Edited by Chela. Powered by Blogger.

A Place to Remember





bokeh di gerobag wedang ronde

Aku kembali menyelami lembaran memori di otak yang sudah ku tutup, dan aku membukanya. Waktu itu, kita dan teman-teman sedang bersama merayakan hari kelahiranku. Sebuah kado terindah yang benar-benar manis itu memang sengaja bapak ibu berikan ditambah dengan kesediaanmu menghabiskan waktu bersamaku, hari itu di ulang tahunku.


Etika Tangan Kanan


ngambil di google

Entah apa yang terjadi saat ini, apakah ini pengaruh globalisasi? Mungkin saya lagi kena virus nasionalis, eh bukan! Karena merasa janggal dan kurang pantas saja sih. Ini soal etika, dimana biasanya keluargalah yang menjadi guru utama dan paling utama mengenai sebuah etika. Selain itu peran masyarakat juga mempengaruhi etika seseorang. 

Saya ingat betul pesan bapak ibu dan pembiasaan sedari kecil. Kita biasa mengenalnya dengan etika tangan kanan. Dari dulu sudah terpatri bahwa tangan kanan lebih baik dari pada tangan kiri. Tangan kanan jauh lebih bersih dari tangan kiri,  intinya yang bagus-bagus untuk tangan kanan dan tangan kiri itu kebagian yang jelek-jelek. Kasian yah si tangan kiri.

Indonesia Hebat Melalui Peran Guru



berkibar di perahu nelayan. 
Saya selalu merinding setiap upacara di hari senin melihat bendera merah putih dikibarkan dengan iringan paduan suara khas anak-anak dan lagu Indonesia Raya. Melihat mereka berseragam putih merah lengkap dengan dasi dan topi. Berdiri tegak walau matahari menyengat (yang seharusnya sebagai cambuk yang mengingatkan kita tentang kecintaan kita kepada ibu pertiwi, tanah air kita yaitu Indonesia), memberi hormat meski saya yakin diantara mereka belum memahami apa arti dari penghormatan itu, mendengarkan pembacaan pembukaan UUD 1945 yang di dalamnya mengandung 4 tujuan bangsa Indonesia, menirukan pembacaan pancasila secara serempak, dan mendengarkan amanah dari Pembina upacara. Itulah fenomena setiap hari senin saat saya menjadi seorang siswa dan kini menjadi seorang guru. 

Mbah Wignyo

mbah Wignyo
Namanya mbah Wignyo, lelaki lanjut usia yang masih segar bugar ini berusia sekitar 75 tahun. Setiap hari beliau datang ke sekolah menemani cucu semata wayangnya yang bernama Ilhan. Ilhan belum genap 6 tahun, dan masih ingat betul di awal tahun ajaran baru kemarin mbah Wignyo datang menemui ibu kepala sekolah dan memohon ijin agar cucunya bisa ikut di kelas 1. 

Perempuanku yang Menua

kaos ibu [bukan] kaos kampanye :v
Bu,
Aku suka sentimen deh kalau disuruh cerita tentang ibu. Bukan aku nggak sayang atau gimana sama ibu, tapi aku tuh bingung harus dengan kalimat yang bagaimana aku menceritakan tentang ibu. Aku nggak pandai berpujangga atau bikin puisi romantis buat ibu. Tapi, aku tuh mending nunjukin langsung ke ibu kalau aku itu aselinya sayang banget sama ibu.