Edited by Chela. Powered by Blogger.

Mendampingi Anak Sendiri saat Belajar Dari Rumah

Mendampingi Anak Sendiri saat Belajar Dari Rumah ~ Buibu gimana rasanya ngajar anak sendiri? hmmm, jika kemarin saya sempet nyinyir balik ke orang tua yang sering meremehkan tugas guru. Sekarang tugas saya bertambah seiring dengan pandemi yang nggak selesai-selesai ini. Yup, saya bertugas menjadi guru untuk anak saya sendiri yang saat ini sudah masuk di jenjang TK  A.



 Mengingat pertimbangan umur Intan yang sudah lima tahun, itulah mengapa akhirnya kami sepakat menyekolahkan Intan di salah satu TK Negeri di Purwodadi. Dan saya sangat berharap ketika Intan masuk sekolah, pandemi ini berakhir. Tetapi harapan tinggal harapan, selain saya bertugas mengajar anak-anak, saya juga mendapatkan selembar kertas berisi tugas sekolah Intan selama satu minggu. 


OK, saya sangat optimis dia akan sangat kooperatif mengingat selama belajar bersama saya di rumah sebelum resmi sekolah saja selalu berjalan mulus.

 


Tetapi kenyataannya,....


Tidak berjalan semulus yang saya bayangkan selama ini. hahahaha. Tugas sekolah dia sangat sepele (MENURUT SAYA) tetapi pelaksanaan untuk melengkapi tugas-tugas itu yang tantangannya sangat luar biasa. 


Ketika ada tugas dengan perintah di video, dia tidak bersedia untuk di video. Sementara ketika kamera hp off, dengan lancar dia menirukan atau mengerjakan tugas yang diperintahkan. 


Ketika ada tugas untuk menebali huruf atau garis, dia akan beralasan capek dan ngantuk. 


ketika ada tugas untuk menulis garis datar, tegak dan miring, dia beralasan tidak bisa dan tangannya pegel pegang pensil. 


Selalu ada alasan dari dia untuk menghindar dari tugas sekolah, sementara ketika bertemu dengan crayon dan gambar. Tanpa perintah dia akan mewarnai gambar tersebut. 


hadeh..... 


Merdeka Belajar

Pada akhirnya saya kembali stel kendo ke Intan terkait tugas-tugas sekolahnya. Bisa dikatakan lebih menghindari konflik yang bisa memicu ketidak nyamanan dia dalam belajar. Karena, saya lebih khawatir imbas berikutnya jika dia ada rasa trauma belajar. 


Meski begitu, saya dan papa tetap mengarahkan dia dan memberikan pengertian bahwa sekolah yang dilakukan di rumah  juga memiliki tigas yang harus dia selesaikan. Meski.... 


1. Pengumpulan tugas harus delay beberapa hari karena menunggu mood dia untuk mau di video. 


2. Mengerjakan semau dia meski bukan tugas untuk hari ini. Terpenting dia mau mengerjakan dan masih ada korelasi dari target tugasnya. 


3. Memancing dia dengan mengajak teman untuk belajar bersama. Keberadaan teman bagi Intan ternyata sangat ampuh menggugah semangat dia untuk menyelesaikan tugas. 


4. Ya sudahlah. Kalimat yang pada akhirnya sering saya ucapkan ketika memilih mewarnai dan menghubungkan gambar daripada menebali huruf atau angka. 


5. Sebagai ibu, perlu untuk menurunkan ekspektasi kita dan mengikuti ritme si anak. 



Saya merasakan sendiri bahwa membersamai Intan ternyata tidak mudah. Hahaha. Bawaannya emosi aja kalau tidak sesuai dengan apa yang saya harapkan. Meski begitu, saya masoh sangat berharap kegiatan Sekolah Dari Rumah ini segera berakhir. Karena anaknya kangen bermain prosotan, lingkaran hamtaro dan ingin sekali bertemu teman-temannya. 


Dari Intan juga saya belajar bagaimana memberikan ruang untuk dia mengenai merdeka belajar. Yang bagi saya merdeka belajar adalah bebas belajar apa saja. Mencoba hal-hal baru dan tidak terpancang pada buku. Karena saya masih sangat yakin, jiwa eksplorasi di usianya ini juga menjadi salah satu dia belajar akan hal-hal baru. 


Dari Intan jugalah saya belajar untuk mengeksplorasi gaya pengasuhan dan pendampingan ke dia. Karena model Intan ini bisa dikatakan berani speak up jetika tidak nyaman. Cepat bosan jika sesuatu itu kurang menarik bagi dia. Itulah mengapa bahwa sebenarnya Intan itu adalah guru kecil bagi saya dan papanya. Xixixixi. 


Makasih ya dek... Sudah mengajak kami belajar banyak hal. 


Semangat yuk para mama-mama dimanapun berada. Kita berjuang bersama anak-anak kita ya. Karena kembali lagi, keluarga adalah pendidikan pertama dan utama bagi setiap anak. 

No comments

Silahkan tinggalkan jejak di blog guru kecil ya. Mohon untuk tidak memberikan LINK HIDUP dalam kolom komentar. Jika memang ada,komen akan di hapus. Terimakasih;)