Edited by Chela. Powered by Blogger.

Bangkit dari luka batin untuk menuju performa yang lebih baik? Why not!

Bangkit dari luka batin untuk menuju performa yang lebih baik? Why not! Saya sedang berproses kok. Istilah orang Jawa adalah noto ati. Butuh waktu, kesabaran dan menikmati setiap prosesnya. Apakah saya bisa?? Ya saya sedang mengupayakan itu semua. Saya memilih bangkit!


Karena saya menyadari bahwa bagi kedua anak saya, saya ini adalah dunianya. Makanya, belajar dari pengasuhan saat Intan masih kecil, saya melahap ilmu parentingnya saja sementara dalam penerapannya masih terbayang atau malah tanpa saya sadari saya seperti  merefleksikan pengasuhan bapak ibu dulu. Dan, sangat nggak cocok untuk Intan yang harus penuh dengan kelembutan, begitupun Tiara yang sangat sensitif dengan suara keras. 




Sesi Webinar kedua dari acara Parade Happy Inner child ini mengusung tema Bangkit Dari Luka Menuju Performa dengan narasumber  Prasetya M Brata  dan Fena Wijaya. Apakah saya sudah bangkit dari luka batin masa kecil atau inner child? Ada yang sudah ada juga yang belum. Namun, saya tersadar dari apa yang dipaparkan oleh Pak Pras dimana setelah menyadari luka batin tersebut, kita diajak untuk mengambil tanggung jawab untuk memilih dan menjalani solusinya. 


Sebagai manusia kita harus menjadi pemimpin diri sendiri dan memutuskan apa yang terbaik untuk kita di kemudian hari. Tuhan telah melengkapi kita dengan fisik, panca indera, dan perasaan. Semua berperan dan saling berkesinambungan. Indera manusia menangkap sensor dari sebuah fakta, kemudian pikiran merefleksi, memberikan pengetahuan dan makna dalam menafsirkan yang terjadi. Sedangkan perasaan ikut merekam emosi yang hadir. Jadi tahu kan betapa pentingnya kita memaksimalkan potensi itu, tinggal bagaimana kita mengolahnya menjadi performa yang kita inginkan. 


Jika kita masih merasa ada yang menghalangi untuk menuju performa bahagia, kita harus bereskan hal yang menjadi penghalang tersebut. Seperti luka batin masa kecil. Memang, saya dihantui bayangan kerasnya didikan bapak ibu yang sering memukul, mencubit, membentak dan agak mengabaikan. Sehingga luka batin itu memang berdampak pada sendiri dimana saya melakukan hal yang sama terlebih kepada anak. 


Padahal luka batin karena saya diikat di tiang rumah belakang sudah terjadi disaat saya berusia 8 tahun. Namun, pedihnya, lukanya, kecewanya masih terasa sampai saya setua ini. Peristiwanya sudah berlalu namun lukanya seolah masih terus ada. Ya karena saya memberi makna atas luka tersebut. Lagi-lagi saya mengangkuk dari apa yang disampaikan Pak Pras malam itu. 


Jika sekarang ini masih luka, itu artinya luka kita ciptakan sendiri dalam pikiran. Memang  sih ya saat merasa menderita kita selalu memosisikan diri sebagai korban. Diputusin pacar, diselingkuhin, lalu kita akan terprogram seperti sakit hatinya pol-pol-an. Padahal, sebagai pemimpin diri sendiri kita bisa memilih cara yang lebih bijak dalam menyembuhkan lukanya dengan menerima perasaan yang muncul, menghargainya, dan memberikan makna baru terhadap peristiwa tersebut. 


Kitalah yang harus mengatur pikiran dan perasaan bukan sebaliknya. Karena kita lebih dari apa yang kita pikirkan. Menghadirkan inner parrent untuk melakukan reparenting inner parrent adalah solusi untuk memulihkan inner child. Peluk anak kecil dalam diri kita. Jangan berfokus pada "thing-nya" namun kitalah yang harus berfikir pada peran kita sebagai orang tua. 


Meski sesi webinar belum berakhir, saya lantas berfikir jika selama ini memang lebih berfokus pada "thing" sehingga saya lupa untuk mempersiapkan diri sebagai orang tua yang baik untuk kedua anak saya. Iya, saat tersadar setelah lepas kontrol karena kemarahan, saya seperti melihat diri saya diperlakukan seperti itu entah bapak ataupun ibu. Yang muncul adalah penyesalan. "Kok saya begini ya, harusnya bukan begini ke anak?". 


Ya, ketika saya dalam kondisi penuh amarah, Tiara akan cranky begitu juga Intan yang terlihat mencari-cari masalah sehingga saya semakin terpancing emosinya. Padahal sebagai seorang ibu, sebaiknya saya menularkan energi positif kepada anak-anak saya. 


