Edited by Chela. Powered by Blogger.

School From Home yang Banyak Dramanya!!

School From Home yang Banyak Dramanya!! ~ Belum telat kan buguru bahas ini. Padahal dua hari lagi sudah mulai tahun ajaran baru, meski tetap pembelajaran berbasis online menjadi pilihan saat ini. Setidaknya biar ada kenangan gitu, di blog buguru bahas tentang drama sekolah dari rumah versi gurunya. 


Jika selama ini saya menyimak status-status kaum emak di berbagai lini masa tentang pengalaman mendampingi anak di rumah, jujur... Saya itu antara pengen ketawa, seneng tapi di beberapa orang justru berkata "ya.. Rasain deh!" Hahaha.. Kok buguru jahat? Wkwk.. 

Nih ya, bukan tanpa alasan kenapa saya dan bahkan rekan guru berkomentar "sekarang ngrasain sendiri kan rasane... Hmm... Rasain... Rasainn... ". Nggak hanya guru muda kok, senior juga ada dan dari tampungan cerita, komentar dan drama yang terjadi tuh mayoritas sama. SAMA GAES!!!! 

Alasannya tuh ya karena realitanya masih banyak orang tua yang menganggap TUGAS SEORANG GURU ITU SEPELE. Dalihnya itu adalah profesi, iya profesi tapi di kondisi saat ini kita sama-sama ditampar kok bahwa fitrah pendidikan anak itu ya ada di lingkungan keluarga. Ya dari orang tuanya. 

... Baru meminta bantuan kepada sebuah lembaga yang bernama SEKOLAH. 

Memang menjadi tugas guru mendidik siswa di sekolah. Tapi kalau di rumah? Ya orang tua lah. Guru bertugas dari jam 7 sampai 13 untuk sekolah negeri. Jadi kalau pada akhirnya realita yang saat ini ada "minterke bocah itu tugas guru", ya sebagai orang tua harus insaf. Berapa jam sih anak berkomunikasi, sosialisasi dengan gurunya??? 


Tiga bulan lalu memang pembelajaran dipaksa harus beralih ke sistem daring atau online. Yang mana sistem ini itu semacam shock teraphy bagi para orang tua di sekolah tempat saya mengajar. Anak-anakpun juga menyesuaikan diri terlebih gurunya. Guru harus memutar otak bagaimana "target pembelajaran" harus tuntas dan ada bekal nilai untuk mengisi rapor kurikulum 2013. 

Adaptasi yang tidak mudah ini bukan serta merta mulus dari drama. Alasan yang hp jadul, nggak ada kuota, sampai bikin siswa klenger dengan tugas-tugas.. Lha kok buat main mobile legend aja betah, loh. Sementara mengajar dari rumah tak semudah yang seperti mas menteri lagi ngomong soal wacana penetapan PJJ dipermanenkan. Haduh... Jungkir balik saya. 

Kesannya ini postingan banyak ngeluhnya, buk? IYA SAYA NGELUH. EMANG NGGAK BOLEH? 

Dan setengah cengcengin barisan orang tua murid yang hobinya nyinyir... Gimana buibu?? PENAK TO? 


So, dari pengalaman saya sendiri dan tampungan cerita rekan sejawat. Saya merangkum drama school from home yang membuat para guru geleng-geleng kepala. Diantaranya :

1. Fasilitas yang terbatas
Meski zaman sudah canggih, tidak serta merta masyarakat juga melek teknologi. Saya menemukan anak yang tidak difasilitasi smartphone. Untuk point ini memang faktor ekonomi yang menjadi pengaruh terbesarnya. 

Solusi : Pinjam hp saudara yang rumahnya tidak jauh. 

Ibarat kata "BANYAK JALAN MENUJU ROMA" tapi kalau ada niat ya. 

2. Sambungan Internet
Drama di point ini adalah mengenai sambungan internet. Katanya belajar online bikin anggaran belanja membengkak untuk beli kuota. Disamping itu anak-anak juga lanjut main game. Lah bukanya sebelum belajar online juga pada janjian mabar sepulang sekolah? 

Solusi : beli kuota terbatas dan awasi penggunaan gawai dan internet untuk pembelajaran daring. Atau bayar wifi 2000/ 6jam di tempat Mas Edi. 


Ibarat kata "jer basuki mawa bea". Silakan searching sendiri artinya ya. 

3. Tugas yang aneh-aneh
Katanya online kan ya, banyak cara mencari inspirasi atau sumber belajar. Bahkan kalau online hanya memberi tugas ada anjura dari pak Ganjar untuk tidak terlalu membebani siswa. 

