Edited by Chela. Powered by Blogger.

Kita Nikmati Duka Ini ya Pak, Mbak!

Kita Nikmati Duka Ini ya Pak, Mbak! ~ Lepas isya tadi, saya sengaja menghampiri bapak yang sedang duduk termenung di lorong rumah belakang. Rumah kami sudah resmi terpisah meski masih banyak tamu yang njujug rumah depan untuk bertemu dengan bapak. Saya dan suami resmi dipisah dari bapak ibu dengan dalih "mandiri", meski realitanya ibu benar-benar berpisah dengan kami. 




"Bapak sedih baca apa sing mbok tulis ning fesbuk, nduk!" Begitu yang terucap dari bapak. Lelaki tua yang saat ini menyandang status duda, dengan satpam galak yang selalu wanti-wanti agar bapak tidak macam-macam. Yang setelah ditinggal ibu, tampak kosong dan hampa karena separuh jiwanya berpulang. Siapa yang akan mengira ibu meninggalkan bapak lebih dulu. Semua tidak ada firasat apapun. Atau kami yang kurang peka, entahlah. 


Tanah kubur ibu masih basah, begitu juga dengan air mata yang sesekali masih menetes di pipi. Masih ingat betul malam itu, hari ketiga ibu koma dan drop. Kali kedua ibu masuk RS setelah isolasi 14 hari di Bangsal Flamboyan RSUD Purwodadi. Ibu datang di mimpi dengan kondisi terbaring namun mata berbinar dan berkata "La...ibu sembuh. Ibu sudah sehat". Di tengah kekalutan pikiran saya saat itu, saya masih optimis bahwasannya ibu akan segera sadar dan kembali bercanda tawa bersama kami. 


Salah satu cara yang saya lakukan untuk mengurai kesedihan adalah dengan menulis. Mungkin beberapa diantara kalian menilai saya menjual kesedihan. Tetapi saya akan tetap berdalih bahwa itu adalah salah satu cara saya bertahan karena saya dalam posisi harus menguatkan bapak, menguatkan mbak yang benar-benar down, kuat demi anak-anak, juga untuk diri saya sendiri. 


Berat memang melalui hari-hari kelam saat itu. Sampai saat ini saya masih menghindari pemberitaan tentang covid bahkan kematian akibat covid. Bahkan covid-lah yang memperparah kondisi ibu karena sudah mencapai tahap komplikasi.  Pembengkakan jantung, infeksi paru-paru, juga liver yang hepatitis. 


Tetapi melihat ibu di hari-hari terakhirnya, seolah beliau sudah tidak merasakan sakit yang di deritanya. Betapa kuatnya ibu kami, bidadari kami. Al fatihah. 


Ibu berpulang dengan penuh air mata. Seperti yang pernah ibu katakan bahwa janji ibu dengan bapak sehidup semati. Sudah ibu laksanakan. Bapak bercerita, saat kedatangan bapak pasca ibu pindah ruangan, ibu tampak tenang dan seolah tahu ada bapak yang selalu di samping ibu. Dari rumah, tidak henti-hentinya doa dilantunkan untuk ibu. Namun, Tuhan lebih sayang ibu. Dan kami harus ikhlas, lebih tepatnya mencoba dan berusaha ikhlas. 


Jika kemarin saya tampak baik-baik saja, sebenarnya justru belakangan ini saya jauh lebih terpuruk. Kesepian, kehilangan, stress, bahkan untuk menyelesaikan tahap uji kinerja PPG saja saya harus last minute dan itupun banyak dibantu teman-teman. Terberkatilah kalian teman-temanku yang baik. 


Jujur, saya merasa sangat kehilangan. Hari-hari biasa saya habiskan bersama ibu, Intan dan Tiara. Entah di kamar sambil nonton TV, di teras rumah, di halaman rumah sambil ditemani ibu menyapu guguran daun, atau kami yang jalan-jalan sore di belakang rumah sambil bergosip. Terlebih, kursi teras yang selalu ibu duduki saat jam-jam saya pulang sekolah. Dengan sabar beliau menunggu saya pulang, lalu menyambut entah yang menanyakan sebungkus es teh atau menerima jajan yang saya bawa dari sekolah. 


