Edited by Chela. Powered by Blogger.

Balon Toet-Toet, Mainan Nostalgia Masa Kecil

Balon Toet - Toet ~ Tidak sengaja papa menemukan balon toet-toet ketika menaiki anak tangga di Pasar Induk Purwodadi hari Senin lalu. Kami berempat memang sengaja menjadwalkan *halah pergi ke pasar untuk membeli seragam baru. Membawa anak-anak memang melelahkan, apalagi Intan yang setiap dia lihat maunya di beli. Sementara Tiara sedang senang-senangnya bisa jalan. Bawaannya lepas gitu saja. Tanpa berpikir panjang ketika papa melihat ada balon toet-toet, dibelilah tanpa ada proses tawar menawar harga. 


Mungkin ada yang sudah lupa seperti apa mainan balon toet-toet itu. Hmm.. itu lho dua buah balon yang diikat namun ada semacam sempritan dari kertas yang jika balon kecil kita pencet-pencet akan menghasilkan bunyi "tooooeettt.... toooeettt". 


Jika masih belum ada bayangan, nih fotonya! 


Bagaimana, anak era 90an pasti kenal dan tidak asing dengan mainan ini donk? Biasanya mainan ini dulu dijajakan oleh penjual mainan keliling yang naik sepeda maupun ketika ada tontonan entah di lapangan atau di tempat hajatan. Bisa dibilang mainan ini sangat murah karena di tahun 2022 dimana setelah sekian lama saya tidak menjumpai mainan ini, saya membelinya dengan harga 3000 rupiah saja. WOW!!! 


Cuma anehnya sih penjual balon itu adalah seorang laki-laki dengan lapan pisau dan benda tajam lainnya. Dan beberapa balon seperti itu dia gantungkan di sebelah mejanya. Ah...iyaa... Ada banyak jalan menuju Roma, begitupun cara manusia untuk mendapatkan uang. Ada banyak jalan mendapatkan uang meski lapak pisaunya berjejer sangat banyak namun balonlah yang kami beli. 😂


Teringat Kenangan Masa Kecil

Pikiran saya langsung melayang dimana saya seumuran Intan. Kala itu, saya ikut ibu dan bapak pergi ke hajatan orang. Selesai njagong, saya berhenti di lapak penjual mainan dan menunjuk balon itu. Kalau tidak salah ingat saya memilih balon berwarna pink dan biru. Ibu mengeluarkan beberapa uang receh untuk membayar balon tersebut dan betapa bahagianya saya bermain dengan balon itu meski kata bapak balonnya berisik. 


Komentar yang sama ketika Intan memainkan balon itu ataupun adek Tiara yang semakin berisik semakin membuatnya bahagia. Tidak saya pungkiri bahwa kebahagiaan saya saat itu terlihat di wajah anak-anak saya. Coba hitung berapa tahun berselang dimana saya mungkin juga merasakan kebahagiaan saat ibu melihat anaknya bahagia bermain balon. 


Ya, memang kenangan akan semakin terlihat mahal dan sangat berharga ketika kita kehilangan sosoknya. Seperti ibu, membelikan mainan balon toet-toet itu karena memang uang yang kami miliki jauh lebih baik dibelikan mainan yang murah daripada mainan yang saya tunjuk. Ada proses negosiasi yang alot dan tak segan ketika saya ngeyel, sebuah cubitan mendarat di paha saya. hahahaha. 


Meski Berisik, Menjadi Penolong Bagi Saya 

Ya, berisiknya mainan balon teot-teot itu tidak selamanya merugikan. Itulah mengapa saya menuliskan ini sebagai satu cerita bahwa saya hampir saja terpisah dengan anak sulung saya di Pasar Induk Purwodadi. Lha kok bisa?


Jadi begini, di lantai dua saya awalnya memang bersama papa, Intan dan Tiara. Namun karena kondisi Tiara yang rewel akhirnya papa memutuskan untuk turun dan menunggu di parkiran. Sementara Intan lebih memilih bersama saya menunggu totalan dari penjual baju langganan. 


Singkat cerita, selesailah transaksi yang saya lakukan dan mengajak Intan untuk turun menyusul papa dan Intan. Sepanjang lorong pasar yang sempit dan penuh dengan pembeli, dia memainkan balon itu dan jangan ditanya berisiknya seperti apa. hahaha. Nah, saya berhenti untuk menawar sebuah barang namun ditengah penawaran saya teringat Intan. Gugup, IYA!!! saya langsung menyusul dimana bunyi "toooeettt....toooeettt" itu berada. Thanks God selama saya menyusul Intan, dia terus membunyikan balon tersebut dan saya membelah barisan pembeli yang sangat berdesakan. 


Beruntung saat saya sampai di tangga, sosok anak kecil membawa balon itu baru saja menjejakkan kaki di anak tangga terakhir dan berbalik arah mencari keberadaan saya. Duh, hati sudah nggak karuan karena saya takut kehebohan dan histerisnya dia jika terpisah dengan saya. Melihat saya melambaikan tangan, Intan kembali menyusul saya di anak tangga atas dan memeluk saya secara spontan. Entah, dia merasa saya khawatir yang jelas saya sangat terbantu dengan bunyi dari mainan balon yang dia bawa. 


Well, lesson learned yang saya dapatkan adalah jangan meleng ketika membawa anak di keramaian. dan alhamdulillah Tuhan masih melindungi anak saya. Dari kejadian itu, saya sering kali melarang Intan pergi tanpa pamitan dan kalaupun pergi agak lama sedikit pasti sudah saya susul. Takut bund. 


So, ditengah gencaran permainan dengan gadget, mainan yang kami bayar dengan harga 3000 sampai malam ini tulisan ini selesai masih sangat membuat anak-anak saya bahagia. Oiya, dulu balon itu juga karena keberisikannya digunakan ibu untuk membangunkan saya. Hahaha. Dan apakah akan terjadi dengan Intan besok pagi? sepertinya mempan juga hahaha. Sebagai penutup, definisi bahagia tidak harus mahal benar-benar saya dapatkan hari itu hingga saat ini. Dan aja saja ya jalannya Tuhan untuk membuat saya nostalgia masa kecil. 


No comments

Silahkan tinggalkan jejak di blog guru kecil ya. Mohon untuk tidak memberikan LINK HIDUP dalam kolom komentar. Jika memang ada,komen akan di hapus. Terimakasih;)