Edited by Chela. Powered by Blogger.

Belajar Toleransi dari Permainan Tradisional Anak

Belajar Toleransi dari Permainan Tradisional Anak ¬ Menjadi anak di era 90an itu menyisakan kenangan masa kecil yang luar biasa indah. Hari-hari dilalui penuh dengan canda tawa bersama teman sekampung. Bermain pasaran, kasti, sepedaan, rumah-rumahan, jamuran, sledor-sledor dan aneka macam permainan anak lainnya.


Dulu saya tidak pernah menyangka bahwa permainan tradisional itu sarat akan makna dan nilai-nilai kehidupan. Bersama teman tentu akan ada selisih pendapat, saling curang, berantem lalu baikan lagi. Indah sekali tentunya, dan permainan paling mahal saat itu adalah kepemilikan gembot atau tetris. Tak banyak anak yang memiliki permainan itu. Kemudian muncul tamagochi dan nitendo. 


Berbeda dengan anak zaman sekarang, gawai atau smartphone menjadi sahabat mereka. Ruang yang longgar bertuliska " WIFI 2000 sehari" banyak di tawarkan dimana-mana. Permainanpun beralih dari yang dulunya kejar-kejaran menghasilkan keringat dan bau matahari, kini menjadi mabar mobile legend sampai PUBG. 

Dulu : " Nanti kumpul ya di lapangan sekolah kita main kasti!"

Sekarang : " Nanti mabar di tempat Lik Edi!" 

😀😀😀

Sekarang coba dibaca bacaan yang bu Chela ambil dari buku siswa Tema 8 Sub Tema 1 Pembelajaran 6

Belajar Toleransi dari Permainan Tradisional Anak 
Pada hari Minggu, 11 Desember 2016 digelar acara Festival Permainan Tradisional Anak Indonesia di Taman Mini Indonesia Indah. Acara ini biasa digelar setiap tahun. Tujuan digelarnya acara ini adalah supaya anak Indonesia mengenal keragaman lingkungan dan kebudayaannya.
Saat ini anak-anak dibanjiri dengan permainan digital melalui alat-alat elektronika. Dengan permainan digital itu anak merasa tidak perlu bermain dengan teman sebayanya. Oleh karena itu, permainan tradisional menjadi jurus ampuh agar anak-anak kembali kepada nilai-nilai kebersamaan. Hal tersebut setidaknya diutarakan Zaini Alif dari Komunitas Hong saat di acara Festival Permainan Tradisional Anak Indonesia.

Zaini Alif mengatakan, “Permainan tradisional itu aset budaya bangsa yang sekarang mulai ditinggalkan, karena munculnya gadget. Kita tidak antipati pada gadget, tapi bagaimana menyeimbangkan gadget dengan permainan tradisional, karena permainan tradisional mengajarkan nilai, etika, dan identitas budaya bangsa.”  “Banyak permainan tradisional di Indonesia yang tidak hanya menyajikan keseruan, tapi juga kaya nilai-nilai. Misalnya di Jawa ada permainan dingklik oglak aglik, di Sunda ada perepet jengkol, dan sebagainya. Keragaman itu mengajarkan bagaimana kita toleran atas perbedaan. Jadi perbedaan bukan menjadi sesuatu yang harus diperdebatkan, justru itu bisa menjadi suatu keunggulan,” kata Zaini.
Anak-anak zaman sekarang merupakan generasi emas para pemimpin bangsa di era 100 tahun Indonesia. Kita mengharapkan tiga puluh tahun lagi generasi ini adalah generasi yang dapat mengenali keragaman bangsa, bertoleransi, serta menjaga dan melestarikan kebudayaan.
Sumber: lifestyle.liputan6.com



Salah satu contoh adalah permainan Dingklik Oglak-Aglik. Permainan tradisional asal Jawa Tengah ini biasa dilakukan dalam kelompok-kelompok. Setiap kelompok terdiri atas 3-5 anak. Semua anggota berdiri melingkar saling membelakangi dan berpegangan tangan. Kaki kanan atau kaki kiri setiap anggota kelompok lalu saling bertautan. Kemudian, dengan satu kaki yang menapak, mereka bergerak melingkar sambil menyanyikan lagu daerah. Kelompok yang paling lama mempertahankan tautan kaki sambil bergerak akan menjadi pemenang. Berikut lagu yang dinyanyikan di Jawa Tengah.

Pasang dhingklik oglak aglik
Yen keceklik adang gogik,
Yu yu mbakyu mangga dhateng pasar blanja,
Leh olehe napa,
Jenang Jagung, enthok-enthok jenang jagung,
enthok-enthok jenang jagung,
enthok-enthok jenang jagung.




Ternyata banyak ya permainan tradisional yang bisa kita mainkan setiap hari bersama teman-teman. Anak-anak ternyata juga memainkan permainan "merdeka merdekanan" ketika jam istirahat. Apapun mainannya kita harus bisa mengambil sisi positifnya bahwa nilai moral bisa dan banyak kita dapat dengan melakukan permainan tradisional bersama teman-teman. 


Bersyukur itu harus karena kita tinggal di daerah yang kaya dengan keragaman adat serta budaya. Beda daerah beda juga jenis permainannya, tetapi dengan perbedaan itulah jangan membuat kita menjadi jauh. Tapi semakin erat karena mempelajari budaya daerah lain adalah hal yang sangat menyenangkan. Syukur negeri kita juga diungkapkan dalam sebuah lagu bernada diatonis minor. Sudah tahu lagu Syukur? jika belum bisa cek di youtube ya.. 


Setelah kalian baca dan pahami, silakan anak-anak mengerjakan soal berikut ini ya!

1 comment

  1. Permainan masa kecil memang kadang bikin kangen ya, Bu Guru. Aku paling suka permainan petak umpet dan bola bekel.

    ReplyDelete

Silahkan tinggalkan jejak di blog guru kecil ya. Mohon untuk tidak memberikan LINK HIDUP dalam kolom komentar. Jika memang ada,komen akan di hapus. Terimakasih;)