Lebih terasa lagi adalah si kecil Tiara. Bayi usia 4 bulan ini semenjak ibu berpulang, dia jg nampak murung. Meski dalam setiap milestone-nya seolah saya ceritakan ke ibu dan saya bagikan di sosial media. Dia seolah tahu bahwa mbah uti yang biasa menemaninya sedari lahir hingga usia 3 bulan, kini sudah tidak ada di dekat kami secara fisik. Namun ruh ibu selalu dekat dengan kami. 


Ya, kami masih berduka. Saat bapak mengenang ibu, air mata selalu membasahi pipinya. Saat solat malam, bapak selalu menyalakan HP dan memasang foto ibu seolah ibu masih berada di samping bapak, bapak selalu berucap "jauh sebelum kamu minta maaf, ibu sering bilang kalau kamu sudah ndak nakal lagi". Ahh ibu... hatimu terbuat dari apa sih, buk?


Memang, melepas orang yang sangat kita sayangi tentu tidak mudah. Berat, bagi saya ini adalah titik terendah dalam hidup. Disaat saya sedang memperjuangkan cita-cita untuk mencapai apa yang saya impikan dan diucapkan dalam doa bapak ibu. Saya harus kehilangan satu sumber keridhoan untuk setiap langkah yang saya pilih. Padahal saya berjanji akan menyenangkan ibu disaat karier saya sudah bagus. Tapi, kenapa Tuhan memanggil ibu sekarang?


Kata mbah modin yang waktu itu membersihkan tubuh ibu, kematian memang tidak bisa kita tolak. Memang ini yang terbaik buat ibu supaya tidak lagi merasakan sakit. Insyaallah buk, husnul khatimah.


***

Buk... ibuk pasti tahu kan betapa kami sangat kehilangan. Namun, seolah ibu sudah menyiapkan semuanya sebelum ibu pergi. Pesan yang ibu sampaikan ke saya, bapak yang memang tidak pernah ibu tinggal dan selalu ibu ikuti kemanapun, hingga mbak yang memang benar-benar ibu pahami kondisinya. Lihat deh buk, kami sedang berjuang untuk melanjutkan hidup. Meski sudah ada gosip di luaran sana, tapi kami tetap berjuang untuk kuat. Meski mulut mampu mengucapkan ikhlas namun hati masih terasa berat, buk.



Buk, kata Intan "sekarang mbah uti sudah ada di langit, ya mah. Deket sama Allah, ya mah." Tapi cucu yang sering ngajak ibu berantem ini sering ngomong kalau kangen ibu. Dia ngerti kalau anak ibu ini diam pasti lagi mikirin ibuk. Dan ibu pasti juga lihat kan Tiara sekarang udah pinter guling-guling. Dia pasti juga kangen sama ibuk.


Buk, sebelum ibu dimakamkan, pagi setelah solat subuh aku duduk terdiam lama. Kembali mengulas apa yang sudah kita lalui di beberapa waktu sebelum ibu sakit. ternyata ya, buk. Yang teringat adalah kebaikan-kebaikan ibu. Sampai aku nangis, buk. Dan kembali membuka jarik yang menutupi ibu. Lalu aku menangis dan bilang kalau aku ikhlas jika harus berpisah saat itu. Ibuk, terlambat aku menyadari bahwa ibuklah yang terbaik. Gapapa ya buk, ibuk sudah memaafkan aku ya. 


Kita bersedih saat ini bukan berarti ingin memberatkan langkah ibu. Namun, kami tidak mau mengabaikan rasa ini buk. Berat kehilangan bidadari di keluarga ini, tetapi memang harus menjalani episode kehidupan ini. Tenang di sana ya, buk. Meski berbeda dimensi, kami tetap menyayangi ibu. Untuk saat ini, izinkan kami menikmati duka ini ya,buk!

No comments

Silahkan tinggalkan jejak di blog guru kecil ya. Mohon untuk tidak memberikan LINK HIDUP dalam kolom komentar. Jika memang ada,komen akan di hapus. Terimakasih;)