Edited by Chela. Powered by Blogger.
Showing posts with label celoteh. Show all posts

Mereka dan Kesibukannya


Kali ini saya tidak akan berpanjang lebar dengan barisan kalimat. Beberapa moment yang saya rasa ini sudah mulai "biasa" mereka lakukan di kelas maupun di luar kelas. Dan entah mengapa, saya sangat menyukai manakala mereka asik dengan dunia anaknya sambil sesekali saling beradu argumen dan memerintah satu sama lain.

Sate Ayam Boncel

Sate ayam BONCEL ini adalah masakan mak lhegender yang pernah saya sajikan bersama teman-teman kuliah saya. Ini bukanlah sebuah acara perlombaan seperti master cheff atau pesanan chatering, tetapi ini adalah saat dimana saya dan teman-teman segerombolan saya merasa jenuh dengan menu anak kos. Tiap hari santapannya soto, tempe penyet, paling keren ya nasi goreng. Berawal dari ide saya kepada teman-teman “eh yok patungan sepuluhribuan buat beli daging ayam dan bumbunya. Kita masak sate ayam”. Ibarat sebuah penantian cinta, ajakan saya disambut manis dengan teman-teman yang saat itu ada 11 kepala.


Mendikte Anak?


Waktu kecil pernah nggak kita mengikuti sebuah lomba mewarnai?
Atau waktu kita sekolah dulu bapak ibu guru pernah ngajari kita mewarnai?
Kalau masih ingat pasti sering didengar dulu bapak ibu guru atau orang tua bilang “kalau daun itu hijau, tanah itu coklat, awan itu biru, blablabla”. Sebagai pengalaman saya dulu diarahkan seperti itu. Dan sampai saat ini masih melekat diotak saya kata-kata seperti itu.

Bicara soal seni dan salah satunya seni rupa, saya memang tidak jago. Tapi setidaknya saya bisa dan mengerti sedikit mengenai hal itu. Disekitar kita kalau kita perhatikan secara seksama alam itu tak melulu seperti apa yang dikatakan orang tua saya. Saya sering menjumpai awan berwarna hitam, abu-abu, ungu, orange, merah. Daun juga gak melulu hijau dan tanah juga gak melulu coklat. Pesan saya adalah jika kita mengajarkan hal kepada anak, bebaskan mereka berekspresi sesuai dengan perkembangannya.


Sebuah hal yang saya pelajari hari ini saat penyelenggaraan lomba mewarnai tadi, banyak diantara anak-anak yang berbakat mewarnai dan menggambar harus terhalang dengan kata diskualifikasi. Disayangkan memang, karena disitu saya dan teman-teman panitia terutama sie acara menemukan beberapa orang tua khususnya ibu ikut andil dalam kreasi si anak. Si ibu mendikte anak “daunnya ijo dek, langitnya biru, bajunya itu nanti kuning, goresannya kurang tebel” dan seperti itulah. Tentu dalam peraturan lomba orang tua dilarang membantu anak, tapi mungkin ini pemikiran si orang tua bahwa “anakku harus juara” namun yang ada anaknya malah menjadi korban. Dalam lomba tentu sportifitas harus dijaga, dan tata tertib ada bukan untuk dilanggar.


Saya hanya ingin berpesan kepada para Bunda hebat di negeri ini. Terkesan sok tau tapi saya juga harus belajar bahwa anak-anak itu unik. Akan sangat berdosa kalau kita menyamaratakan anak-anak yang kita hadapi. Mereka memiliki keunikan masing-masing. Begitupula dengan bakat anak pasti juga berbeda. Jangan dikte mereka untuk menjadi apa yang kita (orang tua) mau, tapi tuntun mereka menjadi apa yang mereka mau dan cita-citakan. Kata leader saya Hargai anak-anak sekecil apapun dengan begitu dirinya akan merasa orang-orang disekitarnya menyayangi dan memperhatikannya. 


Sedikit dari saya untuk orang tua hebat di negeri ini..Semoga bermanfaat :)

Salam



Benar Benar Mahal

Menjelang ujian kenaikan kelas tingkat SD saya gencar mengadakan latihan ulangan harian. Gunanya apa, saya ingin membekali mereka dan kembali mengulas pelajaran yang sudah lalu. Pas giliran pelajaran IPA saya memberikan 10 soal di papan tulis. Dan mereka harus mengerjakan di buku tumpukan bersampul coklat itu. Sengaja memang saya beri materi yang bersifat umum agar pengetahuan mereka bertambah juga.

Di papan tulis terdapat soal seperti ini “Pemerintah saat ini sedang mengadakan sosialisasi penghematan BBM. Apakah kepanjangan dari BBM?”  dan ternyata gegerlah seisi kelas itu “aduh, opo yo BBM kui?” selang berapa saat ada yang nyeletuk “kui lho belekberimesengger” dan yang lain menjawab “kui kan hp to, ora kui” dan akhirnya ada yang bertanya kepada saya yang masih menuliskan soal di papan tulis “maaf bu guru BBM itu apa re, bu?” sambil menahan tawa sayapun menjawab “maaf ya anak-anak, kalau ibu jawab sekarang namanya bukan latihan ulangan. Coba ya dikerjakan sebisa anak-anak dulu baru nanti kita bahas, OK!” serentak mereka menjawab OK dan suasana kelas menjadi sedikit hening.

Sekitar 35 menit saya memberi waktu mereka untuk mengerjakan 10 soal IPA itu. Dan tibalah saatnya untuk mencocokkan dan saya melatih kejujuran mereka dengan mencocokan pekerjaan sendiri. Satu per satu pertanyaan dijawab dengan mulus oleh anak-anak. Nah, tiba di soal “Pemerintah saat ini sedang mengadakan sosialisasi penghematan BBM. Apakah kepanjangan dari BBM?”  saya tak kuasa untuk tertawa lepas dihadapan anak-anak. “hayo anak-anak kepanjangan dari BBM adalah…” seorang anak cerdas bernama Arinta menjawab dengan lantang “Benar Benar Mahal, bu guru” langsung saya kroscek “nak, kamu mendapat jawaban itu dari mana?” alhasil sebuah rasa bangga menyeruak di dada saya. Anak itu menjawab “saya nyari sendiri bu, ya gabung-gabungin kata begitu terus dapetnya ya Benar Benar Mahal, kan pas di TV ada demo tulisannya juga kayak gitu”.

Geli rasanya mendengar penjelasan Arinta, tapi bagaimana lagi itu jawaban super seorang anak kelas 2 SD loh. Dengan sedikit menahan tawa saya menjelaskan dengan pancingan-pancingan contoh dari BBM itu. Dan akhirnya ada anak yang menjawab “BBM itu Bahan Bakar Minyak bukan sih buk? Kok itu contohnya ada bensin, solar.” Akhirnya penjelasan dari saya berbuah manis. Saya pun menjelaskan “jadi anak-anak BBM itu singkatan dari Bahan Bakar Minyak yang sekarang ini memang harganya Benar Benar Mahal. Diingat-ingat ya BBM itu adalah…” serempak mereka menjawab Bahan Bakar Minyak. Sambil berlalu saya pun menjawab Bahan bakar minyak yang benar benar mahal. Dan riuh tawa mereka menghiasi kelas yang hari itu disibukan dengan latihan ulangan harian.
 ****
Lalu, apa kepanjangan BBM menurut teman-teman?