untuk berkumpul dengan keluarga besar di momen lebaran. 

Curhat.. nih curhat. Tapi biarin aja sih ya. Percuma juga ketika ngakunya hijrah tapi tetap ga bisa jaga lisan. Percuma juga ngakunya ilmu agamanya lebih bagus tapi malah membuat sekat diantara satu sama lain. 

Meski kata orang "hadapi aja dengan senyuman" itu ga semudah melakoninya. Tapi tetap saja, intimidadi dan tangisan di hari raya beberapa tahun yang lalu sampai saat ini masih aja membekas. 

Makanya, sudah selayaknya saya sendiri memutus rantai kenangan pahit itu demi kemaslahatan bersama. Saya tidak segan memarahi papa kalau dia sering kepo ke keponakannya "Dek, kapan nikah?". Meskipun pada akhirnya debat sih, tapi itu adalah hal sensitif untuk orang. 

Diam lebih baik, daripada julid ada baiknya mendoakan supaya yang belum ketemu jodoh segera dipertemukan supaya lebaran nanti dah ada pasangan halalnya. Yang belun diberi momongan segera diberi anugrah kehamilan, yang belum wisuda biar segera lulus, yang belum dapat kerjaan supaya bisa segera dapat kerja. 

The power of doa daripada basa basi yang nyakitin, kan. Pernah kayak aku juga yang sempat trauma ikut acara keluarga disaat momen lebaran? Dapat pertanyaan apa sih yang sampai nyakitin banget? Cerita yuk... 

1 comment

  1. Bwahahaha...lha kok sudah jadi postingan. Kereeeeen.

    ReplyDelete

Silahkan tinggalkan jejak di blog guru kecil ya. Mohon untuk tidak memberikan LINK HIDUP dalam kolom komentar. Jika memang ada,komen akan di hapus. Terimakasih;)