Edited by Chela. Powered by Blogger.

Surat Untuk Dek Ela

Hai Dek Ela,

Begitu ya dirimu akrab dipanggil oleh ibu, bapak dan mbak sewaktu kecil. Apa kabarmu, dek? Sudahkah kamu lebih bahagia? Atau kamu masih menggebu-gebu dengan tempramenmu yang sulit dikendalikan jika sedang terpancing emosi? Ah, gapapa. Jika kata mereka itu adalah karena kamu anak ragil yang suka dimanja. Dinikmati ya dek, sambil pelan-pelan yuk belajar lebih kalem lagi.

 


Dek, gimana rasanya selama ini? Capek ya? Sedih? Atau tidak terima dengan segala bentuk pemberontakan dalam dirimu itu sebagai salah satu cara supaya kamu lebih di dengar? Istirahat dulu yuk, dek. Capek loh marah-marah dan teriak terus-terusan meskipun sebenarnya kamu hanya ingin di dengarkan barang sebentar saja.


Iya aku tahu, kok. Kamu tidak bermaksud menjadi pembangkang dan anak durhaka yang sering membantah bapak ibu. Iya tahu, kamu memang kurang diberi ruang untuk didengarkan. Semua penjelasanmu juga dipatahkan karena kamu adalah anak kecil yang tidak tahu apa-apa. Gapapa, kita belajar menerima itu yuk, dek.


Jika ada bekas memerah bahkan membiru di beberapa bagian tubuhmu, ketahuilah bahwa ada kalanya bapak juga ibu lelah menghadapimu. Aku tahu bahwa perlawananmu itu adalah wujud dari kamu tidak ingin diabaikan. Tangisan-tangisanmu itu adalah ungkapan bahwa kamu takut dtinggal sendirian. Sementara bagi mereka, tangisanmu itu berisik, caper dan ya…. Bekas cubitan bahkan sabetan itu adalah salah satu bentuk wujud cinta mereka yang harus bagaimana lagi mereka utarakan. Dan sadarilah bahwa bapak juga ibu teramat sangat mencintai dan menyayangimu.


Bahkan cemoohan yang terlontar dari mulut ibu juga bapak disaat kamu tidak menuruti arahan mereka adalah ungkapan kekhawatiran bahkan kekecewaan mereka. Itu wajar kok, dek. Biasanya orang tua akan berharap banyak kepada anaknya meski terkadang mereka lupa bahwa anak adalah pribadinya sendiri. Punya jati diri dan pilihan untuk menentukan seperti apa dirinya nanti.


Nggak papa kalau kamu ingin menangis dan merengek untuk minta diperhatikan. Tenang ya, dek. Aku tidak akan lagi mengabaikanmu. Aku ada disini dan di titik ini juga kuat karenamu. Kuat karena semua hal yang sudah kamu lalui. Aku yakin itu tidak mudah, tapi lihatlah kamu bisa menjadi sehebat ini kan sekarang?


Jika sekarang aku mengajakmu untuk ikhlas menerima semua yang sudah kamu lalui, aku percaya bahwa ada kasih yang akan mengiringi kita untuk menjadi lebih baik lagi. Aku percaya bahwa kamu adalah tempaan sebagaimana bapak dan ibu ingin mempersiapkan diriku di masa kini dan masa depan. Nyatanya, cubitan, sabetan stik drum, tuntutan, tekanan dan tidak dihargai bisa kamu lewati meski dengan air mata bahkan keinginan untuk mengakhiri hidup. Coba, jika dalam sepi dulu kamu menuruti bisikan itu. Apakah kamu akan melihat dirimu berproses menjadi sehebat ini?


Nyatanya sebelum ibu pergi, beliau sering bilang ke bapak kalau dek Ela udah nggak senakal dulu lagi. Sudah sangat pinter ngopeni ibu, sayang sama ibu dan ibu tidak pernah menaruh benci dan dendam sama kamu, dek. Bahkan, ibu teramat sangat menyayangimu. Buktinya setiap pulang sekolah, ibu selalu menunggu di teras rumah. Saat ibu pergi pun wajah ibu tampak sangat cantik dan tersenyum. Aku tahu kamu sangat sedih, tapi kita tidak bisa merubah takdir itu. 


Tenang, aku akan terus bersamamu. Menggandengmu, memelukmu dan mengajakmu untuk berproses menuju bahagia. Aku tidak menyesal pernah sebegitu menyebalkan menjadi seorang anak dan adik satu-satunya. Namun, dari perjalanan itulah justru aku menemukan dirimu yang sedang terdiam sepi di sudut sisi hati tergelap. Yuk, kita sama-sama pulih meski proses itu harus naik dan turun ritmenya. Gapapa, aku nggak akan memaksamu untuk berlari. Cukup berjalan dan aku akan menggandengmu dengan kasih.

 

Untuk diriku saat ini, terimakasih karena sudah sekuat ini. Kamu hebat!



No comments

Silahkan tinggalkan jejak di blog guru kecil ya. Mohon untuk tidak memberikan LINK HIDUP dalam kolom komentar. Jika memang ada,komen akan di hapus. Terimakasih;)