Sementara saat pandemi seperti ini anak-anak juga perlu mengenal kondisi yang terjadi. Mencari apa itu covid-19, bagaimana penyebaran virusnya, cara menjaga diri agar tidak tertular. Penting sebenarnya. Kalau melalui inovasi dengan membuat video, kliping, poster. Mengapa dibilang gurunya aneh-aneh? 

Bukankah pembelajaran yang baik itu adalah pembelajaran yang bermakna, yang memberi kesan kepada anak-anak meski tantangan untuk menyelesaikannya butuh effort lebih dari biasanya? 

Jadi, dimana aneh-anehnya wahai orang tua murid? Tolong beritahu kami! 

4. Kurang dari 50% siswa yang menyelesaikan tugas
Jumlah siswa saya sebanyak 17 anak. Selama tiga bulan pembelajaran online, setiap hari untuk menyetorkan laporan menyelesaikan tugas hanya ada sekitar 7 sampai 10 siswa saja. 

Lainnya? 

Yang terlambat masih saya beri toleransi, yang belum selesai dan terhambat kuota saya beri tambahan waktu. Yang penting setor tugas. Lalu, yang SAMA SEKALI TIDAK MENGUMPULKAN TUGAS juga ada dengan banyak alasan. Hp rusak, nggak ada paketan. Sementara saya mendapat informasi bahwa setiap hari main hp. 

Disini guru juga berperan seperti penagih hutang, lho. Sayangnya semua chat harus terhapus karena saya ganti hp. Huhuhuu.. 

5. Honor mengajar tidak seberapa, eh... Dikatain "anjing" Sama murid sendiri 
Bayangin donk hancurnya perasaan saya dikatain murid seperti itu. Kronologinya itu intinya si anak tidak mengirimkan tugas dari awal Pembelajaran daring diterapkan. Sudah beberapa kali saya panggil  di grup tidak ada respon padahal pesan dibaca. Saya japri dan hanya centang dua biru. 

Lalu di grup saya memperingatkan si anak dengan kalimat sangat sopan dan jika tidak mengirimkan tugas nilai kosong dan rapor dalam keadaan apa adanya. Ya masa saya harus baik hati memberi nilai? Mikir-mikir donk dengan siswa yang rajin atau telat tapi masih ada usaha. 

Eh.. Ketika saya sengaja meminta anak-anak untuk datang ke sekolah mengumpulkan LKS dan tugas daring. Si anak mengumpat "chela asu!!! Awas wae nggak dinaikke kelas!" Dan ada siswa yang dengar lalu laporan ke saya. Akhirnya ya saya panggil si anak, dan ya gitu lah. Saya emosi dan kecewa banget rasanya. 

Kasus ini berbuntut panjang lho. Tapi saya tunggu orang tuanya ke sekolah juga nggak datang. Hahaha.. Kalau si anak nggak salah, saya juga nggak akan memanggil dia dan bicara empat mata. Hmm...

Kalau dianggap menjadi guru itu mudah, please buibu bisa merasakan sendiri kan gimana mendampingi anak untuk sekolah dari rumah. Saya percaya, effort seorang guru disaat pandemi ini tidaklah mudah. Selain melayani anak didik, di rumah juga ada anak dan suami yang harus diurus juga. Huhuhuhuhu. 

Jadi kalau diperpanjang masa sekolah dari rumah, hmmm aku gemes sama mas menteri. Keberhasilan 3 bulan ini jangan dijadikan patokan untuk dipermanenkan. Bisa edan saya!!! 

Karena ada hal yang mungkin mas menteri dan beberapa pihak lain belum tahu. Bahwa ada anak yang justru sulit menyesuaikan diri dengan belajar online. Ada juga anak yang gampang menerima materi dengan belajar online. 

Tidak bisa disamaratakan dan harus paham betul kondisi lingkungan ini bagaimana. Teknologi saja belum merata, bekal edukasi orang tua tentang teknologi juga masih kurang. Hohohohoho. 

Saya aja kalau sekolah dari rumah diterus-terusin bakalan semakin nggak kuat, kok. Capeknya doble, stressnya doble. Tapi hebat kan usaha guru yang sudah dilakukan selama ini? Jadi, please jangan anggap remeh ya pekerjaan guru itu. 



1 comment

  1. Ya ampun. Melaske bgt dionekke asu. Cen guru kui kudu sabar e sepanjang masa..

    ReplyDelete

Silahkan tinggalkan jejak di blog guru kecil ya. Mohon untuk tidak memberikan LINK HIDUP dalam kolom komentar. Jika memang ada,komen akan di hapus. Terimakasih;)