Edited by Chela. Powered by Blogger.

Saya yang (Masih) Gagal Meraih Mimpi

Hhheemmmm.... Untuk memulai menulis ini, saya sudah berkali-kali membuka dasboard dan mengetik. Tapi entah mengapa, rasanya berat menulis ini semua. Karena saya takut dibilang lebay atau menjual kesedihan. Tetapi di satu sisi saya ingin diri saya lega. 


Ini bukan tentang inner child yang belum sepenuhnya tuntas, melainkan tentang kegagalan saya mencapai mimpi yang juga orang tua saya idamkan. Tentang perjuangan menggapai mimpi sebagai CPNS. 


Tahun 2019 menjadi tahun perjuangan saya untuk "sembuh". Iya sembuh dari segala rasa yang ada sehingga saya sempat merasa sabgat insecure, useless, mengutuk diri sendiri, menyalahkan diri sendiri, bahkan saya merasa " Ah ngapain saya ada di dunia ini. Toh juga orang-orang tidak menganggap saya ada. "


Dih... Sampai sebegitunya ya! Hahaha. 

Semua berawal dari kegagalan saya dalam tes CPNS tahun 2018. Saya sudah melenggang di tahap SKB dan hanya selisih 1 soal saja dari pesaing saya. Selisih nilai 0,4 dan saya tetap bertahan di peringkat dua. Formasi yang dibutuhkan hanya 1. Dan impian menerina SK CPNS harus saya simpan dulu. 


Kecewa, sedih, nangis, marah jadi pergolakan batin. Apalagi yang sangat menyakitkan bagi saya adalah respon bapak. Lagi dan lagi bapak merasa saya tidak mampu menakhlukan tes CPNS. Bagi bapak, saya gagal dan tidak bisa membanggakan orang tua. Kemarahan dan kekecewaan beliau tunjukkan apalagi ketika ada teman yang main ke rumah. Dia meratapi dan menyalahkan saya. 

Padahal saya selalu belajar, buku tebal saya lahap. Channel-channel youtube berisi soal CPNS baik SKD maupun SKB saya simak dan ikuti. Solat malam saya lakukan, sedekah saya lakukan juga. Tapi saya GAGAL. 



Sementara ibu, masih dengan tenang membesarkan hati saya. Ibu mengatakan "akan ada saatnya. Biarkan saja bapakmu seperti itu".


Papa, dia adalah orang yang paling sakit karena menjadi pelampiasan emosi saya. Papa sempat mengatakan saya gila dengan emosi yang sangat meledak-ledak. Tetapi papa tidak pernah sedikitpun meninggalkan saya dan Intan. 


Menyadari akan hal itu, awal 2019 saya mencoba untuk trauma healing. Saya mencari beberapa channel youtube yang mengulas tentang psikologi. Mendengarkan lagu-lagu Kunto Aji, mencoba lebih terbuka dengan papa dan mengungkapkan perasaan yang sedang saya alami, bahkan saya juga mencari beberapa psikolog. Karena saya ingin sembuh. 


Terutama adalah saya belajar menerima keadaan lebih dulu. Saya menerima kegagalan dan usaha saya dengan hasil yang tidak saya inginkan. Saya merasa yang sudah saya lakukan terkesan sia-sia. Bapak tidak pernah menganggap usaha yang sudah saya lakukan. Saya berteman dengan gagal. Tidak hanya sekali tetapi berkali-kali. 


Beruntungnya beberapa teman bersedia menjadi tempat mencurahkan uneg-uneg saya. Sehingga saya merasa self healing yang saya upayakan selama ini tidak sia-sia. Menulis juga menjadi salah satu cara yang saya lakukan untuk self healing. Meski hanya menulis lalu saya delete, atau menulis di kertas lalu saya sobek-sobek. 


Peran papa juga sangat penting saat saya berjuang menyembuhkan luka. Sosok introvert yang diam-diam sangat mencintai saya ini memberikan ruang bagi saya untuk tetap berekspresi. Papa mengakui bahwa energi saya berlebih, kalaupun dilarang pasti akan badmood seketika. Sebisa mungkin papa menuruti apa yang menjadi keinginan saya atau terkadang dari inisiatif dia sendiri. 

Seperti... 
✔ Memberikan ruang untuk ikut kelas senam 

✔ Memperbolehkan mengikuti event blogger

✔ Plesiran meskipun masih area dalam kota

✔ Memberikan telinga dan pundak untuk menerima cerita saya

✔ Kejutan kecil misalnya membelikan minuman kesukaan 

Dan yang jelas papa selalu mengatakan "Nggakpapa... Kita gagal lagi. Nggakpapa kalau belum saat ini. Aku dan terutama mama sudah sangat berusaha. Selebihnya kasih aja ke Tuhan apapun hasilnya. Nggak papa orang mengatakan kita selalu gagal, yang penting kita tidak menyerah begitu saja."


Ngetik ini saya jadi mewek 😭


Sekarang, syukur alhamdulillah saya sudah semakin membaik. Yang tadinya saya takut gagal justru sudah semakin siap. Jika pada akhirnya saat ini saya masih belum bisa membuat bapak bangga dan masih menjadi anak yang gagal, saya percaya dengan cara lain saya bisa membahagiakan bapak dan ibu. 

Semua ada waktunya dan waktu Tuhan yang terbaik. Saat ini saya lebih memfokuskan untuk lebih membuat diri saya bahagia tanpa harus terbebani dengan orang lain. Dalam artian saya ingin tetap berusaha dan berkarya dengan bahagia sesuai passion saya. 

Terimakasih untuk tahun 2018 dengan cerita kegagalannya, tahun 2019 dengan perjuangan menyembuhkan luka, sedih dan kecewa, juga tahun 2020 yang meskipun saya dan papa gagal (LAGI). Saya dan papa percaya pelangi itu akan tetap ada untuk kami. 

1 comment

  1. Bacanya ikut sedih, peluuk Chela memang tidak mudah menghilangkan kecewa apalagi jika rasanya sudah didepan mata. Banyak berdoa dan mensyukuri yang ada, berprasangka baik sama Allah, dan percaya akan ada waktu yang tepat untuk kita, semangat saay!

    ReplyDelete

Silahkan tinggalkan jejak di blog guru kecil ya. Mohon untuk tidak memberikan LINK HIDUP dalam kolom komentar. Jika memang ada,komen akan di hapus. Terimakasih;)