Edited by Chela. Powered by Blogger.

Memanfaatkan social media untuk menunjang pembelajaran di era pandemi

Pandemi merubah banyak sekali tatanan hidup manusia. Salah satunya dalam dunia pendidikan yang imbasnya juga saya rasakan hingga detik ini. Jika satu setengah tahun lalu mengajar langsung adalah kegiatan yang membosankan dan menguras tenaga, lelah menghadapi anak-anak dengan semua dramanya di kelas, justru menjadi hal yang saya rindukan selama ini. Selama kegiatan sekolah daring berlangsung, interaksi dan kedekatan guru dengan murid memang terasa ada tembok pembatas. Bahkan jika boleh membandingkan, saya memang jauh lebih menyukai sekolah tatap muka daripada sekolah online.



Mengapa? Karena akibat dari si virus covid-19 hingga pandemi berlangsung, tantangan yang paling berat adalah bisa tetap mengajar dengan segala keterbatasan yang saya temui di lapangan. Hambatan yang muncul itu ada saja, baik dari pihak guru maupun peserta didik. Hal umum yang membuka mata saya terkait pelaksanaan sekolah daring adalah keterbatasan fasilitas yang dimiliki oleh peserta didik, ketidaksanggupan orang tua membersamai anak dalam belajar, serta banyaknya tugas dari guru yang kurang bervariasi. FYI, saya bekerja di sebuah sekolah dasar yang terletak di desa dengan beragam kondisi keluarga di tingkatan menengah ke bawah.




Nah, dari sisi seorang pengajar, hambatan mengajar di masa pandemi ini selain dituntut untuk bisa adaptasi dalam waktu yang relatif cepat. Juga harus mampu menyajikan pembelajaran yang menarik secara daring kepada peserta didik. Nah loh!!! Terlepas dari permasalahan ekonomi, ada resiko dibalik ketidakmampuan guru menyajikan pembelajaran secara menarik di masa pandemi ini adalah adanya minat belajar yang kurang ataupun hilang dan memicu peserta didik mengalami putus sekolah.


Dari survei yang digelar Dana Anak PBB (Unicef) pada Desember 2020, menemukan bahwa terdapat 1 persen atau sekitar 938 anak putus sekolah karena pandemi di Indonesia. Di antara semua anak usia 7-18 tahun, terdapat 88% masih bersekolah, 11% putus sekolah sebelum pandemi, dan 1% anak putus sekolah sebagai dampak pandemi Covid-19. Data ini menunjukkan bahwa imbas dari pandemi terhadap pendidikan bukan hal yang bisa kita sepelekan terlebih bagi seorang pendidik.

sumber : lokadata.id



Jumlah anak putus sekolah pada tahun ajaran 2019/2020 sebesar 157.166 siswa, turun dibanding 2017/2018 yang sebanyak 187.824. Namun dikhawatirkan meningkat lagi di masa pandemi Covid-19.



Memanfaatkan social media untuk menunjang pembelajaran di era pandemi



Saya tidak memungkiri jika di awal pandemi banyak sekali mengeluh terkait bagaimana membersamai peserta didik dengan baik sementara berinteraksi saja hanya bisa saya lakukan melalui obrolan grup WhatApp kelas. Sosialisasi terkait menyajikan pembelajaran melalui google classroom juga baru saya dapatkan bulan Agustus lalu. Di masa adaptasi awal pandemi itulah menjadi titik awal yang terasa sangat berat dan ingin menyerah sebagai guru. 



Menyadari akan hal tak terduga terkait keaktifan peserta didik merespon tugas melalui grup WA, saya sibuk mencari solusi bagaimana agar mereka dapat lebih antusias dan sekolah tidak hanya sekedar guru memberi tugas dan siswa setor jawaban baik melalui foto ataupun di kumpulkan seminggu sekali di kantor.


Aha!!! Kenapa juga tidak memanfaatkan media social yang ada. Media sosial adalah sebuah media untuk bersosialisasi satu sama lain dan dilakukan secara online yang memungkinkan manusia untuk saling berinteraksi tanpa dibatasi ruang dan waktu.

Alasan memanfaatkan media social sebagai media pembelajaran :




· Memberikan pengalaman baru kepada peserta didik

Belajar melalui sebuah kanal youtube bisa jadi hal baru bagi anak-anak yang selama ini mereka hanya mengetahui fungsi dari media social tersebut sebagai media yang menyajikan banyak pilihan video. Menyajikan video pembelajaran yang dapat diakses dan disimak dengan mudah bagi peserta didik juga memiliki manfaat agar konsep belajar bisa lebih ditanamkan dengan mudah. Pengalaman baru seperti ini yang dapat memicu semangat belajar peserta didik, karena guru menyajikan pembelajaran tidak hanya monoton. Sebagai contoh, berikut ini adalah video pembelajaran yang saya buat dan saya unggah di channel youtube saya. 




