Edited by Chela. Powered by Blogger.

Yang muda Yang Progresif, untuk Indonesia Inklusif


Tanggal 12 Agustus 2000 lalu PBB menetapkan sebagai International Youth Day atau Hari Pemuda International. Itulah mengapa bulan Agustus selain kita peringati sebagai bulan kemerdekaan RI juga dikenal sebagai bulannya pemuda. Jika kita menelisik dalam sejarah Indonesia, golongan muda yang beranggotakan para pemuda-pemuda Indonesia seperti Sayuti Melik juga berperan penting salah satunya mewujudkan kemerdekaan Indonesia, bukan.






Namun kali ini saya ingin mengulas dari apa yang saya dapatkan setelah mengikuti Talk Show bersama Ruang Publik KBR dan NLR pada hari Selasa 24 Agustus 2021 lalu. Dimana tema yang diangkat dalam memperingati International Youth Day adalah : Yang muda Yang Progresif, untuk Indonesia Inklusif. Dengan narasumber Ibu Widya Prasetianti, seorang Program Development & Quality Manager, dari NLR Indonesia, dan Ibu Agustina Ciptarahayu, Founder sekaligus CEO PT. Botanina Hijau Indonesia. 




Saya tidak menyangka bahwa sebanyak 21.84 juta atau 8.26 persen penduduk Indonesia adalah penyandang disabilitas. Kenyataannya, penyandang disabilitas -termasuk orang yang pernah mengalami kusta (OYPMK) sebagai bagian dari kelompok disabilitas- masih menghadapi kesulitan dalam upaya pemenuhan hak mereka, dikarenakan stigma dan hambatan dalam mengakses layanan umum dan layanan dasar.



Bahkan data Riskesdas 2018 menunjukkan kelompok orang muda usia 18-24 tahun dengan disabilitas (18-24 tahun) merupakan populasi disabilitas terbesar ketiga setelah kelompok usia lansia dan dewasa akhir. Mereka dapat dipandang sebagai peluang dalam mewujudkan Indonesia yang Inklusif, serta tidak sedikit inovasi dan perubahan yang digagas oleh orang muda dengan disabilitas dan OYPMK.


Yang muda Yang Progresif, untuk Indonesia Inklusif


Pengetahuan mengenai penyakit kusta memang sekilas saya baca dari poster yang tertempel pada dinding Puskesmas ketika mengantar ibu rutin periksa prolanis sebulan sekali. Melalui poster itu, yang saya ingat adalah highlight pada tulisan “Penyakit Kusta Bisa Disembuhkan”. Tetapi ternyata ada sebuah organisasi yang memang bertujuan untuk menganggulangi Kusta yaitu NLR.




NLR hadir sebagai sebuah organisasi non-pemerintah yang didirikan di Belanda pada 1967 untuk menanggulangi kusta dan konsekwensinya di seluruh dunia dengan menggunakan pendekatan tiga zero, yaitu zero transmission (nihil penularan), zero disability (nihil disabilitas) dan zero exclusion (nihil eksklusi).

Visi :


Dunia yang bebas dari kusta dan konsekuensinya; semua orang Indonesia, terutama OYPMK atau orang dengan disabilitas.
Menikmati hak-hak mereka di tengah masyarakat inklusif tanpa stigma dan diskriminasi.

Misi :

Kami mencegah, mendeteksi dan menangani kusta dan mendukung kesehatan, kemandirian dan inklusi penuh bagi OYPMK di dalam masyarakat dengan:
Memperkuat petugas kesehatan, organisasi penyandang disabilitas dan komunitas orang dengan disabilitas.
Mengedukasi masyarakat tentang kusta dan disabilitas.



Mengenai kusta bisa disimak melalui infografis yang saya ambil dari web resmi NLR Indonesia.








Dari penjelasan bu Widya juga disebutkan setidaknya 27,9% masyarakat Indonesia adalah Generasi Z yang berusia 9-24 tahun. Jika dikalukasi jumlahnya sekitar 75 juta. Nah, 5 juta diantaranya atau sekitar 21% dengan rentang usia 5 – 24 tahun adalah penyandang disabilitas yang sebagian diantaranya merupakan OPYMK atau Orang Yang Pernah Menyandang Kusta.



Banyak stigma negative yang menimpa OPYMK sehingga lebih sering mengalami diskriminasi. bahkan orang-orang enggan bergaul dengan OPYMK. Padahal kusta bisa diobati dan disembuhkan, loh. Dalam kondisi tersebut memang berimbas dimana OPYMK sulit mendapatkan pekerjaan. Sementara OPYMK tentu memiliki potensi dalam dirinya meskipun implementasi dalam dunia kerja ada batasan-batasan yang harus diberikan berkaitan dengan kondisi kesehatannya.



NLR juga memberikan ruang bagi OPYMK untuk magang dan mengasah potensi yang dimiliki. Rasa insecure tentu ada namun tidak menjadikan alasan bagi para penyandang disabilitas maupun OPYMK untuk mengasah potensi yang dia miliki. Selaras dengan penjelasan dari CEO PT. Botanica Hijau Indonesia yaitu bu Agustina Ciptarahayu bahwa penyandang disabilitas bisa sangat diandakan dimana dalam menjalankan bisnisnya beliau juga mempekerjakan karyawan disabilitas.




Dari pemaparan narasumber dan dikuatkan dengan testimony salah satu OPYMK yang saat ini juga bekerja di bawah naungan NLR Indoensia menunjukkan bahwa ketika kita bisa merangkul para disabilitas dan OPYMK, maka mewujudkan Indonesia Inklusif bisa dilakukan dengan mudah. Maka dari itu butuh edukasi merata terkait bagaimana semestinya yang harus kita lakukan kepada penyandang disabilitas dan OPYMK yang mana kontribusinya dalam masyarakat juga harus kita dukung bukan untuk dijauhi dan dikucilkan. Don’t judge book by the cover, begitu juga ketika kita memandang disabilitas maupun OPYMK. Dengan keterbatasan yang mereka miliki bisa jadi potensinya melebihi dari yang kita punya.

1 comment

  1. Izin memperkenalkan aplikasi Yoi, sebuah aplikasi untuk isi pulsa termurah, insya allah transaksi akan selalu dijaga kecepatannya.

    Deposit minimal cukup Rp. 10.000 saja melalui BCA, BRI, MANDIRI, BNI dan BSI

    Jika berminat silahkan cari aplikasi Yoi - Isi Pulsa Termurah dan Paket Internet di Play Store!

    Terimakasih

    ReplyDelete

Silahkan tinggalkan jejak di blog guru kecil ya. Mohon untuk tidak memberikan LINK HIDUP dalam kolom komentar. Jika memang ada,komen akan di hapus. Terimakasih;)