Lha bagimana bisa menularkan energi positif jika saya saja belum bisa memeluk anak kecil dalam diri saya sendiri? Huhuhuhu


Coach Fena Wijaya mengatakan bahwa bahasa pertama di dunia ini adalah energi. Diri kita memancarkan energi yang direspon oleh alam semesta. Energi ini menarik kejadian orang-orang seperti yang kita pikirkan. Bagaimana jika kita ingin mendapatkan kebaikan? Ya pancarkan kebaikan. Pikirkan saja hal-hal yang baik dan menyenangkan. 


Terkesan simple tapi butuh kebijakan dalam mengelola energi tersebut. Diri kita adalah cinta itu sendiri dan tidak perlu mencari cinta dari luar. Coach Fena mengatakan juga bahwa dunia luar yang mendidik kita untuk selalu merasa kurang padahal sebenarnya diri kita itu sudah sempurna. Yang kita perlukan adalah dengan menerima diri kita dengan rasa syukur. Melihat kekurangan sebagain sebuah kelebihan. Sudah dilakukan, Chel??? 


Bahkan kita juga dipengaruhi oleh energi orang lain lho. Yang kita lihat berulang-ulang sejak kecil akan membentuk persepsi kita dan tertanam di alam bawah sadar. Sedari kecil saya sering melihat bapak begitu mudahnya memukul ibu, alam bawah sadar saya merekam itu semua sehingga jika Intan melakukan kesalahan saya otomatis memukulnya. Bahkan saya kecil juga tak luput dari sabetan gagang kipas atau sapu kok :'). 


Itulah mengapa yang menjadikan saya tidak ingin mengulang apa yang sudah saya alami selama masa kecil. Terlalu sakit memang jika saya terus berlarut sebagai korban karena efeknya akan tersalurkan ke Intan dan Tiara. 


We should create JOY and CUT THE DRAMA



Karena saya tidak mau menjadi penerus mata rantai style parenting dari orang tua. Tips yang dibagikan oleh Coach Fena diantaranya : 


  • Jangan judge orang tua. Terima perilakunya jangan benci orangnya. 
  • Seburuk-buruknya irang tua kita, mereka telah berusaha memberikan yang terbaik untuk kita. Ingatlah seberapa banyak kontribusi orang tua terhadap kehidupan kita. 
  • Jangan mengulang kesalahan yang sama. Jadikan pengalaman dan beri makna baru dari parenting style orang tua. 
  • Jadikan luka yang ada sebagai makna. Meski itu susah sih ya. 
  • Ubah mindset. 
  • Self love. Cintai diri sendiri. 

Well, materi dalam sesi kedua ini memang terasa banget bahwa langkah saya untuk memilih bangkit dari luka adalah satu langkah tepat. Berproses menerima inner child semenjak tahun 2019 memang bukan perjalanan yang mudah. Karena ada tujuan yang ingin saya capai yaitu saya bisa menjadi ibu yang baik dan penuh kasih untuk anak-anak saya. 


Bahkan harapan lain dari saya bisa berproses untuk berdamai dengan luka batin inner child adalah hubungan saya dengan suami bisa lebih harmonis tanpa banyak menuntut. Iya, luka batin itu seolah menuntut suami saya untuk bisa menyembuhkannya. Hahaha..  Drama apa lagi ini 🤣. 


Makanya, membaca bab per bab dari buku Luka Performa Bahagia yang ditulis mbak Intan Maria Lee dan mas Adi Prayuda memang membawa saya kembali mengenali seorang Chela kecil. Kembali membuka luka batin masa kecil dan saya menyapanya. Ada ibu di sana yang sedang bersama saya, ada ibu yang sedang gemes karena saya bandelnya minta ampun. Hahaha. Saat ini bukan lagi kemarahan yang muncul jika luka batin itu harus saya buka. Melainkan saya bersyukur, rentetan peristiwa yang terjadi membuat saya banyak belajar tentang cinta, kasih dan juga pengorbanan orang tua. 


Seperti yang tertulis dalam buku Luka Performa Bahagia. Setiap manusia mempunyai pilihan untuk bergerak untuk menuju apa yang diinginkannya, termasuk menjadi bahagia walau trauma itu terjadi. Saya ingin bahagia untuk diri saya, luka itu ada dan nyata tapi saya memilih untuk bangkit dari luka. 




Ibu... Terimakasih sudah melahirkanku ya.. Chela nggak membenci ibu meski dulu pernah bilang seperti itu, tapi aku bangga buk menjadi anak ibu. Chela berharap ibu bahagia melihat aku dari sana sekarang. 
:') 

No comments

Silahkan tinggalkan jejak di blog guru kecil ya. Mohon untuk tidak memberikan LINK HIDUP dalam kolom komentar. Jika memang ada,komen akan di hapus. Terimakasih;)