· Baik guru ataupun peserta didik dapat berkreasi dengan membuat sebuah konten

Kapan lagi bisa mengajak anak-anak berkreasi di social media dan memberikan sebuah tampilan yang tidak hanya menghibur namun juga mengedukasi? Pemanfaatan media social tiktok pernah saya gunakan dan ternyata peserta didik jauh lebih menikmati dengan menyajikan tugas ataupun materi pelajaran dengan media tersebut. Contoh kumpulan tugas yang disajikan dalam bentuk konten video.




· Mengasah kemampuan berfikir kritis peserta didik

Katakanlah membuat tugas video singkat berdurasi maksimal 60 menit, peserta didik akan melalui beberapa tahapan seperti mencari ide, memikirkan konsep, mempersiapkan alat dan bahan yang diperlukan. Belum lagi ketika eksekusi dari ide mereka, hambatan-hambatan kecil pasti ada dan mereka juga harus bisa menemukan solusinya. Tidak hanya duduk dan menerima materi saja, justru peranan media social ini juga digunakan untuk menambah sumber ide dan belajar atau bahkan menghasilkan sebuah konten belajar.


· Sarana mengenali berita-berita hoax

Terkadang media social menjadi salah satu media dimana berita hoax mudah sekali menyebar. Oknum-oknum tidak bertanggung jawab inilah sengaja menyebarkan hoax yang imbasnya dapat menimbulkan perselisihan. Namun, tidak melulu termakan hoax. Mengajak anak-anak untuk dapat mengenali berita-berita hoax melalui social media ini juga salah satu alasan saya agar mereka juga tidak mudah termakan hoax. Syukur-syukur mereka dapat memberikan pengertian kepada teman-temannya yang lain atau bahkan orang di sekitarnya tentang bahaya berita hoax.


Salah satu yang dapat kita berikan agar tidak mudah percaya dengan hoax adalah mengenalkan situs berita online tepercaya seperti indozone. Indozone termasuk penyedia informasi yang selalu update setiap jamnya. Sumber beritanya jelas dan dapat dipertanggungjawabkan sehingga selain kita bisa terus update berita juga tidak khawatir dengan berita hoax.


Meski butuh effort dalam mempersiapkan pembelajaran setiap harinya selama masa pandemi, ternyata dengan memanfaatkan media social dalam pembelajaran ada efek yang tampak di diri peserta didik, seperti :

1. Minat belajar kembali “terisi” karena pembelajaran disajikan lebih bervariasi.

2. Memacu rasa kepercayaan diri anak-anak karena mereka dapat berkreasi melalui tugas yang mereka rancang dan kreasikan sendiri.

3. Anak-anak menjadi lebih banyak mengenal media sosial yang dapat digunakan sebagai pendamping belajar.

4. Memberi ruang atau merdeka belajar karena menyesuaikan tipe belajar peserta didik.

5. Merangsang anak-anak untuk dapat berfikir secara kritis.

6. Keberadaan media sosial juga menjadikan motivasi baru bagi mereka terkait cita-cita yang ingin menjadi gammers ataupun konten creator.

7. Membangun interaksi anak dengan orang tua karena dalam penggunaan media sosial harus dalam pendampingan dan pengawasan orang tua.


Penutup :

Media sosial tentu memiliki dampak positif ataupun negative. Saya mempercayai jika kita menggunakan media sosial ini dengan porsi yang pas dan disesuaikan dengan kebutuhan untuk pembelajaran, maka akan sangat memudahkan kita dalam menyajikan materi di setiap sesi pelajaran. Tak hanya itu, sebagai pendidik juga kita bebas berkreasi dengan media sosial namun tidak melupakan tanggung jawab karena apa yang sudah kita share di media sosial akan menjadi khalayak ramai.


Meski belum diketahui kapan pandemic akan selesai, terus mengupayakan menggunakan media sosial untuk kebaikan saya rasa menjadi hal yang wajib dilakukan. Ada istilah “jempolmu harimaumu!”. So, mari berkreasi dan jadikan media sosial sebagai sarana menyebarkan edukasi dan kebaikan.




sumber : 
https://id.wikipedia.org/wiki/Media_sosial
http://www.unpas.ac.id/apa-itu-sosial-media/
https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2021/04/08/dampak-pandemi-mayoritas-anak-indonesia-putus-sekolah-karena-ekonomi
https://lokadata.id/artikel/risiko-putus-sekolah-di-tengah-pandemi

No comments

Silahkan tinggalkan jejak di blog guru kecil ya. Mohon untuk tidak memberikan LINK HIDUP dalam kolom komentar. Jika memang ada,komen akan di hapus. Terimakasih;)